Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 35


__ADS_3

Semua orang terlihat menggebu meneriakkan kalimat 'Usir saja dari kampung!'.


"Rin, bawa Ibumu masuk ke dalam," ucap ayahnya. Airin mengangguk kemudian membopong ibunya bersama Angga, sedang ayahnya dan kak Ikmal masih mencoba menenangkan warga dan mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi?.


Airin membaringkan ibunya ke tempat tidur, sedang, Angga keluar untuk ikut mencari tahu penyebab kehebohan ini.


Air mata tumpah perlahan, Airin menatap ibunya yang masih pingsan, sambil mengusap telapak kaki ibunya dengan minyak angin. Perasaan takut dan bingung mengaduk hatinya saat ini.


"Dek," ucap ibunya lirih membuka mata. Airin menyeka air matanya, lalu memeluk ibunya erat.


"Apa mereka masih diluar?" tanya Ibunya, Airin mengangguk kemudian membuka pintu kamar ibunya dan melihat situasi di teras rumahnya.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Airin.


"Mereka mengatakan jika kamu waktu kabur dari rumah pergi ke kota untuk menjadi pela**r, sehingga akhirnya kamu hamil Ringga dan untuk menutupi semua kamu berikan Ringga pada kakakmu," ucap ibunya bercerita. Airin pun terkejut dengan berita itu. Kemudian meninggalkan ibunya di kamar, dan ikut maju ke depan pintu untuk memberikan kebenaran.


"Anak saya yang cerita, Dina kan teman sekelas Airin saat SMA, katanya Airin kabur tidak sekolah untuk menjadi pela**r, sampai hamil," teriak salah satu warga wanita paruh baya.


"Memang ada bukti jika Airin melac*r?" tanya ayahnya Airin pada warga dengan tegas.


"Ringga anaknya Ikmal itu lah bukti, jika memang dia anaknya Airin dari hasil melac*r," sahut wanita itu.


"Dia memang hamil saat sekolah, pria ini …, dia ayahnya Ringga dan mereka akan segera menikah," balas ayahnya, kemudian menarik tangan Angga berada di depan.


"Iya saya ayahnya Ringga, dan saat itu kami masih sekolah, kami akan segera menikah, jadi untuk apa diperdebatkan, Airin tidak seperti dugaan kalian!" ucap Angga tegas.


"Alah jangan bohong, kenapa sampai baru anak itu besar kalian menikah, kamu pasti bukan ayah Ringga, dan ingin membantu menutupi masalah ini!" teriak salah satu warga.

__ADS_1


"Saya punya buktinya! Dokumen tes darah saat operasi Ringga," gertak Angga.


"Sudah ini mau adzan magrib, kalian pulang. Besok pagi kita berkumpul lagi disini untuk membahasnya, dan bawa Dina anakmu itu untuk menjadi saksi! Jika dia kabur berarti dia yang berbohong!" ujar kak Ikmal dengan nada keras.


Suara adzan pun berkumandang, semua warga berbondong-bondong pergi satu persatu keluar dari halaman rumah Airin.


Airin hanya mampu menangis mendengarkan fitnah keji itu, ibunya juga keluar dari kamar dan ikut menangis sambil memeluk Airin.


Semua keluarga berkumpul di ruang tamu, hening tanpa pembahasan menunggu ketenangan batin setelah dari tadi berteriak menenangkan warga.


"Kalian akan menikah, kan?" tanya kak Ikmal, lalu menoleh ke arah Angga dan Airin.


Airin hanya diam, karena pernikahan ini terjadi menunggu keputusan ayahnya Angga.


"Iya, mungkin memang tidak minggu ini, tapi saya usahakan secepatnya, kak." jawab Angga.


"Kenapa?" tanya ayahnya, menoleh ke arah Airin.


Ayahnya menghela nafas panjang dan berusaha tenang, kemudian pergi ke kamar tanpa pertanyaan lainnya.


"Jangan sampai gagal, jika tidak kehormatan keluarga kita dipertaruhkan, bahkan ayah sampai mundur menjadi kepala desa itu karena apa? Karena dirimu, ayah tidak ingin keributan seperti ini terjadi, tidak becus mengurus anak tapi mau mengurus warganya!" gertak kak Ikmal, Airin dan Angga mengangguk bersamaan, tertunduk tanpa sepatah kata apapun.


Setelah kak Ikmal pergi dan ibunya masuk kedalam kamar, Airin kembali membahas masalah ini kepada Angga. Airin meminta untuk sekali lagi datang kerumah orang tua Angga besok, untuk meminta restu agar pernikahan ini secepatnya terlaksana. Angga mengangguk kemudian mengusap kepala Airin dengan senyum.


***


Esok harinya pukul 9 pagi, warga sudah berkumpul di depan teras rumah keluarga Airin. Dina yang menjadi saksi untuk permasalahan ini juga hadir. Angga mengeluarkan bukti dokumen jika Ringga memiliki DNA 98% yang sama dengan Angga, hingga bisa dipastikan jika memang Ringga anak Angga. Angga juga berteman sekelas saat itu bersama Dina, jadi Dina tidak mungkin tak tahu, siapa Angga?.

__ADS_1


"Katakan, siapa yang menyuruhmu menyebarkan berita fitnah ini!" gertak Angga pada Dina.


"Mona mengatakan jika melihat Airin menjadi pelac*r saat di Bandung kota, dia juga mengatakan jika Airin hamil, karena itu kabur dan tidak sekolah," jawab Dina tertunduk.


"Itu bohong, kamu kan anak juga teman sekelas Airin, masa kamu juga tidak tahu seperti apa Airin!" gertak Angga lagi, ayahnya Airin lalu menarik tangan Angga untuk duduk dan bersikap tenang.


"Jadi semua, ini adalah murni salah paham, memang mereka melakukan kesalahan saat sekolah, karena itu Airin melahirkan anak itu sendirian di Bandung tanpa sepengetahuan nak Dewangga ini, karena tidak ingin keduanya keluar dari sekolah, karena mereka kan saat itu sudah kelas 3 SMA, Airin memberikan kesempatan untuk nak Dewangga sampai lulus, " ucap ayahnya Airin menjelaskan.


"Mereka akan menikah, dan memperbaiki kesalahan. Bukankah setiap manusia pasti punya kesalahan, sebagai orang tua saya akan memberikan kesempatan pada mereka, kalian kan juga punya anak gadis dan jejaka," imbuh ayahnya Airin.


Setelah mendengar penjelasan itu, satu persatu warga pergi dan pulang ke rumah. Meskipun masih dengan menggumam kekesalan dan memberikan peringatan pada Angga untuk tidak datang ke kampung ini jika belum menikahi Airin secara sah. Angga pun menyetujui syarat itu.


Setelah beberapa jam menenangkan diri, Angga dan Airin memutuskan untuk kembali kerumah orang tua Angga meminta restu, karena pernikahan ini tidak bisa diundur lagi.


Sampai di rumah, Angga melihat Mona juga berada disana. Orang tua Angga cuek dengan kehadiran Airin.


"Ada apa?" tanya ayahnya Angga.


"Aku ingin segera menikah, dan tidak mau menunggu lagi," ucap Angga langsung pada intinya.


Mona langsung mendekat ke arah Airin dan Angga, kemudian marah dan tidak akan mengijinkan pernikahan itu terjadi.


"Kita sudah bertunangan, aku tidak bisa!" gertak Mona.


"Aku juga tidak bisa menikahimu, aku dan Airin sudah saling mencintai, dan semua ini kan terjadi juga karena kamu yang bohong, kamu mengetahui Airin hamil dan akan mengatakan padaku, lalu kenapa kamu malah menyuruhnya kabur!" balas Angga menggertak.


Mona lalu diam, dan bersembunyi di balik punggung ibunya Angga.

__ADS_1


"Kami akan menikah meskipun tanpa restu dari kalian," ujar Angga. Kemudian ayahnya mendekat, dan langsung menampar pipi Angga dengan keras. Airin mundur dan ketakutan.


"Jika hanya butuh pertanggung jawaban, berikan anak itu pada keluarga Angga, kau bisa bebas, Mona dan Angga akan tetap menikah, mengurus anak hasil perbuatan terlarang kalian!" ucap ayahnya Angga mendekat, dan menunjuk ke arah Airin dengan tatapan tajam.


__ADS_2