
wajah Wildan merah padam saat mendengar apa yang baru saja di sampaikan anggota kepolisian yang di hubungi nya.
" gimana Wil.." tanya bunda Lucia yang melihat wajah Wildan yang terlihat menahan amarahnya.
" pak Wilman di bebaskan dengan jaminan dari seorang wanita " ucap Wildan sambil menatap ke arah Bunda Lucia.
" siapa kira kira ?" tanya Wildan yang bertanya pada orang orang yang ada di sana.
" apa bunda tau ?" tanya Dito tapi bunda Lucia hanya menggeleng karena memang Bunda Lucia tidak mengetahui wanita di sekeliling mantan suaminya.
Lain halnya di sebuah rumah yang di tinggali pak Wilman yang ada di pinggir kota tapi tak mengurangi kenyamanan yang di rasakan olehnya.
" bagaimana apa ada kabar yang bisa membuat ku bahagia ?" tanya pak wilman saat Vito datang menemui nya.
" saat ini Rania masih dalam keadaan kritis tapi bapak tenang saja " ucap Vito yang langsung di berondong pertanyaan saat tiba di kediaman atasannya.
" saya yakin Rania tidak kan selamat kali ini" ucap Vito penuh keyakinan.
" bagus.. tapi apa kamu yakin tidak ada yang melihat aksi yang kamu lakukan ?" tanya pak Wilman yang tak ingin usahanya kali ini berimbas padanya lagi.
" saya jamin pak " ucap Vito sambil melihat sekeliling.
" dia tidak ada di sini " ucap pak Wilman yang tau siapa yang dicari oleh Vito.
Wildan hanya bisa menatap Rania dari kaca jendela sambil berdoa semoga apa yang Rania alami kali ini benar benar yang terakhir, hingga doa dari orang orang tersayang membuat Rania akhirnya tersadar.
" suster... suster... Rania membuka mata " ucap wildan yang langsung memberitahukan kondisi Rania pada suster dan dokter jaga, dokter pun langsung melakukan pemeriksaan pada Rania untuk memastikan jika Rania baik baik saja.
Rania hanya menatap sekeliling seperti sedang mengenali sekeliling.
" nyonya Rania ?"
" apa yang anda rasakan ?" tanya dokter sambil terus memeriksa Rania tapi Rania hanya diam tanpa menjawab apapun.
" dok boleh saya masuk ?" tanya Wildan saat melihat dokter keluar dari ruangan Rania.
" silahkan.. " ucap dokter singkat sambil menemani Wildan untuk melihat reaksi Rania karena dokter mencurigai sesuatu.
" sayang.. " ucap Wildan sambil memeluk Rania yang kini sedang duduk bersandar sambil terus memperhatikan sekeliling.
" anda siapa ?" tanya Rania sambil mendorong Wildan yang masih memeluk nya.
" sayang.. " Wildan tidak percaya dengan apa yang di katakan Rania bahwa Rania melupakan dirinya.
" anda siapa.. Bu.. ibu... " Rania terus berontak memanggil seseorang yang iya anggap ibu selama ini.
__ADS_1
" Bu... ibu dimana ?" Rania terus menyisir sekeliling mencari wanita yang selalu menemani nya selama ini.
Wildan yang berpikir Rania mencari bunda Lucia pun langsung berlari keluar memanggil ibu mertuanya.
" Bun... Rania mencari bunda " ucap Wildan dengan wajah yang sulit di gambarkan.
Bunda Lucia bergegas masuk di ikuti oleh Wildan sedangkan dokter sedang menanyai Rania untuk memastikan dugaannya.
" sayang.. " ucap bunda Lucia yang langsung memeluk Rania penuh rasa haru karena bisa melihat Rania yang terlihat baik baik saja.
" lepas... anda siapa ?" tanya Rania sambil mendorong pelan pundak bunda Lucia.
" Bu... ibu.... ibu dimana ?" tanya Rania terus terusan memanggil seseorang, Wildan dan bunda Lucia saling tatap dan tak lama tatapan mereka beralih pada dokter yang sedang menangani Rania.
" mungkin pasien mengalami hilang ingatan " ucap dokter.
" tapi kita harus memeriksa lebih lanjut apakah ini amnesia permanen atau hanya amnesia sementara " ucap dokter lagi.
Wildan tak percaya jika Rania melupakan dirinya, tapi Wildan tidak ingin berputus asa atas apa yang terjadi pada Rania dan Wildan pun seketika teringat akan kehamilan Rania yang baru saja iya ketahui.
" tapi dok, bagaimana dengan kondisi kehamilan nya ?" tanya Wildan yang tentu saja terdengar oleh Rania.
" hamil.. " seketika Rania mengingat kejadian dimana dirinya terjebak saat ingin menolong seorang laki laki.
" andai saja aku tidak menolongmu waktu itu aku tidak akan mengandung anakmu" ucap Rania terus meracau, sedangkan Wildan yang mendengar racauan Rania langsung tersadar akan siapa yang Rania maksud.
" pak.. tolong panggilkan ibu saya... " ucap Rania memohon pada wildan.
" sayang ini bunda " ucap bunda Lucia sambil berurai airmata.
" pak.. tolong panggilkan ibu saya.. " ucap Rania yang malah mengacuhkan bunda Lucia.
" sayang ... ini bunda kamu..." ucap Wildan.
" bunda lucia " ucap wildan lagi.
" sebenarnya anda siapa ? kenapa anda terus menyebut dia itu bunda saya " tanya Rania yang mulai tidak nyaman dengan panggilan sayang yang di ucapkan Wildan padanya dan mulai bingung dengan yang di sampaikan Wildan padanya.
Wildan merasa sangat sedih mendengar Rania menanyakan siapa dirinya.
" saya suami kamu Wildan " ucap Wildan.
" suami... saya..." ucap Rania sambil menunjuk pada dadanya, sedangkan Wildan langsung mengangguk sambil mencoba menggenggam tangan Rania.
Tapi Rania langsung menarik tangannya sebelum Wildan berhasil menggapai tangannya.
__ADS_1
" tidak.. mana mungkin anda suami saya sedangkan saya hamil oleh laki laki pengecut itu " ucap Rania, dan juga tak lama tatapan Rania beralih pada bunda Lucia.
" bukan.. anda bukan ibu saya "
" ibu saya bernama Bu Kanaya pemilik panti asuhan " ucap Rania penuh keyakinan.
" maaf pak .. Bu.. sebaiknya biarkan pasien untuk beristirahat, jangan memaksakan ingatan pasien yang mungkin akan berdampak buruk pada pasien " ucap dokter yang masih memantau kondisi Rania.
" dan kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat " ucap dokter, wildan dan bunda Lucia melangkah keluar dengan wajah yang terlihat lesu.
" yah.. bagaimana keadaan ibu " tanya talia yang sebenarnya ingin sekali ikut masuk.
" ibu akan di pindahkan dulu ke ruang rawat inap " ucap Wildan yang tak tega memberitahu keadaan Rania pada putrinya yang begitu sangat menyayangi Rania.
" tapi ibu baik baik saja kan ?" tanya Talia yang masih penasaran, Wildan melihat putrinya lalu mengusap rambut Talia yang terurai indah.
" kita doakan saja " ucap Wildan.
" Wil... apa kamu tau dimana panti asuhan Rania dulu ?" tanya bunda Lucia yang hanya ingin putrinya segera sembuh dan kembali mengingat dirinya.
" Wildan ngga tau Bu..tapi mungkin Ridzwan tau " ucap Wildan yang langsung mencoba menghubungi Ridzwan dan berharap Ridzwan masih mengingat dimana panti asuhan Rania dulu.
" memang kenapa yah ?" tanya Talia.
" sebenarnya apa yang terjadi pada Dyandra?" tanya om Cakra yang masih menunggu kabar keponakan yang baru saj iya temui.
" Rania mengalami amnesia " ucap Wildan sambil menunggu sambungan telepon nya pada Ridzwan tersandung.
Talia yang mendengar pun langsung terhuyung kebelakang tapi dengan sigap Dito meraih tubuh Talia agar tidak terjatuh.
" jadi ibu ngga ingat sama Talia dan Raja ? " tanya Talia yang masih di pegangi oleh Dito, sedangkan Wildan hanya menggeleng.
" ibu lupa sama Raja.... " tanya Raja dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
" ibu pasti ingat sama Talia dan Raja, tapi ibu butuh waktu " ucap Wildan memberi pengertian pada putra putrinya.
" halo ridz.. apa kamu masih ingat panti asuhan Rania dulu ??
✍️✍️✍️ apa Ridzwan masih mengingat nya ??🤔🤔
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya.
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya.
love you moreeeee 😍😍🌹
__ADS_1