DILARA LOVE

DILARA LOVE
Bagian Enam


__ADS_3

Author POV


Dilara Mariana Harjono sosok gadis yang mampu membangkitkan gairah Seorang Daniel yang sudah lama mati sejak di hianati oleh cinta pertamanya.


Daniel mamandang sosok gadis yang begitu ayu. Dalam tidurnya pun mampu membuat Daniel tergila-gila.


" You're Mine" gumam Daniel sambil membelai rambut Dilara lembut.


*****


Dilara POV


Ku rasakan sebuah tangan nan kekar memelukku sangat erat, dengan penampilan shirtless membuat aku menelan ludah, Daniel sangat tampan dalam posisi tidurnya, ku pandangi wajahnya yang bak dewa yunani.


" Sudah puas memandangi wajah tampanku " Daniel membuka penuh kedua matanya, ternyata sedari tadi dia sudah bangun hanya pura-pura tidur.


" Ahh sialan, aku ketahuan " pekikku pelan


Dia hanya terkekeh melihat reaksiku yang sangat lucu baginya.


Posisiku yang berhadapan dengannya membuat jarak kami semakin dekat, Daniel mengecup bibirku lembut dan ********** pelan.


" I love you like crazy darling " katanya kembali ******* bibirku


" Now and forever you are mine " dia makin memperdalam lumatannya.


Diperlakukan seperti itu aku seperti terhipnotis dan speechless dan sialnya lagi aku menikmati setiap sentuhan Daniel seakan aku mendambakannya.


"Oke baiklah kita coba saja menjalani hubungan ini, toh aku akan banyak di untungkan bisa berpacaran dengan CEO perusahaan besar..hahaha daripada aku di teror dan siksa." Batinku mencoba memprovokasi


Ide jahilku muncul dengan senyum mengembang aku akan memanfaatkan kesempatan ini..hihii aku terkikik geli sendiri.


Daniel memperhatikan aku yang sedang terkikik geli sambil menikmati sereal pagiku.


" Kenapa beb,,you look so happy this morning " tanyanya penasaran


" Ahh nothing, im just happy with you " kataku agak berbohong hingga membuat Daniel tersenyum menang.

__ADS_1


Hampir 5 menit kami menyelesaikan sarapan, Daniel sudah rapi dengan setelan jasnya, ia sedang menungguku di ruang TV sedangkan aku sedang sibuk bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Yah aku putuskan hari ini bekerja, life must go on, aku harus memanfaatkan kesempatan ini bukan terpuruk dan takut, tekatku sudah bulat.


" Ayoo " kataku sedikit mengagetkan Daniel yang sedang asyik menonton TV, entah kenapa ia terpesona dengan penampilanku padahal menurutku ini penampilan yang sederhana hanya memakai kemeja pink dan rok selutut dengan rambut aku kuncir seadanya.


Daniel melangkah mendekatiku, ia memeluku lembut dan sebelah tangannya melepas kuncir rambutku yang sudah aku tata susah payah.


" Leher jenjang ini hanya miliku sayang" katanya mengecup leher putihku yang mulus.


" Dihhh " aku bergidik nyeri


Oke-oke aku tak akan membantah, aku akan jadi gadis penurutmu Daniel Malik Durrant.


Perjalanan ke kantor kali ini sungguh sangat awwaakkkd, aku harus bersikap manis di hadapan Daniel membuatku muak.


25 menit mobil Lamborghini Daniel sudah terparkir cantik di tempat khusus CEO, dengan sikap manisnya ia membuka kaitan sabuk pengamanku, sambil mencuri ciuman dariku.


" shiiiiiitttttt" aku mengumpat dalam hati


" Jam makan siang aku jemput beb " katanya sebelum aku membuka pintu mobilnya, aku hanya memberi jawaban anggukan dan berlalu pergi ke kantorku yang ada di lantai 25


Sebagai seorang asisten manajer sudah setumpuk pekerjaan yang menungguku, aiiisshhh... semangat pekikku lirih.


Kami sampai di tempat reservasi jam 11.05 menit di situ sudah ada perwakilan dari perusahaan itu,


" Selamat siang " kataku menyalami seorang perempuan sebayaku yang cukup cantik, dia menjawab sapaanku dengan ramah juga.


" Saya Dilara dari Durrant Group " kataku memperkenalkan diri


" Marina " katanya ramah


" Ayoo..kita mulai " kataku semangat


" Oh sebentar bu, bisa menunggu 5 menit lagi, direktur kami ingin melihat langsung presentasi perusahaan anda " katanya menjelaskan


" Oke " jawabku singkat


Selang 5 menit berlalu, sosok lelaki tampan yang sangat familiar datang dengan senyum di bibirnya.

__ADS_1


" Haloo sudah seminggu tak bertemu nona Dilara dan kenapa pesan saya selalu tidak di balas" dia mengedipkan sebelah matanya menggoda


"Sorry xel, hape gw rusak" kataku asal


" Nampaknya Bu Lara dan Pak Axel sudah saling kenal, ayo kita mulai saja meeting hari ini " kata Marina sekretaris Axel melihat kekikukanku


***


Axel bersikeras mengantarkan aku kembali ke kantor, dan terpaksa Mbak Tias harus pulang sendiri.


Ada rasa tidak enak si, tapi gimana lagi demi kebaikan perusahaan.


" Lar " Axel membangunkan lamunanku


" Ehh..iyaa, gimana Xel " kataku tersadar


" Ada sesuatu yang pengen gw omongin " katanya menatap mataku sendu


Ia menghentikan mobilnya di pinggiran taman yang sejuk, sebenarnya bisa aku tebak apa yang akan dia omongin tapi aku akan pura-pura tidak tahu.


Gerakan tubuhnya makin mendekatiku, dapat aku rasakan hembusan nafasnya yang memburu. Dia mencium keningku lembut sambil berbisik I Love You Lara, aku sangat menikmati ciuman lembut Axel hingga aku tak sadar sedari tadi handphone di tasku berbunyi.


Ku lepas tautan bibir Axel, ada kekecewaan di sana tapi aku harus buru-buru mengangkat telepon dari Daniel brengsek yang sudah entar berapa puluh kali menelponku.


Ku pencet tombol hijau di ponselku, ku dengar suara serak nan sexy di balik sambungan telepon ini


" Heemm..bagus yaa berduan, terima hukumanmu segera " katanya mengancam, seketika bibirku kelu tak berani berkata apa-apa,tubuhku sedikit gemetar,, ahh shit habis gw nanti.


" Lar lo gpp " Axel mengguncang pundaku khawatir


" Its okay" kataku bersikap biasa " ayoo segera ke kantor"


Langkahku terhenti di depan pintu lift, ada sosok mengerikan yang menyeretku ke dalam tangga darurat perusahaan, dia memojokanku ke tebok dan mencium bibirku rakus, sesekali ia menggigit kasar bibirku hingga aku terpekik kesakitan.


Penolakan yang aku berikan makin membuat dia semakin kasar, terpaksa aku menikmati ciuman menuntut dari Daniel. Nafasnya terdengar memburu, ia melepaskan tautannya padaku sejenak aku merasa lega.


" Jangan sekali-kali kau biarkan lelaki brengsek itu menyentuh miliku " katanya dengan kilat kemarahan di matanya. Dan kembali menjamah bibirku dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Aku melawan Daniel yang semakin kasar, dan akhirnya berhasil. Aku berlari ke toilet untuk menenangkan diri dan menangis sejadinya


Terbesit keinginan untuk meninggalkan Jakarta dan menetap di Bandung jika karena keadaan ini begitu menyiksa.


__ADS_2