
Rania menatap wajah suaminya seolah meyakinkan jika apa yang iya dengar adalah hal yang nyata.
Dyandra nama itu terus terngiang di telinga Rania bahkan kini air matanya pun turut lolos dari sudut matanya, Wildan yang melihat itu langsung berdiri dan mendekap kepala Rania agar bersandar di dadanya.
" kamu anak bunda " ucap Tante Lucia sambil menggenggam tangan Rania yang masih ada di atas meja.
Tapi tanpa di duga Rania menarik tangan yang masih di genggam oleh wanita itu.
" sayang.. ini bunda " ucap Tante Lucia yang begitu terluka melihat penolakan yang Rania tunjukan padanya.
" mas.. Rania mau pulang " ucap Rania sambil bangkit dari duduknya tanpa menjawab ucapan wanita itu.
Wildan tidak tau harus berbuat apa tapi mungkin untuk saat ini Rania yang harus iya prioritas kan dan jika memang Tante dari mutia itu adalah ibu dari Rania maka tidak akan ada yang bisa merubahnya.
" maaf Tante biar saya yang akan bicara perlahan pada Rania, jadi biarkan kami pergi dulu " ucap Wildan sambil meraih tangan Rania agar bisa iya genggam.
Rania hanya bisa tersenyum yang entah senyum apa yang di berikan Rania pada wanita yang ada di hadapannya itu.
Tante Lucia pun hanya bisa menatap kepergian Rania yang iya yakini adalah anaknya yang hilang, meski harus ada pembuktian secara klinis tapi melihat wajah dan juga kalung yang Rania gunakan membuat keyakinan begitu besar.
Mutia yang melihat itu semua dari jauh bisa menyimpulkan jika apa yang iya rencanakan tidak berjalan lancar malah terkesan gagal.
" sabar sayang.. mungkin Rania membutuhkan waktu mencerna informasi yang baru saja iya terima " ucap Ridzwan yang tau jika Mutia merasa sedikit bersalah.
" dan aku yakin om Wildan pasti bisa memberikan pengertian pada Rania tentang semuanya " ucap Ridzwan sambil merangkul pundak Mutia yang kini sudah menjadi istrinya.
Tante Lucia tampak lesu melihat kepergian Rania dan juga laki laki yang tidak tau siapanya Rania tapi jika melihat semuanya, iya yakin jika Rania dan laki laki itu begitu dekat dengan Rania putrinya.
Rania yang baru saja tiba di mobil Wildan pun hanya bisa menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil sedangkan Wildan menyusul Talia dan juga Raja yang memang masih ada di dalam sana.
" ayah.. ibu mana ?" tanya Raja yang hanya melihat ayah nya yang mendekati dirinya dan juga Talia.
" ibu sudah di mobil, ayo kita pulang ?"ucap Wildan sambil menuntun Raja sedangkan Talia mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Kini Wildan sudah mengemudikan mobilnya menuju rumahnya sedang kan sedari tadi Rania hanya diam tanpa mengatakan apapun.
Raja dan juga Talia pun hanya diam seolah memberi ruang pada ibu mereka yang sedang ingin sendiri.
" ayo sayang kita turun " ucap Wildan sambil mengulurkan tangannya pada Rania yang hanya diam tanpa ekspresi apapun.
Rania menyambut uluran tangan suaminya dan mengikuti kemanapun suaminya membawa dirinya.
" kak jaga adik ya.. ada yang harus ayah bicarakan sama ibu " ucap Wildan sebelum menutup pintu kamarnya dengan Rania.
" iya yah " ucap Talia tanpa banyak bertanya, Wildan pun langsung masuk ke kamarnya setelah Rania masuk lebih dulu bahkan Rania sudah merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya.
" sayang.. cerita sama mas apa yang kamu rasakan saat ini " ucap Wildan yang sudah mendudukkan diri disamping Rania.
Karena tidak ada respon apapun dari Rania, Wildan pun ikut merebahkan tubuhnya setelah masuk ke dalam selimut yang pakai.
" sayang... jangan pernah memendam perasaan " ucap wildan yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher rania.
" keluarkan semua yang kamu pendam selama ini, meski semuanya terasa berat tapi mas yakin kamu pasti bisa melewati nya " ucap Wildan sambil membelai lembut punggung Rania.
Rania hanya menangis dalam diam di pelukan suaminya tanpa ingin menceritakan apa yang iya rasa saat bertemu wanita yang mengaku sebagai ibunya.
Wildan pun mencoba memahami jika Rania tidak ingin menceritakan apapun padanya, lain halnya dengan Tante Lucia yang semakin memikirkan bagaimana caranya agar Rania bisa menerima kehadiran dirinya dan bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Acara pernikahan Ridzwan dan juga Mutia pun baru saja selesai yang tersisa hanya keluarga Ridzwan dan juga Mutia bahkan mereka semua kini sedang berada di rumah Mutia menikmati acara keluarga mereka agar lebih akrab lagi.
" mut.. bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi ?' tanya mama lyra pada putrinya sedangkan Tante Lucia masih saja diam bahkan lelehan air mata masih saja mengalir di sudut matanya.
" Rania istrinya om Wildan pamannya Ridzwan itu adalah anak Tante Lucia yang hilang " ucap Mutia.
" saya yakin mas, jika Rania itu Dyandra anakku yang hilang dua puluh tahun yang lalu" ucap Tante Lucia.
" kenapa kamu bisa seyakin itu apa karena liontin yang di pakai Rania ?" tanya ayahnya Mutia mulai menebak.
__ADS_1
" iya mas, Lucia yakin jika dia adalah Dyandra anakku yang hilang " ucap Tante lucia.
" tapi bagaimana jika Rania hanya menemukan liontin itu atau mungkin dia membeli nya dari toko perhiasan ?" ucap salah satu keluarga Ridzwan.
" Nadia benar, kita harus membuktikan terlebih dahulu apa benar Rania itu anak mu yang hilang dua puluh tahun lalu atau bukan " ucap salah satu keluarga dari pihak Mutia.
" tapi bagaimana jika Rania menolak untuk melakukan tes kecocokan dengan Tante Lucia, bukankah itu akan membuat jarak di antara keduanya semakin jauh " ucap Mutia yang tidak setuju dengan apa yang di minta oleh tantenya yang lain.
" dia harus melakukan serangkaian tes terlebih dahulu sebelum bisa masuk ke dalam keluarga kita " ucap Tante Mutia yang lain.
Mutia hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah tantenya yang memang selalu memandang seseorang melalui kastanya.
" jika Mutia boleh menyarankan jangan melakukan hal yang bisa menyakiti perasaan Rania karena kalian tidak pernah tau apa yang pernah lalui dalam hidupnya selama ini " ucap Mutia yang memang sangat yakin jika Rania itu saudara sepupu.
" SUDAH CUKUP " ucap Tante Lucia sambil menutup kedua telinganya Karen tidak ingin mendengarkan pendapat orang lain.
" biar Lucia yang memutuskan apa harus melakukan tes atau tidak terhadap Dyandra " ucap Tante Lucia sambil meninggalkan semuanya dan memilih memasuki kamarnya yang sudah di siapkan oleh kak lyra setiap kali dirinya menginap di sini.
Mutia dan Ridzwan pun memilih meninggalkan keluarga menuju kamar Mutia yang sudah di hias sedemikian rupa agar bisa meninggalkan kesan bagi keduanya.
" Tante Lucia " ucap Mutia menghentikan langkah tantenya yang sudah membuka pintu kamar nya.
" Mutia harap Tante tidak akan melakukan hal yang bisa menyakiti perasaan Rania yang mungkin sudah memendam luka lebih dari lima belas tahun tahun "
" apa maksud kamu sayang "
✍️✍️✍️ apa yang akan Tante Lucia lakuan kedepannya 🤔🤔
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya.
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha lebih semangat lagi.
love you moreeeee 😍😍🌹
__ADS_1