
Talia yang usianya sudah cukup besar pun mencoba memberi pengertian pada Raja agar mengerti situasi yang sedang di hadapi saat ini.
" Raja mau ikut ayah tapi Raja mau telepon ayah dulu boleh " tanya Raja sambil menunduk bahkan suaranya saja hampir tak terdengar oleh Ridzwan.
" boleh kok ! iya kan pah ?" tanya Mutia yang mengerti perasaan Raja.
Ridzwan langsung menghubungi om Wildan agar Raja tidak terlalu bersedih saat harus tinggal sementara dengannya dan juga Mutia.
" halo om.. Ridzwan lagi di rumah om dan Raja mau bicara dulu sama om sebelum Raja dan Talia ikut ke rumah Ridzwan " ucap Ridzwan.
Wildan yang paham dengan maksud anak nya pun langsung mengubah panggilan telepon menjadi video call agar Raja tau kondisi Rania ibunya saat ini.
" halo sayang.. " sapa Wildan pada kedua anaknya yang kini sudah memenuhi layar handphone nya.
" ayah.. ibu kenapa !" tanya Talia yang melihat wajah Rania yang sedang terpejam di atas tempat tidur rumah sakit.
" ibu lagi sakit, jadi Raja dan kakak tinggal dulu ya di rumah om Ridzwan biar ayah disini tenang jagain ibu " ucap Wildan menjelaskan pada kedua anaknya.
" apa Raja boleh liat ibu ?" tanya Raja yang terlihat sangat sedih.
" nanti ya kalo ibu sudah lebih sehat Raja sama kakak pasti bisa jenguk ibu " ucap Wildan.
" ya sudah sekarang Kaka sama adek ikut om Ridzwan udah malem kan ?" ucap Wildan yang langsung mengakhiri sambungan teleponnya.
Setelah melihat ibunya yang sedang sakit Raja dan Talia pun mengikuti Ridzwan dan Mutia menuju rumahnya Ridzwan.
" om.. ibu sebenarnya sakit apa sih ?" ucap Talia setelah melihat Raja yang tertidur di sampingnya.
Ridzwan dan Mutia pun saling tatap dan tak lama Ridzwan pun menjelaskan apa yang terjadi pada Rania meski hanya garis besarnya saja.
" tapi ibu ngga papa kan om ?" tanya Talia yang sangat menyayangi ibu sambungnya.
" Talia doain aja ya " ucap Mutia yang sangat kagum pada Rania yang begitu banyak yang menyayangi dan mengkhawatirkan nya.
Ridzwan pun menggenggam tangan Mutia yang sepertinya merasa insecure entah pada apa.
__ADS_1
Di rumah sakit tepatnya di ruangan Rania dimana kini Rania sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap karena kondisinya yang sudah mulai stabil, Wildan yang sudah sangat lelah pun mulai memejamkan matanya meski hanya di bangku samping yang ada di dekat Rania.
Bahkan tangannya pun masih menggenggam erat tangan Rania yang terbebas dari selang infus.
' apa sebegitu cintanya kamu sama wanita ini, sampai kamu tidak meninggalkan nya meski hanya sebentar ' ucap seseorang yang menyamar sebagai seorang perawat.
' tapi maaf cinta mu untuknya tidak akan bisa menyelamatkannya ' ucap perawat itu lagi sambil berusaha menyuntikan sesuatu pada kantong infus.
Belum juga suntikan yang iya bawa menancap di kantong infus yang tergantung, tangannya sudah berhasil di tahan oleh Rania dan tak lama mata Rania pun terbuka sambil menatap tajam wajah laki laki yang tak asing karena baru beberapa jam yang lalu wajah itu muncul di layar handphone.
" apa yang ingin kamu lakukan ?" ucap Rania yang masih mencengkram kuat tangan laki laki itu.
Wildan yang mendengar suara istrinya pun langsung terbangun tapi sungguh di luar dugaan dimana di sebrang dirinya tepatnya di samping kana Rania berdiri laki laki berpakaian perawat rumah sakit sedang tangannya di Cengkram erat Rania.
" hei.. siapa kamu " belum selesai Wildan mengitari tempat tidur Rania orang tersebut menggunakan tangan satunya yang terbebas dari cengkraman Rania dan mengambil alih suntikan dan langsung menancapkan nya pada kantong infus Rania.
Wildan yang melihat itu tanpa pikir panjang meninju wajah laki laki itu dan menarik paksa kantong infus dari selang yang mengalir ke tangan Rania.
" arrhhh " Rania menjerit karena tarikan selang infus itu melukai tangannya yang masih menempel.
" sayang kamu ngga papa " ucap Wildan tapi apa yang di lihat membuatnya semakin khawatir dimana nafas Rania mendadak tidak beraturan.
Sedangkan laki laki tersebut kini sedang mencoba bangkit pun tanpa sengaja menginjak kantong infus yang langsung menyadarkan Wildan jika laki laki tersebut harus bisa iya amankan.
" siapa kamu ?" tanya Wildan sambil menarik masker yang di pakai laki laki tersebut.
Tapi dis Aat yang bersamaan masuklah beberapa suster dan juga dokter yang tadi mendengar kegaduhan di kamar Rania pun langsung memberikan pertolongan pertama pada Rania yang terlihat kesulitan bernafas.
Wildan merasa sedikit lega karena Rania sudah ditangani jadi dirinya bisa fokus mengurus laki laki yang berusaha menyakiti istrinya.
" anda... " ucap Wildan saat mengenali wajah orang yang berusaha menyakiti Rania.
" bukankah anda suami dari Tante Lucia ?" tanya Wildan yang tidak pernah berfikir jika ayah tiri Rania bisa melakukan hal seperti ini.
pak wilman pun langsung melepaskan tangan Wildan yang dari tadi mencengkram kerah bajunya.
__ADS_1
" ya ini saya " ucap Wilman angkuh tanpa rasa bersalah.
" apa salah Rania om sampai om tega melakukan itu sama Rania ?" tanya Wildan yang seolah lupa dimana dirinya berada.
" maaf pak sebaiknya bawa bapak ini ke kantor polisi saja agar tidak menggangu kenyamanan pasien " ucap dokter yang sudah berhasil menangani Rania dan bisa menyimpulkan apa yang terjadi hanya dengan melihat kondisi ruang rawat Rania saja.
" anda benar dokter, saya titip istri saya sebentar karena saya sendiri yang harus memasukannya ke dalam penjara" ucap Wildan sambil menarik paksa tangan om Wilman.
" mas.. " Tante Lucia yang baru saja kembali dari kantin rumah sakitkarena merasakan firasat yang tidak baik pada Rania pun tak percaya jika suaminya ada di dalam ruangan Rania bahkan sedang di tarik paksa oleh wildan.
" kamu kenapa ada di sini mas ?" tanya Tante Lucia yang mencoba melepaskan tangan Wildan dari suaminya.
" suami anda yang tercinta ini berusaha membunuh Rania " ucap wildan tanpa melepaskan cengkraman tangannya dari Wilman.
Tante Lucia pun mematung menatap tak percaya dengan apa yang di katakan suami anaknya Dyandra dan kini tatapannya beralih pada Rania yang masih menggunakan selang oksigen untuk mengatur nafasnya.
" dan maaf Tante saya harus membawa suami Tante ke kantor polisi karena ini sudah termasuk tindak pidana " ucap Wildan yang langsung kembali menarik paksa Wilman keluar ruangan Rania.
" sayang... kamu ngga papa nak ?" tanya Tante Lucia yang sudah duduk di kursi samping tempat tidur Rania.
Rania membuka matanya saat mendengar suara bundanya yang sebenarnya sangat iya rindukan selama ini.
" Bun... bunda... harus berapa kali kali Dyandra terpisah dari bunda .. " ucap Rania yang sudah berlinang air mata.
" belum cukupkah luka yang selama ini Dyandra rasakan selama ini jauh dari bunda.. " ucap Rania lagi.
" maafkan bunda sayang...
✍️✍️✍️apa Tante lucia sudah benar benar sadar jika suami yang selama ini iya cintai itu adalah orang yang sangat jahat😒😒
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya.
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya.
Love you moreeeee 😍😍🌹
__ADS_1