Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 59


__ADS_3

Airin mundur, kemudian mendekat ke arah Ringga yang menangis setelah tendangan ibu mertuanya mengenai dada Ringga dan membuat Ringga tersungkur. Airin menggendong Ringga kemudian keluar dari kamar ibu mertuanya dengan kesal.


Kembali ke kamarnya dan menenangkan Ringga yang kesakitan.


"Sudah sayang, maafin nenekmu, ya. Dia tidak sengaja,"


Airin mengusap dada Ringga, kemudian memeluk putranya dengan erat.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara sirine mobil ambulans. Airin mengintip dari celah pintu kamarnya dan melihat beberapa perawat membawa tandu dan menggotong ibu mertuanya. Mona juga datang dengan wajah panik, berjalan mengikuti langkah ibu mertuanya di bawa dari belakang.


Airin kemudian menutup pintu kamarnya, saat ketahuan dengan Mona. Airin merasa sangat kesal, dan tidak habis pikir. Setega itu ibu mertuanya kepada dirinya dan anaknya.


Ponselnya berdering, Angga menelpon. Airin pun mengatakan jika ibu mertuanya dilarikan ke Rumah Sakit. Angga kemudian langsung menutup teleponnya, sebelum Airin membicarakan hal lainnya.


Angga pun semalaman tidak pulang ke rumah, dia berada di Rumah Sakit untuk menjaga ibu mertuanya. Airin menaruh kesal kepada suaminya yang seakan ikut juga mempercayai Mona daripada dirinya, saat Mona masuk kedalam kamar ibu mertuanya membawa beberapa baju untuk dibawa ke Rumah Sakit. Airin merasa tidak berguna untuk hal apapun dirumah ini.


Hampir 3 hari, akhirnya Angga pulang ke rumah, ibu mertuanya duduk di kursi roda didampingi dengan Mona. Ibu mertuanya mengalami stroke ringan, hingga membuat tubuhnya sedikit kesulitan untuk bergerak. Airin hanya diam mendengar penjelasan itu dari Angga, saat suaminya menjelaskan kondisi ibu mertuanya. Toh, dia juga tidak bisa melakukan hal apapun.


Sejak saat itu, Mona jadi lebih sering menginap dirumah dengan alasan menjaga ibu mertuanya. Rasanya ketenangan itu memudar dan kembali keruh.


Sepanjang sarapan, Mona selalu memandangi Angga terang-terangan di depan Airin. Mengobrol dengan suaminya dengan logat manja. Angga pun juga sama, selalu membahas kebaikan Mona yang merawat ibu mertuanya saat keduanya berada di dalam kamar. Padahal, jika sekedar untuk merawat ibu mertuanya Airin pun sanggup. Namun, tidak ada cela dan kesempatan untuk melakukannya.


Rumah ini terasa hidup kembali, keceriaan Mona dan tawa Mona kembali mengisi setelah lama hening. Ibu mertuanya terlihat menyukai saat-saat ini. Dan semakin tidak menganggap Airin. Berulang kali Airin menawarkan diri untuk membantu, namun hanya ada emosi yang meluap dari ibu mertuanya yang didapatkannya. Hingga akhirnya setelah memarahi Airin, ibu mertuanya pingsan. Angga dan Mona pun menyalahkan Airin sebagai penyebabnya.


"Sudah, tidak usah dekati mamaku!"


"Biarkan Mona saja yang mengurusnya,"

__ADS_1


Perkara itu seakan menyayat nurani Airin untuk berbuat kebaikan sebagai menantu.


Ingin mengelak ucapan suaminya pun percuma, itu hanya akan menjadi bumbu perdebatan.


Pagi itu, saat akan mengantar Ringga ke sekolah. Airin melewati kamar ibu mertuanya, ibu mertuanya terdengar memanggil Mona berulang kali. Namun, Airin tidak melihat keberadaan Mona. Airin mencoba bertanya kepada Bu Imah, dan Bi Imah pun mengatakan jika Mona pergi ke salon pagi-pagi menumpang mobil Angga. Airin pun berdecak kesal, kemudian meminta Bi Imah datang ke kamar ibu mertuanya.


"Saya mau nyuci dulu, Non," sahut Bi Imah lalu pergi, tanpa menjalankan perintah Airin.


Airin pun berpura-pura tidak peduli, kemudian mengajak Ringga keluar rumah untuk bergegas berangkat sekolah. Saat akan masuk ke dalam mobil, pikiran Airin masih terasa terganggu. Jika nanti, ibu mertuanya terjadi sesuatu di dalam kamar. Airin pun menyuruh supir menunggu, lalu kemudian masuk kembali kedalam rumah.


Airin berjalan ke arah kamar ibu mertuanya, dan masih mendengar ibu mertuanya memanggil nama Mona. Airin menarik nafasnya, kemudian membuka pintu kamar.


Airin pun melihat ibu mertuanya sudah terkapar di lantai dengan baju yang basah kuyup karena mengompol. Airin bingung dan panik, ibu mertuanya kemudian memukul tongkat ke arah lantai dan menyuruh Airin pergi. Airin kesal dengan sikap ibu mertuanya namun tidak tega meninggalkan ibu mertuanya dalam kondisi seperti ini.


Akhirnya Airin meminta supir untuk mengantar Ringga ke sekolah. Sedangkan dirinya membantu ibu mertuanya berbaring ke tempat tidur.


Ibu mertuanya berubah diam, saat Airin melakukan semua hal itu. Airin mengelap wajah ibu mertuanya dengan handuk basah yang baru. Menyisir rambut ibu mertuanya hingga tertata rapi.


"Mamah lapar?" tanya Airin. Ibu mertuanya diam, sedikit membuang muka tanpa menyahut.


"Mona, Mona …"


Ibu mertuanya masih memanggil nama Mona. Airin pun pergi dari kamar ibu mertuanya, kembali ke kamarnya untuk mengganti bajunya yang bau dan basah. Setelah itu, mengambil nasi yang diisi dengan sayur. Lalu, dibawanya ke kamar ibu mertuanya.


Saat masuk kedalam kamar, Airin melihat ibu mertuanya mencoba menarik kursi roda mendekat. Airin pun membantu ibu mertuanya duduk ke kursi roda. Dan mendorongnya perlahan keluar kamar. Berhenti di ruang tamu, Airin mencoba ingin menyuapi ibu mertuanya. Namun, Ibu mertuanya membuang muka, dan mendorong mangkuk makanan yang dibawa Airin hingga terjatuh ke lantai.


"Per … gi!"

__ADS_1


Airin melirik ibu mertuanya dengan kesal. Kemudian mengambil vacum cleaner untuk membersihkan makanan yang berserakan di lantai.


"Ya sudah urus saja sendiri!" ucap Airin lalu pergi setelah membersihkan lantai. Meninggalkan ibu mertuanya sendirian dan kembali ke kamar. Namun, Airin masih gundah, akhirnya kembali turun ke lantai bawah menuju ruang tamu.


Mendekat dan menatap ibu mertuanya.


"Apa mamah tidak bisa memberikan sedikit cinta kepada Airin?" tanya Airin.


Ibu mertua mendongak dan menatap Airin.


Airin berjongkok, meraih tangan ibu mertuanya. Menggenggamnya dengan erat. Ibu mertuanya membuang muka.


"Ijinkan Airin untuk bisa membagi cinta itu juga kepada mamah. Maafkan Airin,"


Airin menundukkan kepalanya, dan air matanya perlahan menetes di pangkuan ibu mertuanya.


Namun, Mona tiba-tiba datang dan mendorong tubuh Airin.


"Pergi sana!" ucap Mona.


Airin bangkit, lalu mencoba melawan Mona. Mendorong pundak kiri Mona.


"Kamu yang pergi, aku ini menantu dirumah ini!"


"Menantu?" Mona menyeringai, menatap Airin tajam. Kemudian mendorong tubuh Airin dengan keras hingga tersungkur di lantai.


Airin mencoba bangun, namun perutnya tiba-tiba kram dan sakit. Hingga akhirnya kesulitan untuk bergerak.

__ADS_1


__ADS_2