
Airin menyadari jika perjalanan ini bukan hanya tentang dirinya dan Angga melainkan ada orang ketiga yaitu Mona. Angga mengatakan pada Airin, jika nanti selama di Singapura, Mona akan menemani Airin saat Angga kembali ke Indonesia untuk bekerja beberapa hari.
"Kamu tidak akan kesepian, Rin," ucap Angga, sambil menepuk pundak Airin.
Namun, Airin tidak melihat hal yang baik saat ini. Pikirannya semakin risau karena Mona ikut dalam perjalanan ini. Mona berlari dan mendekat ke arah Angga, kemudian menggenggam tangan Angga dengan senyum yang mengembang.
"Ah, senangnya jadi bisa liburan sekalian," ucap Mona, kemudian mengambil alih mendorong kursi roda Airin.
"Mama dan papa mu tidak marah, kamu ikut dengan kami?" tanya Angga. Mona menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
***
Tiba di Singapura, Airin dan Angga langsung singgah ke hotel untuk beristirahat, Mona berada di kamar sebelah Airin dan Angga.
Belum sempat beristirahat, Mona sudah menghubungi Angga untuk mengajaknya makan di resort, kemudian meninggalkan Airin di kamar, dengan alasan agar Airin istirahat. Airin merasa kesal dengan sikap Angga yang malah mengikuti keinginan Mona daripada berada disisinya. Namun, Airin tidak berdaya untuk melakukan apapun dan hanya bisa melihat Mona yang menggandeng tangan Angga keluar dari pintu kamar.
1 jam kemudian, Angga kembali ke kamar dengan senyum yang bahagia. Lalu, menyuapi Airin dan membersihkan tubuh Airin, kemudian menggantinya dengan piyama.
"Ah, sudah lama aku tidak kesini …," keluh Angga, Airin melihat kerinduan Angga dengan kehidupan lamanya yang mewah.
"Seharusnya setelah menikah, kita berbulan madu di sini kan? Tapi, saat itu kita tidak punya cukup uang untuk kesini, lain kali aku akan mengajak Ringga dan kamu lagi kesini untuk liburan. Karena itu, kamu harus cepat sembuh," ucap Angga membelai rambut Airin.
__ADS_1
***
Esok harinya, pemeriksaan pun dimulai. Airin masuk kedalam suatu ruangan tertutup bersama dokter untuk melakukan CT-scan. Angga dan Mona menunggu di luar ruangan.
Setelah hampir 30 menit, akhirnya selesai dan Airin dibawa kembali ke ruang rawat inap untuk pemeriksaan lainnya. Angga dengan sabar duduk di samping Airin dan menunggu setiap hasilnya. Sedangkan Mona tidak terlihat lagi, sehingga membuat Airin tenang.
Namun, saat tengah malam Mona datang.
Mona membawakan beberapa makanan untuk Angga, kemudian bergiliran menjaga Airin saat Angga pergi ke kamar mandi. Setelah itu Angga dan Mona duduk berbincang di sofa, sambil saling berbisik menceritakan sesuatu. Airin meliriknya sesaat, dan hanya bisa menyimpan rasa cemburunya lagi dan lagi.
Bahkan saat tengah terjaga, Airin melihat Mona yang tertidur bersandar di bahu Angga, begitupun Angga yang ikut terlelap tidur setelah keduanya berbincang cukup lama.
***
Hari berganti bulan. Saat ini Angga sudah dua hari kembali ke Indonesia untuk urusan pekerjaannya, sedangkan pendamping Airin untuk menjaganya adalah Mona. Mona terlihat sangat antusias dengan setiap tahap perubahan yang Airin bisa lakukan. Bahkan Mona juga dengan sabar mengurus Airin dari mulai menyuapi dan membersihkan tubuh Airin.
Airin merasa kesal pada Mona, namun juga tidak bisa memungkiri jika Mona masih memiliki hati yang baik sebagai teman.
Setelah Angga kembali datang, Mona seakan mencari perhatian di depan Angga, dan membuat kedekatan Airin dan Angga renggang. Airin hanya bisa melihat wajah suaminya sekilas saat datang, karena Mona selalu membuat alasan agar Airin dan Angga tidak banyak bertemu.
Saat ini waktu kepulangan Angga kembali ke Indonesia untuk urusan pekerjaan lagi, Airin melihat dengan kedua matanya, bagaimana Mona memperlakukan Angga selayaknya pengganti Airin. Mulai dari merapikan jas dan dasi Angga, kemudian menggenggam tangan Angga dan mengantar Angga sampai ke Bandara.
__ADS_1
Airin bisa melihat, Angga mulai nyaman dengan Mona kembali. Setiap malam, Airin selalu mendengar percakapan Mona dan Angga lewat telepon hingga sampai larut dan tertidur. Padahal, meskipun Airin belum bisa menjawab telepon Angga dengan baik, Airin juga merindukan suara Angga, terlebih suara Ringga. Mona seakan tidak memberikan waktu untuk Airin bisa menelepon anaknya atau keluarganya. Setelah proses terapi, Mona hanya mengajak Airin kembali ke kamar hotel, dan menyuruh seorang wanita paruh baya yang tidak dikenal, untuk mengurus semua keperluan Airin.
Malam ini kamar terasa sepi, hanya ditemani suara deras air hujan yang turun. Airin yang mulai bisa menggerakkan tangannya, saat ini mulai terbiasa turun dari tempat tidur dan mencoba duduk perlahan ke kursi rodanya. Airin mendekat ke arah jendela, dan membuka tirai.
'Apa kau baik-baik saja, Nak?' tanya Airin perlahan dengan batinnya, menanyakan tentang kabar Ringga pada hujan. Karena tidak ada ponsel di kamarnya, sehingga membuat Airin tidak bisa menghubungi keluarganya. Meskipun dalam berbicara, Airin belum pulih benar, namun setidaknya ingin rasanya mendengar suara ibu, ayah dan anaknya.
***
4 bulan berada di Negara Asing dengan kesepian yang menyelimuti diri. Meskipun ada perubahan, namun perubahan itu tidak seberapa. Airin hanya masih bisa menggerakkan tangannya, dan berbicara terbata-bata dan tidak jelas. Airin yang kesepian tanpa penyemangat, merasa frustasi dengan dirinya. Dia tidak bisa langsung cepat pulih seperti Mona. Airin hanya bisa menyeka air matanya, dan terus berusaha bangkit. Harapannya sebelum kembali ke Indonesia adalah bisa berjalan, atau bahkan berlari dan memeluk Ringga. Namun, otot kakinya masih sangat sulit untuk digerakkan, kalau pun jika ingin sedikit berdiri, Airin harus menahan rasa sakit hingga menembus ke kepalanya.
"Bagaimana jika selamanya kau lumpuh?" ujar Mona berbisik ke telinga Airin. Airin kemudian melirik ke arah Mona dan melihat senyum pahit yang Mona berikan.
"A…a…t...u pa...s...ti bi…sa," sahut Airin dengan suara yang terbata-bata.
"Alah, ngomong aja nggak pecus! Ya udah terserah kamu saja." balas Mona kemudian pergi dari kamar Airin. Airin mencoba bangun dari kursi rodanya lagi, dan berdiri perlahan. Namun, otot betisnya terasa kencang dan sakit luar biasa, hingga membuat Airin jatuh tersungkur. Airin menangis dan masih berusaha bangkit. Menarik tubuhnya, sambil menggenggam erat ujung tempat tidurnya untuk membantunya bangun.
A … a … a …, teriak Airin menahan rasa sakit di kakinya. Airin yang sudah tidak ada kekuatan lagi, kemudian terkapar di lantai sambil terus mengatur irama nafasnya. Airin mengepalkan tangannya, dan mulai bangkit kembali, kali ini menarik sudut meja dengan kuat, hingga akhirnya kakinya perlahan bisa menapak lantai, meskipun harus menanggung rasa sakit.
Namun, tiba-tiba …,
Pyaar … darah mulai keluar dari telapak kakinya.
__ADS_1