DILARA LOVE

DILARA LOVE
Bagian Sebelas


__ADS_3

Aku sudah tak sabar untuk segera pulang ke rumah. Mobil SUV ku berjalan cukup cepat hingga hanya butuh waktu 30 menit sampai di rumah.


" Assalamualaikum mah " aku membuat asal tas di tanganku


" Eh anak mama dah pulang yah, cepet gih mandi dulu " Mama terlihat bahagia


" Mah,, Alhamdulillah kerjasamanya berhasil " kataku semangat.


" Iyah.. Mama dah tau " Mama mengelus rambut panjangku


" Loh kok dah tau si " aku terheran mendengar jawaban Mama


" Iya tadi karyawan Papa nelpon dan memberikan informasi kalau kontraknya berhasil " Mama menjelaskan


" Yaahh...Lara telat dong Mah " ku manyunkan bibirku 5 senti


" Enggak dong sayang...Mama bangga banget sama kamu " Mama memelukku penuh kasih sayang dan aku dapat melihat gurat kebahagiaan disana, ahhh leganya.


" Oya Mama hampir luapa, tadi pacar kamu dateng loh de, ganteng..trus dia ijin ke Papa mau melamar kamu " Mama tak henti berbicara saking senengnya dan aku cuma melongo dan kanget mendengarnya.


" Pacar ??? Siapa ? " Kataku heran, tak mungkin Axel kesini karena selama ini dia bahkan belum tau alamat rumahku di Bandung selain itu tak ada yang tau kalau sekang aku sudah memiliki pacar.


" Dihh pacar sendiri lupa si anak Mama" Mama berlalu kedapur dan aku terus mengikuti dibelakang


" Mama jangan bercanda deh"


" Kalau gak percaya tanya Papa aja sana, tadi Mama nguping mereka bicara serius banget deh de " Mama membuka Ponsel miliknya dan membuka folder foto


" Ini Mama tadi sempat mencuri fotonya "


Mama menunjukkan foto lelaki tampan yang sangat aku kenal. Yah benar dugaanku tadi, lelaki yang diceritakan Mama adalah Daniel.


" Dihh apa-apaan neh orang" dengusku kesal dan marah


Ku ambil ponselku yang ada di saku celana, ku pencet nomor Daniel.


" Eh Katanya mau makan de " Mama memanggilku karena aku buru-buru pindah ke kamar untuk menelpon Daniel


" Bentar Ma, Lara mandi dulu " kataku berbohong.

__ADS_1


Daniel memiliki banyak nomor yang ia pakai menghubungiku. Walaupun banyak yang sudag aku blokir tapi masih ada nomor yang belum sempat aku blokir jadi nomor itu yang aku hubungi.


" Hallo, bisa bicara dengan Daniel " kataku di balik telepon


" Maaf anda salah sambung " kata seorang perempuan di balik ujung telepon.


Bener-bener Daniel nyebelin, awas aja tuh orang, gumamku melempar ponsel ke atas kasur.


Setelah selesai mandi dan bersih-bersih muka, Papa mengajakku ke ruang kerjanya untuk membicarakan hal penting.


" De, kamu tahu kan perusahaan Papa sedang dalam masalah" aku mendengar perkataan Papa serius " satu-satunya perusahaan yang mau membantu Papa adalah Global Corp yang merupakan anak dari perusahaan Durrant Group dan mereka mengajukan persyaratan." Papa melanjutkan perkataannya


" Persyaratan " kataku heran


" Iyaa, mereka juga ingin menyatukan hubungan bisnis ini menjadi hubungan keluarga "


" Maksud Papa ?? "


" Mereka ingin menjodohkan putra mereka dengan kamu De "


" Maksuddd Papa...siapa??? " suaraku terbata


" Daniell"


Aku sontak kaget dengan perkataan Papa, Daniel ternyata menggunakan cara licik untuk mendapatkanku.aku pasti akan membuat perhitungan dengannya.


Setelah pembicaraan dengan Papa tadi malam, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata, rasa kantuk di mataku hilang seketika. Yah aku harus bertemu dengan Daniel dan membicarakan ini.


*****


Pagi ini aku memberanikan diri ke kantor cabang Global Corp di Bandung. Dari informasi sekretarisnya Daniel pagi ini akan ada rapat di kantor cabang Global Corp. Aku dapat mendapatkan informasi ini juga berkat bantuan Mba Tias yang kebetulan kenal dengan sekretaris Daniel.


Ku langkahkan kakiku menuju meja resepsionis. Ada 2 perempuan berpakaian seragam merah rapi dengan rambut yang di cepol rapi pula.


" Selamat pagi dan selamat datang di Global Corp ada yang bisa kami bantu " sapa salah satu resepsionis dengan ramah


" Saya ingin bertemu dengan Pak Daniel Malik Durrant" kataku sopan


" Maaf, apakah Nona sudah membuat janji " tanyanya padaku

__ADS_1


" Emm..belum, tapi katakan saja padanya Dilara ingin bertemu " kataku yakin


" Baik Nona, sebentar kami konfirmasi dulu " ia mengangkat gagang telepon dan memencet beberapa nomor, dan setelah beberapa detik menunggu resepsionis tadi mempersilahkanku naik ke lantai 5 ruangan kerja Daniel.


Setidaknya aku harus bisa menghadapi Daniel sekarang dan membicarakan masalah perkebunan Papa dengan kepala dingin.


Langkahku terhenti ketika lift telah sampai dilantai 5, sekali lagi ku hirup nafas kuat-kuat dan menghembuskan dengan sedikit bersemangat.


Terdapat seorang sekretaris yang menyambutku.


" Sialahkan Nona, Pak Daniel sudah menunggu anda di dalam " katanya membuka pintu ruang di depanku


" Baiklah, terimakasih " kataku memasuki ruangan Daniel yang besar. Ku lihat Daniel sedang duduk di kursi kerjanya dan matanya masih sibuk memandangi laptop di depannya. Tanpa melihat ke arahku ia memberikan kode untukku agar duduk di sofa dan menunggu sebentar.


" Wow baby, maaf menunggu " katanya akan menciumku


" Ohh..wait Daniel " Daniel menaikan satu alisnya karena mendapat penolakanku


" Ada hal yang lebih penting yang harus aku bicarakan" kataku melipat ke dua tangan ke dada


" Tell me beb "


" Soal pembicaraanmu dengan Papaku "


Daniel menganggukkan kepalanya.


" Soal rencana itu apa tidak bisa kita bicarakan lagi, emm kau tau kan menikah itu sangat penting, setidaknya kita harus menikah dengan orang yang kita cintai, iya kan " kataku penjang lebar


Daniel hanya tertawa menanggapi perkataanku


" Hey why you laughing " kataku kesal menahan amarah


" Calm down beb, pertama kita belum menikah setidaknya tunangan dulu dan yang ke dua aku sangat mudah membuatmu jatuh cinta padaku, jadi apa masalahnya ? Kata Daniel dengan senyum liciknya


" Tapii aku sudah punya pacar Daniel " pekikku gemas, dan Daniel sama sekali tidak menghiraukan perkataanku


" Besok pertunangan kita, pulanglah dan istirahat agar besok kamu telihat segar " Daniel meninggalkanku di ruangannya.


" Ohh...whatttt" teriakku histeris

__ADS_1


__ADS_2