
Setelah pesta pertunangan itu, aku langsung kembali ke Jakarta. Dan Papa berpesan agar aku tinggal di apartemen lagi agar dekat dengan Daniel. Yah Daniel sekarang juga nemempati sebuah unit di towerku tepatnya di lantai 30.
Pekerjaanku sudah menumpuk akibat cuti kemarin. Ku cek semua email masuk di laptopku dan beberapa desain untuk iklan sebuah produk mie instan.
" Hey Lar, makan siang yuk " ajak Mba Tias hangat
" Duluan aja deh mba, lagi tanggung neh " kataku menatap Mba Tias
" Beneran nih " katanya lagi
" Iyaa mba..udah gih sana "
" Oke deh, duluan yak" Mbak Tias meninggalkanku dengan setumpuk pekerjaan selama seminggu...huuuuufffttt
" Siip" Ku mengacungkan ibu jariku.
Ku ambil ponselku di laci kerjaku yang sengaja aku silent selama jam kerja di kantor. Ada beberapa pesan dan chat dari Daniel dan Axel.
Ya Tuhan Axel, apa yang akan aku katakan padanya. Walaupun aku belum mencintainya tapi pertunangan ini akan sangat menyakitinya. Oh God please help me.
FROM AXEL
Axel : honey, where are you?
Lara : kantor
Axel : i miss you,
Lara : pulang kerja jemput aku,ada hal penting.
Axel : oke honey
FROM DANIEL
Daniel : Tunggu aku di loby
Daniel is calling...
Pesan dan telepon Daniel aku reject setidaknya aku butuh waktu untuk menyelesaikan masalah ini.
Dan aku harus berkata jujur ke Axel sebelum semuanya menjadi semakin rumit.
*****
__ADS_1
Jam menunjukkan angka 17.30 waktunya pulang. Ku bereskan meja kerjaku yang terlihat berantakan. Ku nyalakan ponselku yang sedari tadi aku cas karena kehabisan daya baterai.
Ada 5 panggilan tak terjawab dari Daniel,
" Rempong banget si ni cowok satu " aku bermonolog sambil menekan tombol hijau di ponselku.
" Halo Daniel " kataku ketus
" Maaf beb ada hal penting yang harus aku urus, maaf tidak bisa menjemputmu" ucap Daniel yang membuatku tersenyum senang.
" Ohh..gpp kok, aku naik taxi online saja "
" Baiklah, take care beb"
" Oke "
Aku menghela nafas lega mengetahui Daniel tidak bisa menjemputku, padahal sedari tadi aku berfikir untuk memberi alasan apa ke Daniel agar malam ini dapat bertemu dengan Axel. Huuhuu pucuk di cinta ulam pun tiba. Pekiku dengan tawa renyah
*****
Axel membawaku ke sebuah restoran bintang lima,padahal malam ini mungkin aku akan menyakitinya, posisi ini membuat aku semakin sulit.
Axel telah menyiapkan makan malam romantis ini, dan itu membuatku seperti wanita jahat.
" Honey, you look so beautiful tonight" katanya memujiku
"Oh thank you," pipiku merona seketika padahal aku hanya memakai dress warna hitam selutut, dress yang sudah puluhan kali aku pakai.
" Ehemm.." aku mengatur suaraku " Axel i want to say something with you, its so important and im so sorry if i hurting you" kataku terbata-bata
"Hey.. what's going on honey" Axel menggenggam tanganku erat
" Ee.. sebenarnya....." Suaraku terhenti dan ....
Bugghhhh.....!!!!!!!!!!
Sebuah pukulan mendarat di pelipis Axel.
Aku terlonjak kaget dan tubuhku bergetar ketakutan.
" Daniel" teriakku takut
Dengan sorot mata tajamnya ia mengepalkan tangannya, amarah begitu mendominasinya.
__ADS_1
Axel tersungkur di lantai dengan darah mengucur di pelipis kepalanya. Ku berlari memeluk Daniel, menahan agar ia tidak memukul Axel kembali.
" Please stop it...stop " teriakku
" Hey..dont touch my mine.." kata Daniel tertuju ke Axel.
Aku meninggalkan Axel dengan sorot kebingungan di matanya, Daniel menyeretku pulang.
" Im so sorry Axel " kataku lirih mengikuti Daniel.
Daniel membawaku ke apartemennya, ia terlihat sangat marah.
" Jelaskan padaku apa hubunganmu dengan Axel brengsek " Daniel mencengkram pergelangan tanganku
" Lepasin dulu Daniel, kau menyakitiku " sentakku melepas cengkramannya yang sangat kuat
Melihat aku kesakitan Daniel terlihat melunak.
" Oke fine..he is my boyfriend"
Kataku membuat Daniel mengumpat
" Oh shiitt..shiittt" jadi kalian sedang bermain di belakangku"
" Aku bisa jelaskan Daniel "
" Oke.."
" Yah pertemuan tadi bukan seperti yang kamu lihat, tadi aku berniat mengatakan yang sejujurnya bahwa aku sudah bertunangan, tapi kamu datang dan mengacaukan semua."
Ku dekati Daniel yang sedang duduk di tepian ranjang dengan menahan amarahnya. Ku peluk Daniel erat, awalnya ia menolak tapi akuĀ memaksanya.
" Please sayang, jangan marah..im so sorry " kataku mengelus lembut rambutnya
Ia membalas pelukanku dan ku lihat senyum mempesona Daniel sudah muncul walau sedikit.
" Oke baby, aku percaya padamu. Tapi jangan pernah temuin Axel lagi" kata Daniel tegas
" Baiklah"
Ku raih bibir Daniel dengan bibirku, ku kecup pelan dan Daniel pun membalas perlakuanku ini. Melihat Daniel begitu marah dan menakutkan membuat geleyar aneh di tubuhku. Apakah mungkin diam-diam aku telah jatuh cinta padanya.
Daniel memelukku begitu lembut sambil berbisik
__ADS_1
" I love you Dilara" katanya yang sukses membuatku merinding, kemudian ia memelukku lagi erat seakan takut kehilangan.