
Setelah kejadian mengenaskan di tangga darurat sontak aku memblokir semua kontak Daniel, rasanya aku begitu marah padanya dan muak dengan segala perilaku posesifnya.
Axel semakin gencar menghubungiku bahkan ia juga sudah menyatakan cinta,tapi entah mengapa untuk mengatakan iya rasanya begitu berat. sejujurnya sebagai seorang perempuan aku sedikit berbunga-bunga mendengarnya dan malam ini ia mengajakku jalan.
Dan yang membuatku sedikit lega adalah sudah dua hari ini Daniel tidak menggangguku, ah rasanya hidupku nyaman. Tapi kenapa ada sesuatu yang hilang dalam jiwaku.. " ahh bodo amat " Gumamku sambil menyambar handuk dan segera mandi untuk keluar bersama Axel.
Sekarang aku terpaksa tinggal dirumah keluargaku yang dulunya disewakan. Disini aku ditemani Bi Sum yang sejak dulu bekerja untuk keluargaku. Bi Sum akan datang pagi dan pulang malam, karena kebetulan rumahnya tak begitu jauh dari rumahku. Apartemenku aku tinggalkan sementara agar Daniel tidak bisa menemukanku dan mengganguku lagi.
Pagi ini aku iseng mencoba mencari informasi keberadaan Daniel ke Mba Tias, menurutnya ia sedang ke luar negeri karena Ibunya sedang berobat disana. Dan dari informasi Mba Tias juga Daniel itu lelaki yang sangat tertutup dan tak pernah menunjukkan siapa kekasihnya, walaupun banyak perempuan penggoda yang datang ke kantornya selalu ia tolak mentah-mentah.
Trus kenapa dia posesif denganku? mengakuiku sebagai miliknya sampai-sampai begitu marah ketika cemburu. Informasi dari Mbak Tias benar-benar sulit ku percaya melihat bagaimana Daniell memperlakukanku selama ini, dan menjadi tanda tanya besar di otakku.
Ku lihat penampilanku di cermin sudah cantik dengan balutan baju merk Zara. Ku ambil tas Luis Vuitton hadiah kelulusan dari Mama. Yah aku memang suka mengkoleksi tas-tas branded seperti Dior, Chanel, Luis Vuitton dan ada beberapa merk yang lain.
__ADS_1
Makan malam berjalan cukup menyenangkan, Axel selalu bisa memanjakanku dengan kelembutannya. Setelah makan malam Axel membawaku ke suatu tempat di atap gedung yang tinggi, ternyata disana dia menyiapkan kejutan yang manis. Terdapat balon warna pink dan merah yang ia susun bentuk hati dan sebuket bunga mawar merah yang masih segar.
Aku di buat terkejut dengan perlakuan Axel yang sungguh tak terduga. Axel mendekatiku dan mengambil kedua tanganku seraya berkata.
" Would you be my love darling ?" Katanya agak bergetar
Kakiku gemetar mendengar pernyataan itu, sungguh di sisi lain aku senang tapi sisi hati kecilku menolak ini semua.
Ku berikan senyum manis untuk Axel, ku pegang kedua pipinya seketika ku cium bibir Axel lembut, yah aku menerima Axel sebagai kekasihku saat ini.
Entah mengapa aku tak bahagia mendapat perlakuan istimewa dari Axel. Tapi setidaknya aku akan mencoba bersamanya.
*****
__ADS_1
Axel mengantarku pulang kerumah tepat pukul 22.00, kulihat gurat bahagia diwajahnyay karena tak hentinya ia menunjukan senyum sumringah padaku.
Ia memakirkan mobilnya di halaman rumahku seraya berkata.
" Sayang..thanks sudah mau menerimaku, aku janji akan membahagiakanmu selamanya " Axel menggenggam tanganku erat.
sebuah anggukan mantap aku berikan padanya.
" Makasih untuk hari ini " kataku dengan senyum ceria.
" I love you " katanya lagi dan mengecup puncak kepalaku
" Love you too " kataku membalasnya
__ADS_1
Sejujurnya aku belum 100% mencintai Axel, kalau sayang iya. tapi aku akan berusaha membalas cintanya. Entah mengapa memiliki pengalaman buruk dalam dunia percintaan membuatku sedikit trauma untuk mencinta dan dicinta. Dulu sewaktu aku bangku kuliah aku memiliki seorang kekasih yang aku kira tulus tapi ternyata dibelakangku ia berkencan dengan salah satu cewek populer disekolahku dulu. Dan sakit itu masih membekas hingga sekarang.