
2 hari ini aku cuti dari perusahaan karena Papaku sakit dan aku sangat sedih mendengarnya jadi kuputuskan hari ini pulang ke Bandung.
Perjalananku menuju Bandung berjalan dengan lancar, Axel mengantarku menuju Stasiun Gambir.
Setibanya di Bandung aku di jemput oleh Kang Ujang, dia adalah sopir Papa sejak setahun yang lalu, Pak Ujang punya 2 anak laki-laki dan perempuan yang menurut cerita Mama mereka kuliah di Bogor..waah hebat ya Kang Ujang ini.
Kedatanganku langsung di sambut hangat oleh Mbok Tunem pengasuhku sejak kecil. Dengan logat jawanya ia begitu senang aku datang ke Bandung setelah sebulan lebih berada di Jakarta dan baru sempat pulang lagi hari ini.
" Ya Allah Nduk Ayu pulang " Mbok Tunem memelukku erat, aku tersenyum menyambut pelukannya
" Papa, gimana Mbok ?" Tanyaku ke Mbok Tunem
" Alhamdulillah sudah membaik " katanya menenangkanku.
" Syukurlah Mbok, oya Lara laper mbok,,mbok masak apa " kataku manja
" Wes pokoe spesial buat nduk ayu lah " katanya antusias
__ADS_1
" Asyiikk...Lara mandi dulu ya mbok " Aku berjalan ke lantai 2 rumahku untuk mandi dan siap-siap ke Rumah Sakit menemui Papa.
Seperti kata Mbok Tunem, Papa sudah membaik mungkin karena terlalu stress Papa jadi jatuh sakit. Mama juga sudah semakin tenang melihat Papa semakin sehat.
Hari ini Papa boleh pulang dari Rumah Sakit karena kondisi Papa sudah sehat, tapi Pesan Dokter Papa jangan terlalu stres takut nanti penyakitnya kumat.
********
Aku dan Mama berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.
" De sebenarnya ada yg Mama mau bicarakan" katanya di sela menggoreng ayam
" Sebenarnya..emmm...Papa Stress karena ada masalah di perkebunan de" kata Mama menghampiriku
" Iya,,trus " kataku semakin penasaran
" Papa harus membayar hutang yang menumpuk. Kalau tidak Bank akan menyita perkebunan kakek" kata Mama berurai air mata.
__ADS_1
Mendengar itu sungguh membuat aku sedih, dan berpikir apa yang harus aku lakukan untuk menolong Papa.
" Besok Lara cek berkas-berkas perkebunan Papa, siapa tau Lara bisa bantu Ma " Aku memeluk Mama dan menenangkannya.
Kehilangan perkebunan mungkin memang tidak membuatku miskin, tapi nilai historinya yang sangat berharga karena perkebunan itu peninggalan kakek.
Pagi buta aku bergegas ke perkebunan Papa untuk memeriksa berkas-berkas kerjasama Papa dengan beberapa perusahaan, di situ aku dapat memahami ternyata Papa di tipu oleh salah satu perusahaan investasi dari luar negeri. Dan setelah di cek perusahaannya ternyata perusahaan itu fake.
Otakku seperti tidak bisa berpikir setelah membaca perihal kerjasama itu, ku putuskan berjalan- jalan sebentar menghilangkan penat.
Udara di pegunungan memang selalu dapat menyejukkan jiwaku, aku berjalan-jalan keliling perkebunan sambil menghirup udara segar yang sudah jarang aku rasakan. Ku hirup oksigen sebanyak-banyaknya sambil menikmati pemandangan hijau yang membuat mata ini kembali fresh.
Seorang pemuda menyapaku ramah, ia adalah salah satu pekerja di perkebunan Papa, namanya Hendra kami sempat berbincang sebentar dan dari informasi yang ia berikan bahwa perusahaan Papa sudah ada tawaran untuk bekerjasama tapi karena minggu lalu Papa masih sakit jadi ia hanya meninggalkan kartu nama dari perusahaannya.
" Ini neng kartu nama yang mereka tinggalkan " Hendra mengulurkan sebuah kartu nama berwarna gold
" Ok..makasih ya A Hendra " kataku mengambil kartu nama dari tangannya.
__ADS_1
Perusahaan bernama Global Corp berniat membantu Papanya kenapa tidak di coba hubungi saja, pekikku dalam hati.
Ku pencet nomor telepon yang tertera di kartu nama tersebut, sapaan wanita yang nampaknya seorang sekretaris begitu ramah menyapaku. Setelah mengatakan tujuanku sang sekretaris tersebut mengatakan bahwa dalam 2 hari ini akan ada perwakilan dari perusahaan datang ke kantor Papa, semoga ini awal yang baik. gumamku dengan senyum sumringah.