
Mata masih terbuka, melihat air mata bercampur dengan darah. Airin menyentuh perutnya, 'maafkan mama'. Perlahan mata tertutup bersamaan dengan terdengarnya teriakan orang dan suara sirine ambulan.
Perlahan mata Airin terbuka kembali, kali ini dia bisa melihat Angga dan ayahnya yang mengiringinya untuk masuk ke dalam ruangan UGD. Airin hanya mampu menangis, dan menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Bertahanlah, sayang …," ucap Angga, menggenggam tangan Airin, kemudian keduanya berpisah ketika Airin bersama dokter dan perawat masuk ke dalam UGD.
'Maafkan aku,' batin Airin keras, menatap suaminya dari kejauhan.
Setelah itu, Airin tidak melihat apapun lagi. Semua terasa gelap gulita. Hanya suara beberapa orang yang terdengar kemudian perlahan menghilang.
Airin mendapatkan beberapa operasi dan jahitan di tubuhnya, dokter juga mengatakan jika bayi di dalam perut Airin juga telah meninggal, semua keluarga pun tercengang karena mereka tidak tahu jika Airin sedang hamil. Ibunya pingsan seketika di tempat mendengar kabar itu. Saat ini Airin sedang koma, dan menunggu keajaiban agar dia bisa sadar. Angga dan kak Ikmal berteriak histeris mendengar itu.
Hari yang kelabu, hujan yang turun, suaranya menemani Angga yang tengah duduk di ruang kamar inap Airin berbaring. Tangannya masih menggenggam tangan Airin, menguatkan diri jika Airin akan kembali dan bernafas.
Sedangkan Mona, juga mengalami hal yang sama seperti Airin. Terbaring koma, dengan penuh luka hingga wajah dan tubuhnya berbalut perban. Kejadian ini pun tidak tahu harus berujung bagaimana, karena kedua keluarga baik Airin dan Mona juga mengalami hal yang sama. Semua depresi melihat anak mereka mengalami koma.
Namun, Mona lebih beruntung, dia bangun setelah 10 hari koma, kemudian orang tuanya langsung membawa Mona ke rumah sakit di luar negeri untuk melakukan perawatan lebih dan operasi bedah plastik, karena wajah Mona benar-benar rusak, mengalami beberapa retakan tulang rahang. Sedang Airin, masih sama terbaring tanpa tanda-tanda keajaiban.
Setiap hari keluarganya bergiliran menjaganya, kadang Angga, kadang ayahnya, kadang kak Ikmal, kadang juga Ringga bersama kakak iparnya.
__ADS_1
Ringga memeluk ibunya erat, dan berbaring di samping ibunya. Balita pintar yang sekarang duduk di bangku TK, menceritakan kesehariannya di sekolah kepada ibunya yang koma.
"Mama, Ringga tadi dimarahi nenek, Ringga nggak mau sekolah, nenek marah-marah. Mamah Dista juga marah-marah. Ringga mau nemenin mamah disini," keluh Ringga dengan bahasanya yang kadang masih terdengar berantakan.
Beberapa keluhan, cerita bahkan nyanyian dari Ringga mengisi hari-hari Airin yang belum sadarkan diri. Kadang tangisan Ringga menetes di wajah Airin, kadang pelukannya yang hangat bersandar di dada Airin.
"Mama, bangun ya, Ringga kangen …," ucap Ringga diakhiri dengan tangisan.
Ringga mengusap wajah ibunya, dan menghapus air matanya sendiri yang jatuh di wajah Airin. Mencium kening Airin dan membisikkan kerinduan.
"Kata mama, jika Ringga sakit, pelukan dapat mengobatinya, Ringga sudah setiap hari peluk mama, mama …, aku sayang mama," ucap Ringga.
***
Esok harinya Ringga datang lagi setelah pulang dari sekolah, kali ini dia datang dengan menangis. Kemudian mengeluhkan kepada Airin jika ada teman yang mendorongnya hingga terjatuh, menunjukkan luka-luka di tubuhnya meskipun Airin tidak melihatnya.
"Mama, lihat ini, ini , ini … semua sakit ma …" keluh Ringga menangis. Setelah tangisannya berhenti, berbaring di samping Airin kemudian menunjukkan tulisan pertamanya saat di sekolah. Menceritakan cerita lucu tentang kakeknya, dan menceritakan neneknya yang sering menangis dan juga marah-marah setiap bertemu Ringga. Setelah puas bercerita kemudian tertidur lelap di samping Airin dan saat sore hari kak Dista mengajaknya pulang ke rumah.
24 hari berlalu, dan Airin masih sama. Keluarganya mengadakan acara pengajian untuk berdoa bersama Agar Airin segera pulih, pasalnya kata dokter Airin sudah dinyatakan meninggal dalam medis, meskipun detak jantungnya yang lemah terdeteksi di layar monitor. Namun, keluarga dari pihak Airin masih ingin menunggu beberapa hari lagi, setelah benar 40 hari tidak ada tanda-tanda kehidupan Airin, maka mereka sudah akan ikhlas.
__ADS_1
Angga yang sudah terlarut dalam kesedihan, bahkan tidak bisa menopang lagi dirinya, kehilangan Airin menjadi pukulan terberat bagi Angga. Hari-harinya seperti kelam tanpa kehidupan. Dia sibukkan hanya bekerja dan tidak ingin pulang, bahkan juga tidak menjenguk Airin beberapa hari karena benar-benar merasa takut jika kematian Airin tepat berada di hadapannya dia akan tidak berdaya untuk hidup lagi.
Setiap hari Ringga hanya bisa menelepon ayahnya tanpa bertemu, hingga tangisa Ringga yang tersedu-sedu di telepon membuat Angga akhirnya menjenguk Ringga. Angga memeluk anaknya dengan erat tanpa kata-kata, karena hanya air mata yang bisa keluar.
Kedua laki-laki yang sangat di cintai Airin duduk berdua, saling menoleh dan menyeka air mata. Ringga menanyakan pada ayahnya, apa yang disukai ibunya dan yang tidak disukai ibunya. Karena dua hari lagi adalah ulang tahun Airin, dan Ringga ingin membawakan sesuatu untuk ibunya.
Angga akhirnya mengajak Ringga pergi ke toko, untuk membeli sebuah jepit rambut berbentuk pita, yang selalu di pakai Airin saat sekolah. Rambut yang tergerai sebahu, dan jepit pita berwarna putih, membuat Angga merasa Airin sangat cantik dan polos.
Ringga pun ingin membelikan ibunya hadiah dengan uang yang sudah dia tabung dari hasil setiap papa Ikmal berikan padanya. Ringga ingin ibunya meskipun tertidur lama tetap terlihat cantik.
Setelah membeli hadiah untuk ibunya, malam harinya saat sebelum ulang tahun Airin, Ringga meminta ibu asuhnya kak Dista untuk mengajarinya membuat kue kesukaan ibunya. Ringga ingin jika memang ibunya akan meninggal, setidaknya ini yang bisa dilakukan dia sebagai anaknya untuk terakhir kali. Kak Dista terharu dengan ucapan Ringga, keduanya kemudian membuat kue coklat kesukaan Airin, namun disela-sela pembuatan kue itu, banyak air mata yang jatuh dari Ringga maupun kak Dista. Hingga keduanya berpelukan menguatkan diri.
Pagi harinya, Ringga memaksa ayahnya untuk datang dan mengantarnya kerumah sakit, meskipun Angga menolak dan meminta kakeknya atau papa Ikmal yang menemaninya, Ringga tetap tidak mau dan menangis, serta menelepon Angga terus menerus. Akhirnya Angga pun datang dan menjemput putranya, keduanya pergi ke rumah sakit dengan kue dan hadiah yang sudah disiapkan.
"Mama, selamat ulang tahun," ucap Ringga berbisik ke telinga Airin. Angga pun tak kuasa lagi menahan air matanya.
Ringga dan ayahnya pun mencium pipi kanan dan kiri Airin bersamaan. Dan perlahan air mata keduanya turun, kemudian langsung memeluk tubuh Airin bersamaan.
Kemudian …,
__ADS_1
"Pah, tangan mamah bergerak …," ucap Ringga.