DILARA LOVE

DILARA LOVE
Bagian Limabelas


__ADS_3

Sebuah cahaya menyilaukan Indra penglihatanku, ku rasakan sekujur tubuhku sakit. Perlahan ku meneliti sekelilingku " dimana aku?" Gumamku menahan sakit, ku pegang kepalaku yang masih berdengung tak karuan.


" Ah..kau sudah bangun sayang" suara seorang lelaki yang aku kenali mengagetkanku.


Ku mengucek mataku yang kabur untuk melihat dengan jelas siapa sosok tersebut.


" Axel " gumamku lirih


" Iyaa ini aku sayang" dia melangkah menujuku yang masih duduk mematung di tepian ranjang. Ia merangkul pundakku posesif dan mengecup pipiku pelan


" Apa yang kamu lakukan Axel" kataku mengumpulkan tenaga yang masih tersisa


" Aku rindu kamu sayang " Axel semakin memelukku erat


" Lepaskan aku Axel, bukan begini caranya? kita bisa berbicara baik-baik " Rancauku sambil memberontak sekenanya.


" Tidak sayang, kamu hanya milikku bukan Daniel sialan dan kamu akan menjadi pengantinku segera" Katanya dengan smirk kepuasan.


Mendengar perkataan Axel membuatku semakin memberontak dan Axel berusaha m menenangkanku yang masih dengan tangis yang menjadi.


Aku tak habis pikir apa yang ia hendak lakukan padaku. Aku harus berbuat sesuatu pikirku.


30 menit yang lalu Axel membawaku meninggalkan apartemennya, dan disini aku sekarang di sebuah butik baju pengantin.


" Wow kamu sangat cantik sayang " katanya mengelus rambutku, dan aku cuma memberikan fake smile.


" Sebentar lagi kamu akan menjadi pengantinku " lanjutnya lagi


Apa yang akan dilakukan laki-laki gila ini..what menikah???


" Axel, please dengarkan aku, aku minta maaf padamu telah menyakitimu, tapi sungguh ini bukan kehendakku membuat kamu sakit hati, jadi please lepaskan aku dan kita bicarakan masalah kita baik-baik " pintaku memohon.


" Tidak sayang, aku tak kan rela melihatmu dengan Daniel brengsek itu, aku akan lakukan apapun untuk menjadikan dirimu milikku " kata Axel emosi


Bener-bener gilakk Axel..ya Tuhanku please help me...ayo berfikir Lara..do something..


" Oke baiklah, tapi tunggu sebentar aku akan ke toilet dulu " kataku pura-pura melunak


" Baiklah sayang "


Di dalam toilet aku berfikir bagaimana caranya lari dari Axel gila.


Dan ku lihat ada mbak-mbak cleaning service sedang membersihkan toilet.

__ADS_1


" Permisi mbak,boleh minta bantuan ' kataku memelas


" Emm..ada apa mbak " katanya menelitiku


Dengan menggunakan baju cleaning service aku berjalan mengendap-endap. Ku lihat Axel dari tadi mengawasiku di depan pintu toilet.


Setelah mencapai ujung pintu aku bersiap akan lari sekencang mungkin, tapi sial Axel mengenaliku. Ia mulai mengejarku, akupun semakin mempercepat lariku hingga ada sebuah taxi berhenti dan aku bisa lolos dari kejaran Axel.


******


Ideku ternyata berhasil untuk mengelabuhi Axel, yah aku bertukar pakaian dengan mbak cleaning service, dan setelah itu berlari melewati Axel yang menahan amarah melihatku kabur.


Dengan nafas yang masih terengah-engah ku pencet tombol akses masuk apartemen Daniel, entah kenapa tempat ini yang terlintas di pikiranku dan ku rasa tempat paling aman untukku menghindari Axel gila.


Ku edarkan penglihatanku tapi tak ada sosok Daniel, apakah dia belum pulang dari perjalanan bisnis?, apakah dia merindukanku? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benakku.


Tiba-tiba saja pintu apartemen Daniel terbuka, menampilkan sosok yang entah sejak kapan aku rindukan.


Penampilannya sedikit acak-acakan dengan bulu-bulu kasar di dagunya yang tidak di cukur, Daniel terlihat kacau.


" Baby.. syukurlah kamu kembali " Daniel mendekap tubuhku erat dan terlihat jelas sorot kebahagiaan di matanya.


" Jelaskan padaku, apa kamu berniat kabur dariku " pertanyaan Daniel seketika membuat senyumku mengembang


" Hey ada apa baby " Daniel terlihat khawatir melihat tangisku dan penampilanku yang berantakan.


Aku tak sanggup berbicara karena tangisku begitu memekakkan dada, hingga Daniel terua mendekapku hingga aku tenang.


Setelah merasa tenang membersihkan diri, aku bercerita tentang semua yang terjadi, semula Daniel mengira aku kabur dan meninggalkannya demi bersama Axel, ternyata Daniel salah. Ia berjanji akan membalas Axel karena berbuat seperti itu padaku.


Ku pakai baju Daniel yang longgar yang tentunya sangat nyaman.


" Baby, kamu pasti lapar,,makanlah sudah ku pesankan makanan untukmu" Daniel membawa sekotak pizza favoritku


" Makasih sayang " kataku mencubit pipi Daniel


Di sela kegiatan makanku, aku teringat sahabatku Michelle. Pasti dia khawatir terhadapku. Ku pinjam ponsel milik Daniel untuk menghubunginya.


" Halo bisa bicara dengan Bu Michelle " kataku setelah telepon tersambung di kantor Michelle


" Maaf, ini dengan siapa" sapa seorang resepsionis kantor Michelle


" Katakan Dilara"

__ADS_1


" Baiklah, tunggu sebentar Nona"


" Haloo..Lara? Kamu dimana? Apakah semua baik ? " Katanya khawatir tentangku


" Hei..aku baik-baik saja, maaf sudah membuatmu khawatir" kataku menjelaskan


" Apa yang terjadi Lara "


" Nothing, cuma ada urusan mendadak..im so sorry " Aku memang belum bercerita sejujurnya kepada Michelle, biarlah nanti kalau kami bertemu akan aku ceritakan semua yang terjadi.


" Syukurlah kamu baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup"


" Oke, aku tutup dulu"


" Baiklah, bye Lara"


" Bye Michelle"


Ku letakkan ponsel Daniel di atas nakas, ku lihat Daniel baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah dan bulu-bulu kasar di jambangnya sudah di cukur habis hingga menampilkan wajah mulus Daniel.


Hanya dengan memakai bathrobe Daniel mendekatiku, seketika jantungku tak karuan.


" Sudah selesai menghubungi sahabatmu " senyum manis Daniel begitu mempesona


" Sudah, terimakasih " kataku gugup


" Kau tau baby, selama kamu hilang, aku sangat stress hingga melupakan pekerjaanku" Daniel mengelus pipiku yang ku yakin sudah merona


" I miss you " ia berbisik di telingaku


Daniel menatapku intens tentu dengan senyum manisnya, " Jangan pernah tinggalkan aku Lara " Katanya menghipnotisku.


Kubalas penyataannya dengan anggukan mantap dan selanjutnya berhambur dipelukan Daniel yang begitu nyaman.


" Ganti baju sana " Kataku disela pelukan kami


" Hehe..bukannya kamu suka melihat dadaku yang telanjang " Goda Daniel


" Diihh..Apaan...Hahaha " Kututup wajahku dengan bantal karena malu


" Semua ini milikmu baby..kamu mau lihat yang lain juga boleh " Daniel semakin menggodaku


" Ogahh ah.." Kataku sok cuek " Udah gih sana " Kataku lagi

__ADS_1


" Iya Baby..Emmuuahh " Daniel mencuri cium di pipi kananku dan sontak membuatku merona dan ia menghilang dibalik wadrobe pakaiannya.


__ADS_2