
Setelah beberapa kali sentuhan, Airin dan Angga saling menatap. Angga menghapus air mata di pipi Airin, kemudian memberikan senyum tipis.
"Kau mau ikut denganku?" tanya Angga.
"Meninggalkan keluargaku?"
"Tidak, kita suatu saat akan kembali kesini. Inikan hanya sementara, nanti kau mengeluh aku tidak ada waktu."
Airin diam sejenak, memikirkan keputusan meninggalkan rumah orang tuanya. Dan memulai hidup dengan mertuanya yang jelas tidak menyukainya dari awal.
"Membawa Ringga?" tanya Airin, mendongak.
"Tentu, dia anak kita," jawab Angga.
"Kamu tidak ingat? Bagaimana aku berusaha agar dapat menikah denganmu? Mendekati ayahmu dan ibumu terlebih dahulu. Mungkin jika kamu bisa memberikan kasih sayang pada ibuku, dia juga akan menyukaimu." imbuh Angga, kemudian memeluk Airin.
"Aku takut,"
"Jika kamu selalu takut, mereka akan berpikir jika Mona selalu lebih baik darimu, kau ingin itu?"
Airin menundukkan kepalanya sejenak untuk berpikir, kemudian matanya berkeliling menatap kamarnya. Kamar yang sudah dari kecil ditempatinya, kini harus pergi ke kamar asing.
Angga memasukkan baju-bajunya kedalam koper, lalu memasukkan juga baju-baju Airin ke koper satunya.
"Aku ingin bicara dulu dengan orang tuaku," ucap Airin, kemudian bangkit. Angga mengangguk, sambil masih berkemas.
Airin melihat ayah, ibu dan kak Ikmal masih duduk di sofa ruang tamu. Ketiganya menatap Airin saat Airin keluar dari kamar.
"Aku ingin berpamitan," kata Airin tertunduk, berdiri di depan kak Ikmal.
"Kemana?" tanya kak Ikmal.
Airin kemudian menatap kakaknya dan orang tuanya. Kemudian, duduk diantara mereka.
"Angga mengajakku tinggal di rumahnya," jawab Airin.
"Apa?! Setelah semua yang dia lakukan padamu?" ujar kak Ikmal, dengan nada kesal.
"Sudah, tenang! Biarkan adikmu berbicara." timpal ayahnya.
"Angga menginginkan kami mencoba tinggal bersama disana, agar hubunganku dan orang tuanya baik." sahut Airin.
"Kamu yakin, Dek?" tanya Ibunya, sambil mengusap kepala Airin.
"Aku juga bingung, tapi setelah aku pikirkan, selama ini aku juga belum pernah berusaha mendekatkan diri dengan orang tua Angga. Mungkin itu yang membuat mereka masih juga menginginkan Mona." jawab Airin.
"Dengan Ringga?"
Kak Ikmal, melirik ke arah kamar, melihat Angga keluar kamar dengan dua koper.
__ADS_1
"Iya," jawab Airin.
Angga mendekat dan duduk disamping Airin. Menunggu keputusan Airin.
"Kau benar-benar akan menjaganya, kan?" tanya ayahnya menoleh ke arah Angga. Angga mengangguk.
Kak Ikmal berdecak kesal, bangkit, kemudian pergi keluar dari rumah tanpa berpamitan. Airin mengetahui perasaan kakaknya yang pasti juga sedih ketika harus berpisah dengan Ringga. Bagaimanapun juga, kak Ikmal sudah seperti ayah kandung bagi Ringga.
Suasana hening beberapa saat, baik ayahnya dan ibunya juga tidak mengeluarkan pendapatnya. Sedang Airin masih tertunduk, berulang kali bertanya pada hatinya, Apakah keputusan ini benar?.
"Ya sudah terserah kamu, mau bagaimana lagi, memang seorang istri kan harus ikut kemanapun suaminya pergi." ujar ayahnya, bangkit dari sofa kemudian pergi.
Airin menoleh, dan melihat ibunya sedang menangis. Airin kemudian mendekat kemudian memeluk ibunya dengan erat.
"Ibu doakan semoga ini pilihan yang tepat, dek." ucap ibunya. Airin mengusap air mata di pipi ibunya, lalu mengangguk.
"Saya akan menjaga Airin, Buk. Saya janji." ucap Angga, duduk berlutut di hadapan mertuanya.
"Ya sudah, ibu juga tidak bisa mencegah. Kalian sudah dewasa,"
Angga dan Airin lalu bergantian mencium tangan ibunya sebelum pergi.
Lalu, keduanya berjalan menuju rumah kak Ikmal untuk menjemput Ringga.
Ringga tampak bersemangat ketika bertemu papanya Angga. Ringga langsung memeluk papanya dan minta gendong. Sedang Airin merasa tidak enak untuk berpamitan dengan kak Dista dan kak Ikmal.
"Bang, aku pamitan dulu," ucap Airin, berlutut di depan kak Ikmal.
Kak Ikmal menatap Airin, kemudian beralih pandangan ke arah Angga.
"Kau yakin bisa bertahan disana?" tanya kak Ikmal.
"Insyaallah,"
"Aku tidak bisa mencegahmu, jika ini keputusanmu. Tapi ingat, jika ada sesuatu yang terjadi disana, lekas hubungi kakak. Jangan kau pendam sendirian! ucap kak Ikmal tegas dan menatap Airin tajam.
Airin mengangguk dan tersenyum tipis, kemudian mencium tangan kak Ikmal.
"Sudah sana! Kakakmu pasti sedang menangis dikamar, jangan kau panggil, biar dia tenang terlebih dahulu, nanti aku bicara dengannya." pinta kak Ikmal, Airin mengangguk kemudian keluar dari rumah kak Ikmal.
Angga bergantian masuk dan berpamitan, Airin melihat dari jauh sepertinya kakaknya sedang memberikan nasihat kepada Angga.
"Kita mau kemana, Mah?" tanya Ringga, melompat-lompat dengan senang.
"Ke Rumah Nenek," jawab Airin.
"Hah, kata papa akan pergi jauh,"
"Iya, nenek yang satunya,"
__ADS_1
Ringga terlihat antusias, berlari masuk dan menarik tangan Angga untuk segera pergi bersama.
Airin, Angga dan Ringga pun kembali ke rumah untuk mengambil mobil. Airin berjalan di belakang Angga. Pikirannya masih dipenuhi kerisauan.
Masuk ke dalam mobil, Airin masih tak lepas melihat rumah orang tuanya. Rasanya sangat sedih, padahal sebelumnya juga pernah meninggalkan rumah saat kabur hamilnya Ringga.
Sepanjang perjalanan, Airin selalu gugup dan tidak tenang. Pandangan dialihkan keluar jendelanya, menatap lalu lintas jalan raya.
"Ye! Kita liburan, ye, ye, ye!" teriak Ringga, terlihat bahagia.
Perjalanan yang panjang dan melelahkan, saat tiba di rumah Angga, Ringga dalam keadaan tertidur. Angga masuk terlebih dahulu, sambil menggendong Ringga, membawanya terlebih dahulu masuk kedalam kamar. Airin masih bergeming dan enggan keluar mobil.
Angga kembali, mengeluarkan koper dari bagasi dan membuka pintu.
"Ayo!" ajak Angga.
Airin turun perlahan, sambil melihat sekeliling rumah Angga. Beberapa pengawal mendekat membawakan koper masuk kedalam rumah. Angga menggenggam tangan Airin dengan erat.
"Sudah, jangan pikirkan hal lainnya," ucap Angga, merangkul pundak Airin.
Langkah Airin terasa berat, beberapa kali langkahnya berhenti, kemudian menghela nafas panjang.
Pintu terbuka lebar, Airin melihat mertuanya duduk di sofa sedang membaca majalah.
"Mah," Angga mendekat kearah ibunya, kemudian memintanya untuk menyapa Airin. Namun mertuanya masih enggan dan pura-pura tidak mendengar.
Airin mendekat dan berdiri di depan mertuanya, pikirannya bingung harus melakukan apa dan memulai dari mana.
"Mah,"
Angga mengambil majalah itu dari tangan ibunya. Kemudian menarik tangan ibunya mendekat ke arah Airin.
"Airin mengulurkan tangan, untuk memberi salam dan mencium tangan mertuanya. Namun, mertuanya cuek dan memutar bola matanya dengan wajah kesal.
"Mulai sekarang, kami akan tinggal disini," kata Angga.
"Kenapa?" tanya mertuanya, lalu mengernyit kearah Airin.
"Dia ini istriku, apa salahnya kita tinggal di sini," jawab Angga.
"Lalu bagaimana dengan Mona?" tanya mertuanya, rasanya tidak berat menyebut Mona dihadapan Airin.
"Aku tidak akan bertunangan dengannya, aku akan berusaha menggunakan cara lain, agar bisa mendapatkan pinjaman. Mamah tenang saja,"
Angga menenangkan kegelisahan ibunya. Airin tertunduk dan diam.
Mertuanya melirik, kemudian melempar majalah ke wajah Airin dengan kesal, lalu pergi.
__ADS_1