
Tak pernah terbayangkan oleh Wildan jika dirinya dan Rania bisa bersama bahkan Ridzwan sendiri yang mengalah dan membiarkan dirinya menikah dengan Rania wanita yang sangat iya cintai.
" kamu serius ?" tanya Wildan yang langsung dapat anggukan yakin dari Ridzwan.
" Ridzwan yakin om dan untuk saat ini kebahagiaan Rania dan Raja adalah hal yang penting bukan karena Ridzwan mencintai Rania, tapi selama Rania bahagia itu berdampak baik untuk kesehatan psikologis Ridzwan " ucap Ridzwan yakin.
Wildan pun merasa lega karena Ridzwan tidak mencintai Rania dan sudah bisa mengambil keputusan yang tidak menghancurkan kebahagiaan Rania dan Raja.
" terus kapan om harus memberitahu Rania akan kabar gembira ini " ucap Wildan yang sebenarnya sangat tidak sabar untuk memberitahu pada Rania dan juga Raja yang pastinya mereka akan sangat bahagia.
" besok aja om.. ini sudah malam " ucap Ridzwan yang merasa lucu melihat om nya yang sangat tidak sabaran.
" baik lah.. dan om harap kamu tidak kan berubah pikiran nanti kedepannya " ucap Wildan mengantisipasi.
Ridzwan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat om nya yang sangat ketakutan Rania di rebut kembali oleh nya.
" om tenang saja ular sanca Ridzwan sudah kembali bangun bahkan sebelum menikah dengan Rania " bisik Ridzwan pada om nya karena Talia ada di sana.
Talia memeluk Ridzwan untuk mengungkapkan rasa bahagia nya karena Ridzwan sudah mengembalikan kebahagiaan yang pernah iya ambil.
" makasih om udah kembalikan ibu Talia dan juga adik Talia " ucap Talia yang masih memeluk Ridzwan sedangkan Ridzwan hanya mengucap lembut rambut Talia karena memang iya sudah menganggap Talia sebagai adiknya.
" sama sama.. " ucap Ridzwan yang merasa lega telah mengambil keputusan yang tepat untuk semuanya.
" kalo gitu Ridzwan pamit karena harus memberitahu kan semuanya pada ayah dan ibu juga eyang " ucap Ridzwan sambil berjalan menuju keluar rumah.
Wildan dan Talia pun mengantar Ridzwan dengan hati yang teramat bahagia, Lain halnya dengan Rania yang masih berharap tidak harus menikah dengan Ridzwan.
" ya tuhan hamba pasrahkan semuanya padamu.. jika memang takdirku menikah dengan Ridzwan maka berikan Hamka keikhlasan menerima nya sebagai suami hamba "
Doa Rania dalam hati karena entah harus bagaimana menghadapi semuanya seolah hanya jalan buntu yang ada dalam pikiran nya.
Rania memejamkan matanya dan berharap hari esok bisa menemukan jawaban dari setiap dia yang iya pinta setiap malam.
__ADS_1
Begitu juga Wildan yang kini sedang berusaha memejamkan matanya, berharap hari segera berlalu agar iya bisa memberitahu Rania jika mereka bisa bersama dalam ikatan pernikahan.
Pagi kini sudah menyapa setiap insan di seluruh penjuru dunia, seperti halnya Rania yang baru saja membuka mata saat mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumahnya.
" memang ini jam berapa ? " tanya Rania ada dirinya sendiri sambungan melihat ke arah jam yang ada di atas meja nakas samping tempat tidurnya.
Rania pun bangun karena ingin melihat siapa yang datang sepagi ini karena ini masih jam setengah enam pagi, Rania langsung membuka pintu saat yakin jika mobil yang berhenti di hadapan rumahnya adalah mobil orang yang sangat iya kenali.
" kenapa mas Wildan datang sepagi ini " ucap Rania sambil menuju pintu depan karena sudah mendengar ketukan pintu dari luar.
" ibu.... " sapa Talia sambil memeluk Rania yang baru saja membuka pintu, jangan kalian pikir jika Rania sempat mandi tampilannya saja masih acak acakan.
" kakak.. emang ngga sekolah.. kok kesini pagi pagi ?" tanya Rania yang heran dengan kedatangan ayah dan anak meski sebenarnya iya sangat senang melihat keduanya ada di hadapannya.
" Talia ngga sabar ingin ketemu kamu " ucap Wildan sambil mengikuti dua wanita yang paling berarti dalam hidupnya.
" kakak...ayah... " ucap Raja yang baru saja keluar dari kamarnya.
" anak ayah " Wildan langsung meraih Raja dan menggendong nya.
" kakak sama adik tunggu di sini dulu ya, ada yang harus ayah bicarakan sama ibu " ucap Wildan sambil menarik tangan Rania menuju kamar Rania.
" ada apa mas.. ?" tanya Rania yang heran dengan sikap Wildan semenjak datang tadi.
Wildan langsung memeluk Rania setelah mereka ada di kamar Rania.
" kamu ngga akan percaya dengan apa yang akan mas sampaikan " ucap Wildan yang sudah melepaskan pelukannya pada Rania.
Ridzwan mengizinkan kita untuk bersama dan menikah " ucap Wildan tapi Rania masih diam terpaku seolah apa yang di dengar hanya khayalannya saja.
" ran... kamu dengar mas kan ?" ucap Wildan sambil memegang kedua pundak rania.
" kita akan menikah.. dan Ridzwan tidak akan kembali mengusik kamu dan hubungan kita " ucap Wildan lagi.
__ADS_1
Rania masih belum mengatakan apapun, hanya air mata yang menjawab semua yang Wildan ucapkan, sedangkan Wildan membantu menghapus air mata Rania yang masih mengalir di kedua pipinya.
" kenapa kamu malah menangis ?"
" apa kamu tidak bahagia dengan kabar yang mas berikan ini " ucap Wildan tapi Rania hanya menggeleng dan Langsung memeluk Wildan dengan sangat erat seolah meyakinkan dalam hatinya jika apa yang di dengarnya adalah kenyataan.
" Rania ngga mimpi kan mas ?" tanya Rania yang masih tidak percaya meski pelukan hangat itu sudah membuktikan jika apa yang di hadapannya adalah benar.
" apa harus mas telepon Ridzwan agar kamu yakin jika yang kamu dengar itu benar ?" ucap Wildan yang masih di peluk Rania hingga dirinya bisa meletakkan dagunya di puncak kepala Rania.
" ngga .. Rania percaya karena Rania yakin mas tidak akan berbohong untuk hal yang sensitif ini " ucap Rania penuh keyakinan.
" ya sudah sana mandi gih bau asem tau " ucap wildan yang masih belum melepaskan pelukan nya pada Rania.
Rania yang tersadar jika dirinya belum mandi pun langsung melepaskan pelukannya dari wildan. Rania pun berlalu menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri sedangkan wildan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Rania yang sepertinya sangat malu.
" mas janji akan berusaha selalu membahagiakan kamu sayang " ucap Wildan sambil merebahkan diri di atas tempat tidur Rania agar bisa mencium bau harum tubuh Rania.
Tapi tak lama Wildan keluar dari kamar Rania karena bagaimana pun antara dirinya dan Rania belum ikatan yang sah.
" gimana yah reaksi ibu ?" tanya Talia yang mengerti jika tadi ayah nya ingin menyampaikan kabar yang mereka dengar semalam.
Wildan hanya memberi simbol ok dengan menyatukan jari jempol dan telunjuk nya,
" lalu kapan ayah akan menikah dengan ibu ?" tanya Talia yang sudah tidak sabar untuk bisa tinggal satu rumah dengan ibu dan adiknya.
" seminggu lagi " ucap wildan tapi siapa sangka saat mengucapkan itu berbarengan dengan Rania yang baru saja ikut bergabung.
" apa mas ?? seminggu ??
✍️✍️✍️ apa Rania akan setuju karena di beri waktu satu Minggu oleh Wildan untuk menyiapkan semuanya??🤔🤔
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha lebih semangat lagi.
Love you moreeeee 😍😍🌹