
Airin menaruh kain lap di tangannya ke kolong meja kasir. Matanya masih menatap Milea sebelum menaiki tangga, namun Milea membuang muka dan berjalan keluar toko seakan menghindar.
"Ada apa sih?" tanya Manda berbisik ke Airin, namun Airin hanya diam dan mengangkat kedua pundaknya karena juga tidak tahu apa yang ingin Bu Citra bicarakan padanya.
Airin menaiki tangga dan tiba di ruangan Bu Citra. Mengetuk pintu dan memberikan salam, lalu duduk di kursi yang sudah Bu Citra persilahkan.
"Maaf ada apa ya, Bu?" tanya Airin, menatap Bu Citra sesaat kemudian tertunduk.
"Apa benar yang dikatakan Milea itu benar?" tanya Bu Citra menatap Airin.
Airin bingung dengan pertanyaan yang topiknya saja tidak diketahui.
'Apa Milea cerita kalau aku hamil?' batin Airin.
"Apa ya Bu? saya sendiri tidak tahu yang dimaksudkan Bu Citra," sahut Airin.
"Loh gimana sih Milea ini, tadi dia kesini katanya kamu mau sekarang kerjanya bagian kasir saja," imbuh Bu Citra.
Airin semakin bingung dengan topik yang dibahas Bu Citra, karena sebelumnya Milea tidak mengatakan hal apapun.
"Em ... iya," sahut Airin masih tertunduk dan berpikir.
"Kamu bisa pakai mesin kasir?" tanya Bu Citra.
"Iya Bu," jawab Milea lirih.
"Ya sudah coba saja dulu, lagian Milea itu aneh, enak-enak di kasir biar nggak naik turun tangga malah ingin bagian melayani pembeli," imbuh Bu Citra, sambil tersenyum tipis. Airin ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya sekali.
"Ya sudah, kembali bekerja! Kalau di kasir jangan lupa cek stok terus, kalau ada barang yang sudah habis nggak bilang, kamu saya hukum lho," ucap Bu Citra dengan nada keras, lalu diakhiri dengan senyum candaan. Airin hanya menganggukkan kepala, lalu keluar dari ruangan Bu Citra.
'Apa sih maksudnya Milea?' batin Airin.
Tiba di lantai dasar, Airin lalu mendekati Milea yang sedang berdiri di depan kasir sambil membawa notebook di tangannya.
"Mil ...," ucap Airin, namun sebelum kalimatnya selesai, Milea langsung menarik tangan Airin.
"Ini bagian stock, ini kalau.ada yang beli kamu klik, total dan langsung otomatis print. Kalau ada yang pakai debit kamu tinggal tekan ini, ini lalu masukkan totalnya dan gesek, minta pin, tekan ini dan jangan sampai ilang print kertasnya, simpan di bawah keyboard," ucap Milea panjang lebar memberikan penjelasan.
"Mil ...," Airin berusaha bertanya lagi pada Milea, namun Milea memotong ucapannya lagi dengan memberi tahu hal lainnya yang berhubungan dengan kasir.
__ADS_1
"Kamu kan lagi hamil, jangan naik turun tangga dulu," imbuh Milea, lalu menoleh ke arah Airin. Airin tersenyum dan hatinya terasa meleleh melihat perhatian Milea kepada dirinya.
"Hah, hamil?" sahut Manda yang tiba-tiba datang dan diam-diam mendengarkan pembicaraan Airin dan Milea.
Milea bergegas memukul mulut Manda dengan buku tulis di tangannya untuk membuat Manda diam.
"Berisik! Diam dan kerja!" gertak Milea lirih kepada Manda.
"Beneran dia hamil?" tanya Manda yang masih penasaran.
Milea lalu menarik lakban dan di potongnya sejengkal tangan kemudian ditempelkan ke mulut Manda.
"Dibahas nanti saja!" gertak Milea lirih, lalu keluar dari meja kasir dan menarik tangan Manda keluar toko.
Airin tersenyum sesaat melihat kelucuan kedua temannya, air mata perlahan menetes karena terharu dengan sikap Milea yang awalnya dikira akan membuatnya keluar dari toko ini malah mencari cara agar dirinya bisa bekerja dengan baik.
Beberapa menit kemudian, Milea dan Manda kembali. Milea mengambil alih pekerjaan Airin yang mengelap sepatu yang terpajang di display dan etalase, sedang Manda bagian menyapu dan mengepel.
"Kamu bersihin meja kasir saja!" gertak Milea dari jauh yang mengetahui jika Airin akan berjalan ke arahnya dengan membawa lap. Airin tersenyum dan menuruti keinginan Milea.
Setelah toko di buka, beberapa pembeli datang satu persatu. Hari pertama berdiri di depan kasir membuat Airin malah lebih nyaman jika bergerak naik turun tangga, karena lebih bersemangat dan tidak mudah mengantuk.
"Aku takut tahu, aku kira kamu akan melapor pada Bu Citra jika aku hamil," ucap Airi. berbisik sambil mengunyah makanannya.
"Aku tidak sejahat itu, memang di matamu aku akan tega melakukannya," gerutu Milea.
"Habis kamu nggak bilang dulu, aku jadi seperti orang linglung saat bertemu dengan Bu Citra tadi," imbuh Airin.
Milea langsung meneguk air dan setelah makanannya tertelan tertawa terbahak-bahak.
"Aku memang suka iseng, jangan marah dong," sahut Milea. Airin lalu memukul tangan Milea perlahan sambil tersenyum.
"Nanti pulang kerja ngobrol yuk di kamarku!" Ajak Milea.
"Di kamarku saja," sahut Airin.
"Hah, kamarmu panas nggak ada kipas. pengap tahu! Beli kipas dong, Rin," ujar Milea.
"Nanti kalau sudah gajian, uangku pas buat makan," sahut Airin.
__ADS_1
"Ya udah ngobrol di tempatku saja, di kamarku kan ada kipas, televisi, Wifi, springbed, nyaman deh," ucap Milea.
Airin tertegun sampai mulutnya terbuka sedikit mendengar barang mewah yang dimiliki Milea di kamar.
"Iya, nanti aku kesana," sahut Airin, lalu melanjutkan makanannya.
"Setelah makan aku langsung ke toko," ucap Milea, menoleh.
"Sholat dulu, baru kerja lagi," sahut Airin.
"Aku belum siap Rin, nanti saja jika hatiku sudah siap," jawab Milea.
"Lah, sholat itu bikin hati tenang, kalau nunggu siap nggak akan siap, udah ikut aku sholat dulu," ucap Airin.
Milea hanya melirik sambil menghela nafas.
Setelah selesai makan dan membayar makanan, Airin lekas menarik tangan Milea yang mencoba kabur.
"Sholat dulu!" gertak Airin lirih, sambil tangannya terus menggenggam tangan Milea.
Milea menggaruk kepala dan akhirnya mengikuti langkah Airin masuk kedalam mushola.
Selepas sholat, Airin dan Milea berjalan kembali ke toko. Airin tersenyum melihat wajah Milea yang sebagian keningnya masih ada sisa air wudhu yang menempel.
"Padahal kalau habis sholat, kamu kelihatan tambah cantik. MasyaAllah seperti bidadari surga," ucap Airin memuji.
Milea tersenyum, lalu menoleh ke arah Airin sambil merogoh sakunya.
"Ini buat pujiannya," ucap Milea, sambil menempelkan uang dua ribu rupiah di kening Airin. Airin tersenyum dan mengambilnya.
"Aku senang, ternyata Allah masih mempertemukan aku dengan teman yang baik," imbuh Airin, lalu merangkul tangan Milea erat.
Milea tersenyum, sambil terus menyingkirkan tangan Airin.
"Lepaskan, aku masih normal tahu!" canda Milea lalu berlari meninggalkan Airin.
Bruakkk ...
Milea terkejut dan menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Airin ..." teriak Milea kembali ke belakang.