DILARA LOVE

DILARA LOVE
SEASON 2 BAGIAN LIMA PULUH DUA


__ADS_3

Raras Ajeng Anindita segera berlari ketika panggilan keretanya menuju Jakarta telah tiba. Saat ini ia ada di Stasiun Balapan Solo untuk mengikuti kata hatinya ke Jakarta. Pukul 22.00 WIB ia mengendap-endap dengan membawa 1 buah koper berisi baju-bajunya. Jam segitu memang keluarganya sudah tidur sehingga memudahkan Raras kabur tanpa perlawanan. Sebelumnya Raras juga sudah memesan ojek untuk mengantarkannya ke Stasiun. Hanya butuh waktu 20 menit ia sampai disana dan jadwal keberangkatannya masih 10 menit lagi.


Memang Raras sudah menjadi anak durhaka karena kabur ke Jakarta untuk menghindari perjodohan dengan Mas Bambang, anak sahabat Ayahnya.


Mas Bambang sebenarnya sangat baik pada Raras namun Raras masih belum ingin menikah di usia 23th. Raras masih ingin menggapai cita-cita, bekerja selayaknya teman-temannya yang lain bukan buru-buru menikah yang akan berujung hanya menjadi Ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami.


Sebelum kabur ke Jakarta Raras sudah mengumpulkan uang hasil dia jualan online, memang sih tidak banyak tapi Raras rasa cukup untuk sebulan kedepan sebelum ia mendapatkan pekerjaan.


Ia yakin akan segera mendapatkan pekerjaan dengan bekal ijazah sarjana akuntansinya.


Raras duduk bersandar dikursinya sambil melihat pemandangan pepohonan dibalik jendela gerbong. Ia teringat saat ia memohon pada Ayahnya agar membatalkan perjodohan itu. Tapi Ayahnya terlalu kaku dan teguh pada pendiriannya.


Sebelum kabur Raras juga sudah menulis sebuah surat untuk Ayah, Ibu dan Andini adik satu-satunya.


Raras berharap semoga Ayah dan Ibunya bisa menerima keputusan Raras untuk bekerja di Jakarta.


perjalanan dari Stasiun Balapan Solo menuju Stasiun Gambir sekitar 6 jam lebih 30 menit. Raras masih bersyukur karena ia mempunyai sahabat kecilnya yang bekerja di Jakarta namanya namanya Suryani tapi biasa dipanggil Yani. orangnya sangat lucu dan periang , Raras sudah bersahabat dengannya sejak sekolah.


Laras keluar dari pintu keluar stasiun pandangannya berlalu-lalang mencari sosok sahabatnya itu tapi sepertinya Yani belum datang menjemputnya. Raras mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Yani.


" Halo Yan kowe neng ndi toh aku ngenteni iki ning stasiun ( Halo Yan kamu di mana sih Aku sudah ada di stasiun) " ucap Raras yang pandangannya masih mencari sosok sahabatnya itu.

__ADS_1


" Halo Ras iki lho aku meh tekan rono..sabar disit ( Halo Ras aku sudah mau sampai..sabar dulu) " Kata Yani menjawab telepon Raras.


" Yowes cepetan Re Yan aku wedi iki loh dewean ( Ya udah cepetan aku takut sendirian)" kata Raras yang ngeri sendirian di area stasiun.


Setelah menunggu 5 menit akhirnya Yani sampai di stasiun Ia mengendarai motor maticnya.


" Yani aku neng kene ( Yani aku disini) " Panggil Raras yang seketika senyumnya mengembang melihat sahabatnya itu telah datang menjemputnya.


" Rene Ras nyebrang dalan (Sini Ras nyebrang jalan)" Teriak teriak Yani kemudian.


" Iyo iyo Yan " melihat lampu lalu lintas sudah merah Raras ingin segera menyebrang jalan untuk menuju tempat sahabatnya berada, hingga dari kejauhan Raras melihat Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Raras berlari ketika melihat mobil tersebut semakin kencang mendekatinya dan meninggalkan kopernya di tengah jalan.


SREEEETT!!!!!.....BRUUUGGGGHH!!!!!


" Astaghfirullahaladzim ya Allah gusti " ucap Raras melihat pemandangan kopernya yang sudah hancur dilindas oleh mobil Ferrari tersebut.


Raras melihat seseorang yang mengemudikan mobil tersebut masih tertunduk di atas setir mobil, Laras mencoba menggedor-gedor pintu mobil tersebut dengan kekuatan penuhnya.


melihat orang tersebut masih sadar Rara semakin membabi-buta menggedor-gedor pintu mobil tersebut, hingga ia berteriak.


" Setan kowe!!! Rene mudun !!! ( setan kamu!!! Ayo turun!!!) "

__ADS_1


Yani yang melihat kejadian itu juga sangat shock hingga Ia berlari menghampiri Raras.


" Astaghfirullahaladzim Ras..Ras kowe rak popo( Astaghfirullahaladzim Ras..Ras kamu tidak apa-apa) " ucap Yani dengan suara bergetar.


" Tenang Yan aku Rak popo ( Tenang Yan aku gak kenapa-napa) " Kata Raras yang masih memukul mobil mewah tersebut.


Melihat Raras membabi-buta memukul kaca mobilnya, seorang keluar dari pintu mobil tersebut.


" Heh tanggung jawab kamu... tuh lihat koper aku hancur" ucap Raras dengan amarah memuncak.


" Oke.. Oke..Mbak aku akan bertanggung jawab ini kartu nama gw" kata Danilo sambil menyerahkan kartu namanya.


" Nyetir tuh liat-liat..kalau aku celaka gimana? " Ucap Raras masih kesal.


" Sekali lagi gw mohon maaf mbak, besok anda hubungi saja nomor itu " Kata Danillo yang mencoba menenangkan diri.


" Danillo " ucap Raras melihat sekilas nama yang tertera di kartu tersebut.


" Piye Ras..kui wong mabok po (gimana Ras..itu orang mabuk apa)" Kata Yani berbisik yang sudah ada disampingnya.


" Mbuh aku ra reti Yan..tapi yo ketok e wong edan ( Aku nggak tahu Yan.. kayaknya sih orang gila)" ucap Raras dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


" Oke Mas..eh Pak Danillo besok saya ke alamat ini" kata Raras sambil menunjuk kartu nama di tangannya.


__ADS_2