
Suasana meja makan menjadi canggung, ibunya Raffi menutup mulutnya seketika. Setelah mengetahui orang yang dibicarakannya berada di depan matanya.
Airin melihat ke arah Mona yang kembali datang ke meja makan.
"Rin, mamah Rita pulang sana! Aku sudah pesen taksi. Udah ada di depan," ucap Mona.
"Kenapa mendadak? Biarkan dia disini dulu, Mon," ucap Raffi, menahan kepergian Airin. "enggak sopan kan tiba-tiba nyuruh pulang,"
Mona berdecak kesal, kemudian berjalan mendekati Airin dan menarik tangan Airin hingga akhirnya Airin bangkit dari tempat duduknya.
"Udah pulang sana!"perintah Mona lirih.
"Mamah disini aja Mon, katanya mau belanja,"
Ibu mertuanya bergeming dan enggan pergi. Mona lali menarik tangan ibu mertuanya Airin.
"Pulang saja dulu, Mah. Kita belanja besok," ucap Mona.
Mamah Rita, atau mertuanya Airin bangkit dari kursi dan meninggalkan meja makan dengan berjalan sedikit sempoyongan karena belum sembuh total dari stroke.
Airin menyusul langkah ibu mertuanya, begitupun Raffi yang ikut mengejar langkah Airin.
"Raffi!" teriak Mona lantang, tanpa rasa malu, hingga membuat seisi restoran menatap ke arahnya. Airin menoleh dan melihat Raffi yang mengikutinya langsung memberikan kode menggelengkan kepala, dan meminta Raffi kembali kepada Mona.
Setelah Airin dan ibu mertuanya masuk ke dalam taksi. Ibu mertuanya berulang kali berdecak kesal, sambil terus memukul punggung kursi mobil sopir dengan kepalan tangannya berulang kali.
"Ini semua gara-gara kamu!"
Ibu mertuanya menatap Airin tajam.
__ADS_1
"Kenapa Aku?"
"Ya iyalah, kamu membuat suasana hati Mona buruk. Bisa-bisanya mengenal calon suami Mona."
Airin melirik sesaat, kemudian kembali menatap kaca jendela mobil. Melihat pemandangan hiruk pikuk jalanan yang macet lebih baik rasanya saat ini, daripada harus melihat wajah ibu mertuanya.
Setibanya dirumah,
Ibu mertuanya langsung berteriak kesal memanggilnya Bi Imah untuk menyiapkan jus jeruk yang dingin, alasannya untuk meredakan kepanasannya karena semobil dengan Airin untuk pertama kalinya.
Sedang Airin, kembali ke kamarnya. Berulang kali menghela nafas dan mengatur nafas. Siapa sangka? Jika Raffi bahkan orang tua Raffi masih mengenal Airin. Padahal, Angga selalu mengolok kondisi tubuh Airin yang semakin melebar dan mengatakan akan tidak mungkin jika Raffi mengenali Airin. Namun, kenyataannya dalam sekejap mata, Raffi mampu mengenali Airin tanpa harus memperkenalkan dirinya.
Rasanya … seperti menjalani penyesalan. Meninggalkan keluarga Raffi yang menyukainya dan hidup dengan keluarga Angga yang membencinya. Mungkin jika saat itu Airin mendengarkan nasihat Kak Ikmal. Kebahagiaan akan merengkuhnya. Harapannya yang memiliki kebahagiaan setelah menikah akan terwujud dengan hubungan harmonis mertua dan menantu. Tidak seperti sekarang, …
Suara ketukan pintu keras berulang kali, dan teriakan ibu mertuanya yang memanggilnya menggema. Airin bangkit dari duduknya yang baru sebentar di ranjang tempat tidur. Membuka pintu kamar dan bersiap mendengarkan ocehan ibu mertuanya yang pasti kali ini tetap menyalahkannya karena membuat anak kesayangannya Mona mengalami suasana hati yang buruk setelah melihat calon suami Mona dan Airin saling mengenal dan banyak mengobrol.
"Keluar kamu!"
"Ada apa, Mah?" tanya Airin lesu, membuka pintu kamarnya lebar-lebar lalu kembali duduk di atas ranjang tempat tidurnya.
"Apa sih maksudmu? Kamu sebenarnya tahu kan, jika calon suami Mona adalah temanmu dan teman kakakmu itu," cerca ibu mertuanya, masuk kedalam kamar Airin.
"Iya," jawab Airin lembut dan lirih. Menundukkan kepalanya karena malas berdebat dengan ibu mertuanya.
"Terus kamu bangga, kamu kira kamu merasa sempurna begitu, dikenal pria kaya,"
"Apa sih maksudnya Mamah?" tanya Airin, yang tidak mengerti alur pemikiran Ibu mertuanya. "kenapa Mamah jadi nyalahin aku? Kan awalnya aku sudah tidak mau ikut,"
"Ah, astaga menjijikkan. Aku sekarang tahu kamu adalah wanita ular. Pura-pura lembut dan tertutup di hadapan anakku, tapi mengobrol dengan pria milik orang lain dengan santai,"
__ADS_1
Airin merasa bangkit, untuk membantah. Namun, perutnya tiba-tiba nyeri dan kesakitan. Airin hanya mampu meringis menahan rasa sakit di perutnya. Sambil mendengarkan amarah yang diluapkan ibu mertuanya.
"Lihatlah! Sekarang kamu pura-pura kesakitan. Supaya nanti pulang Angga memarahiku, kan!" ucap Ibu mertuanya, mendekati Airin dan berkacak pinggang.
Airin hanya diam, dan masih menahan kesakitan di perutnya. Duduk perlahan, kembali di tempat tidur, mengeluarkan ponsel di dalam tasnya dengan niat untuk memanggil supir untuk mengantarnya ke Rumah Sakit.
Namun, Ibu mertuanya lebih mendekat. Mengambil ponsel Airin kemudian membantingnya di lantai.
"Dasar sialan! Diajak berbicara malah melakukan hal lain." gertak Ibu mertuanya, lalu keluar dari kamar Airin. Sedangkan Airin, masih meringis kesakitan. Tergelesot di lantai, sambil berusaha meraih ponselnya.
Tapi, layar ponselnya mati, kemungkinan akibat dibanting Ibu mertuanya. Airin lalu berteriak memanggil Bi Imah berulang kali. Namun, seperti biasa Bi Imah juga tidak bisa diandalkan. Airin bangkit dengan berjalan tangannya merambat ke dinding menuju jendela kamarnya yang terbuka.
Kemudian, berteriak memanggil satpam yang terlihat berjaga di teras.
"Pak Boim, suruh Kamil naik ke atas!" teriak Airin. Meminta Sang satpam menyuruh Kamil sang supir menuju kamar Airin.
Pak Boim mengangguk dan berlari mencari keberadaan Kamil.
Airin merasa ketakutan setengah mati, tubuhnya mengeluarkan banyak keringat dingin. Perutnya juga merasa sangat keram. Mungkin akibat stres melihat kemarahan Ibu mertuanya barusan.
Lima menit kemudian, Kamil dan Satpam masuk kedalam kamar Airin. Keduanya membopong tubuh Airin menuruni tangga untuk masuk ke Mobil.
Airin menyuruh Kamil Sang Sopir segera melajukan mobilnya ke Rumah Sakit. Karena takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.
"Kenapa tidak telepon Dokter aja sih, Bu? Suruh datang kerumah," gerutu Kamil.
"Ponsel saya mati, sudah jangan banyak bicara atau akan aku pecat!" gertak Airin sambil meringis menahan rasa sakit di perutnya.
Setibanya di Rumah Sakit, Airin langsung dilarikan ke ruangan dokter kandungan yang biasa memeriksanya. Dokter langsung meng- USG agar tahu penyebab kesakitan yang Airin rasakan.
__ADS_1
"Bagaimana dok?" tanya Airin.
Dokter itu diam, sambil masih melihat layar monitor. Kemudian, menggelengkan kepalanya. Hingga menambah kerisauan Airin..