Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 41


__ADS_3

Airin hanya mampu mengedipkan matanya, melihat wanita cantik yang keluar dari mobil Angga. Dia tidak menyangka wajah Mona bisa berubah seperti itu, dan tubuhnya juga lebih sehat dari Airin. Airin memendam kekesalan terhadap Mona, karena Mona dengan sengaja membuat kecelakaan itu terjadi.


"Siapa dia pah?" tanya Ringga, mendekat ke arah Airin.


"Dia tante Mona, kau pasti terkejut kan?" ucap Angga, kemudian menarik tangan Mona mendekat ke arah Airin dan Angga. Airin yang tidak berdaya dengan kelumpuhannya hanya bisa diam, dan menerka-nerka apa yang akan dilakukan Mona lagi terhadap dirinya.


Ringga melangkah, kemudian menutupi Airin dengan punggungnya.


'Syukurlah nak, mama juga tidak ingin melihat wajah wanita jahat itu,' batin Airin,


"Kenapa kesini? Bibi yang membawa pergi mamaku dan mengembalikannya dengan seperti ini, bibi jahat! Pergi!" gertak Ringga, merentangkan tangan.


"Hus, jangan begitu Ringga, dia teman mama mu, tante Mona juga mengalami hal yang sama saat kecelakaan," sahut Angga, kemudian mendekati Ringga.


Ringga membuang muka, kemudian mendorong kursi roda ibunya masuk kedalam kamar.


"Ringga!" teriak Angga memanggil putranya, namun Ringga tetap bergeming menghiraukan teriakan ayahnya.


Setelah masuk di dalam kamar, Ringga kemudian mengunci pintu kamar. Dan berdiri di depan ibunya. Airin meneteskan air mata karena terharu dengan sikap anaknya yang mengerti perasaannya. Seharusnya Airin menyadari dari dulu, jika naluri anak soal ketulusan lebih tajam daripada orang dewasa. Karena dari awal kedatangan Mona pun, Ringga tidak menyukainya meskipun selalu di bawakan Mona mainan bagus dan mahal.


'Terimakasih sayang,' batin Airin.


Ringga menghapus air mata yang jatuh di pipi Airin, kemudian memeluk Airin dengan erat.


"Mama, mulai hari ini, aku akan selalu melindungi mama," ucap Ringga lirih berbisik ke telinga Airin.


Airin mendengar tawa Angga dan Mona yang berbincang di ruang tamu, begitupun juga tawa orang tuanya, seakan semuanya di luar sedang membahas hal menarik. Airin melihat Ringga di atas tempat tidur masih mengutak-ngatik mainan yang diberikan Angga. Melihat sikap mandiri dan berani Ringga, membuat Airin terpukau.

__ADS_1


Setelah hampir 2 jam, akhirnya Airin tidak mendengar suara obrolan dari luar.


"Ringga …, Ringga, ayo makan sayang!" suara kak Dista terdengar dari luar pintu, namun Airin melihat ke arah anaknya yang masih tertidur lelap. Pintu yang terkunci tidak bisa membuat kak Dista masuk kedalam rumah. Airin menekan tombol maju dan mundur di kursi rodanya, kemudian ditabrakkan perlahan berulang kali ke tempat tidur, agar Ringga bangun.


Perlahan Ringga mulai membuka mata, kemudian tersenyum melihat Airin. Ringga kemudian membuka kunci dan membuka pintu kamar.


"Kamu ini! Ayo makan!" kata kak Dista mengomeli Ringga.


"Makan disini saja! Ringga mau menjaga mama," sahut Ringga, kemudian naik ke atas tempat tidur dan meloncat-loncat.


"Ih, sini! Biarkan mama Airin istirahat, ayo keluar dan makan! ibu jewer nanti!" gertak kak Dista, kemudian menarik tangan Ringga.


"Rin, aku ajak Ringga keluar dulu ya, kamu istirahat saja," imbuh kak Dista, kemudian mengusap kepala Airin lembut.


Airin mengedipkan mata, memberi isyarat mengerti. Ringga kemudian keluar dari kamar, dan Airin merasakan kesunyian lagi. Airin menggerakkan kursi rodanya ke arah ruang tamu, dan tidak melihat Angga maupun Mona lagi.


Suara tawa yang keras dari dapur membuat Airin penasaran dan mendekat. Airin melihat Mona dan ibunya sedang asyik mengobrol sambil memasak. Mona menoleh dan menyadari keberadaan Airin, kemudian tersenyum dan mendekat ke arah Airin.


"Maafkan aku ya Rin, hingga membuatmu seperti ini, tapi tenang saja aku dan Angga akan mencarikan Dokter terbaik di Singapura, agar kamu bisa kembali pulih dan sehat seperti aku," ucap Mona, kemudian memeluk pundak Airin. Namun bukan kalimat itu saja yang terdengar, airin bisa mendengar juga Mona yang menahan senyumnya.


Airin menekan tombol, dan mendorong kursi rodanya maju, hingga Mona kesakitan. Airin lalu pergi menghindar dan kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar Airin sudah melihat Angga yang sedang berbaring. Airin menatap suaminya dalam, dan melihat senyuman yang telah lama padam dari wajah Angga, muncul kembali bersama dengan kedatangan Mona.


"Kau dari mana saja?" tanya Angga, merubah raut wajahnya yang awalnya tersenyum melihat layar ponselnya, kemudian ketus ketika melihat Airin. Angga menggendong tubuh Airin untuk naik ke atas tempat tidur.


"Aku sudah membuat jadwal dengan dokter fisioterapi di Singapura, dokter yang sama menangani Mona. Kita akan berangkat satu bulan lagi, semoga harapan kali ini sesuai keinginan kita," kata Angga sambil menggenggam tangan Airin.

__ADS_1


"Kita mungkin akan disana selama 6 bulan, aku akan pulang pergi ke Indonesia untuk mengurus beberapa pekerjaan, aku harap kamu baik-baik saja saat kita tiba disana, dan bisa menjalani semua terapi dengan baik," imbuh Angga. Airin hanya bisa diam, mendengarkan ucapan Angga.


"Angga makan, yuk!" suara Mona terdengar dari luar sambil mengetuk pintu kamar Airin. Angga melepaskan tangan Airin dan membuka pintu. Mona menarik tangan Angga menuju ruang makan, dan Airin hanya bisa membungkam rasa cemburunya di dalam hati.


'Apa kau juga akan berlari ke arahnya lagi?' tanya Airin dalam batinnya. Melihat Mona dan Angga yang sepertinya kembali akrab, membuat Airin merasa sedih. Padahal saat sebelum kecelakaan dirinyalah yang selalu membuat Angga dan Mona agar kembali akur menjadi teman, namun saat situasi saat ini berbeda, Airin merasa menjadi orang bodoh yang membuat peluang untuk Mona masuk kedalam hati Angga lagi.


Suasana rumah menjadi ramai saat Mona datang, bukan hanya sekali …. Hari berikutnya Mona juga datang, kali ini membawa bunga mawar dan mengatakan bunga itu adalah hadiah untuk Airin. Mona lalu menawarkan dirinya kepada orang tua Airin agar bisa ikut merawat Airin, karena bagaimanapun katanya kecelakaan itu terjadi bersamanya. Airin bisa melihat wajah ibunya yang bahagia, ketika mendengar usulan itu dari Mona. Airin pun tidak bisa menolak atau berbuat apapun, bahkan Angga juga malah mengucapkan banyak terimakasih kepada Mona yang telah perhatian kepada Airin.


"Selamat ya, sebentar lagi kau akan pulih Airin. Kamu beruntung, dokter Najwa yang merawatku adalah orang yang cukup sibuk, tapi Angga bisa mendapatkan jadwal pemeriksaan untukmu tanpa menunggu lama." ucap Mona, yang sedang menyisir rambut Airin. Airin hanya diam, dan menatap wajah Mona yang baru di depan cermin.


'Hanya wajahmu saja yang berbeda, tapi aku tahu, kau tetaplah Mona yang egois.' batin Airin.


"Jangan sentuh mamaku!" teriak Ringga yang tiba-tiba datang dan masuk kedalam kamar.


"Aku hanya menyisir rambut mamamu saja," sahut Mona.


Ringga menarik sisir dari tangan Mona, kemudian memukul tubuh Mona dengan sisir itu, hingga Mona kesakitan dan menghindar. Mendengar perdebatan itu, Angga langsung datang dan memarahi Ringga. Airin kemudian menekan tombol di kursi rodanya dan menghalangi Angga yang akan memukul Ringga.


"Aku tidak suka dengan bibi jahat itu! Jangan biarkan dia mendekati mamaku!" teriak Ringga keras. Angga kemudian menarik tangan Mona untuk keluar dari kamar Airin. Airin mendengar Angga mengucapkan minta maaf kepada Mona karena tingkah Ringga. Airin jadi merasa benci sikap Angga.


***


Hari itu pun tiba, hari dimana Angga dan Airin menuju bandara. Keduanya akan pergi ke Singapura melakukan terapi untuk kesembuhan Airin. Airin menoleh, dan melihat Angga sibuk mengecek kembali beberapa dokumen dan paspor di sepanjang perjalanan.


Setelah tiba di bandara, Angga berhenti mendorong kursi roda Airin. Airin mendongak perlahan dan melihat …


"Angga …!" teriak Mona tersenyum, sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


__ADS_2