Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 64


__ADS_3

Kedua mata saling menatap tajam. Airin menunggu jawaban yang keluar dari mulut Angga. Namun, Angga ternyata memilih diam dan bungkam. Membuat Airin berpikir tentang beberapa spekulasi kediaman suaminya.


Angga memungut ponselnya di karpet, kemudian mengecek pesan yang masuk. Jarinya mengetik beberapa kata dan kalimat. Namun, tidak menyahut pertanyaan Airin.


"Mah," ucap Ringga.


Airin menoleh, melihat putranya ternyata sudah terbangun. Airin menyeka air matanya, menyembunyikan kegelisahan dan kesedihannya di hadapan Ringga.


"Mamah kenapa marah-marah?" tanya Ringga, mendekat dan hampir saja duduk di pangkuan Angga. Airin langsung menggendong anaknya, menjauhkannya dari Angga yang masih bau alkohol.


"Ayo mandi, lalu sarapan dan berangkat sekolah," kata Airin, menuntun putranya pergi ke kama mandi. Perasaannya masih kesal, namun mencoba menghiraukannya sementara karena tidak ingin Ringga bersedih ketika melihat orang tuanya berselisih.


Setelah memandikan Ringga, Airin pergi ke dapur untuk memasak. Melihat jam di dinding sudah pukul 7 pagi. Namun, belum ada tanda-tanda Bi Imah keluar dari kamarnya membuat Airin sedikit geram. Pembantu rumah ini, seperti terbiasa dimanjakan oleh ibu mertuanya. Padahal dilihat dari segi pekerjaannya, Bi Imah biasa saja. Namun, gajinya sangat besar. Bi Imah tidak memasak, dan tidak juga pernah terlihat membantu mengurus Ibu mertuanya yang sedang sakit. Tugasnya hanya menyapu dan mengepel. Cucian piring sering menumpuk, pakaian kotor ibu mertuanya pun akhir-akhir ini Airin yang memasukkannya ke mesin cuci.


Dengan gaji 10 juta perbulan, dan mendapatkan fasilitas tempat tinggal sepertinya tidak sepadan dengan pekerjaannya yang sangat bermalas-malasan. Tidak ingin menyentuh ini dan itu, jika dimintai tolong sulit.


"Bik," Airin mengetuk kamar BI Imah, meminta tolong untuk membantu Airin membawa makanan ke ruang makan. Karena Airin merasakan perutnya sedikit kram jadi tidak bisa mondar-mandir.


Bi Imah membuka pintu, sambil mengucek mata. "Iya, ada apa?" sahut Bi Imah ketus.


"Bawa semua makanan yang sudah aku masak ke meja makan!"


"Astaga, Non, non. Gitu aja manggil-manggil saya." keluh Bi Imah.


Airin yang saat ini memegang kain lap pun, dengan geram dan refleks melemparnya ke arah muka BI Imah.


"Itu memang tugasmu!" gerutu Airin, kemudian melangkah pergi.


"Tugas apaaan, selama ini nyonya yang biasa mengatur makanan," BI Imah balik menggerutu.


Airin berbalik badan, dan mendekati Bi Imah lagi. "Nyonya mu lagi sakit, mau kamu suruh masak! Lagian kamu ini kan memang tugasnya itu, jangan banyak membantah!" gertak Airin.


Bi Imah melempar lap ke arah Airin.

__ADS_1


"Kenapa marah-marah? Kalau begitu lakukan sendiri!"


Bi Imah masuk kembali ke kamar, dan menutup pintu kamar dengan keras. Airin berdecak kesal, mengepalkan tangannya dengan geram. Mengetuk-ngetuk kembali pintu kamar Bi Imah, kali ini sangat keras.


Bi Imah membuka pintu, dengan raut wajah yang kesal.


"Kamu ini ya, kalau saya ngomong suka bantah. Kamu kan yang ngasih gaji suami saya. Jadi saya berhak nyuruh kamu. Lakukan atau saya pecat kamu!" gertak Airin. Memungut kembali kain lap, dan dilemparkannya lagi ke wajah Bi Imah. Airin kemudian pergi, dan masih mendengar gerutuan Bi Imah.


Bi Imah datang ke dapur melirik sinis ke arah Airin. Membawa satu persatu mangkuk yang berisi sayuran dan lauk kearah ruang makan.


"Dasar pembantu tidak tahu diri!" gerutu Airin kesal. Sejenak emosinya meledak, namun berulang kali beristighfar. Hatinya sudah tidak bisa menampung kesabaran lagi untuk menahan kekecewaan. Kecewa dengan suaminya yang diam-diam malah berhubungan dengan Mona, dan kecewa dengan pembantu yang sok ingin selalu menyudutkan Airin seperti ibu mertuanya.


Airin kembali ke kamar, memanggil putranya untuk pergi ke ruang makan. Sesaat, juga melihat suaminya yang saat ini sudah bersiap dengan kemeja yang rapi berdiri di depan cermin menyisir rambut.


Airin mendekat dan menatap Angga. Namun, Angga menghindar dengan cara menggendong Ringga menuruni tangga menuju ruang makan.


Melihat ponsel suaminya tergeletak di meja, Airin pun mengambilnya. Pikirannya tercemar dengan kecemburuan, sehingga mulai ingin tahu pesan apa saja yang suaminya kirimkan pada Mona.


Airin membuka kunci pola di layar ponsel Angga, lalu membaca satu persatu pesan. Namun pesan dari Mona sudah tidak ada disana, dan sepertinya Angga benar-benar menghapus percakapan antara dirinya dan Mona. Airin dengan kesal, membanting ponsel suaminya ke tempat tidur.


"Ayo makan!"


Airin keluar kamar pergi menuju ruang makan. Menatap suaminya yang membisu di meja makan.


"Pah, papah. Besok Minggu kita jalan-jalan, ya?"


Airin melirik dan melihat suaminya juga tidak menjawab ajakan putranya. Ringga menarik-narik lengan baju papanya dan mengulangi pertanyaan yang sama.


"Lihat nanti, ya. Papah mau berangkat kerja," sahut Angga yang akhirnya berbicara. Bangkit dari kursi meninggalkan sisa makanan di piring.


" Kamu makan dulu, habiskan. Mamah mau ngomong sama papah dulu," pamit Airin, lalu pergi mengikuti langkah kaki suaminya menaiki tangga.


"Aku ingin berbicara,"

__ADS_1


Airin menarik tangan Angga. Angga menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Apa lagi?"


Airin mendengus kesal, kemudian menatap mata suaminya.


"Kenapa kamu seperti ini? Apa karena kita berada di situasi yang sulit, kamu berubah seperti ini?"


"Sudah kamu diam saja, kamu tahu apa?" sahut Angga.


"Aku ini istrimu, apa tidak bisa kamu ceritakan padaku masalahmu?"


"Lalu? Apa kau bisa membantuku? Tidak, kan?" jawab Angga, melangkah kembali menaiki tangga.


"Lebih baik kamu diam dirumah, urus Ringga dan jaga kehamilan mu. Jangan banyak mengusikku!"


Angga menoleh dan memberikan gertakan.


"Apa aku di matamu hanya sebatas itu? Apa kamu pikir aku tidak berguna sebagai istrimu?"


Tiba di depan kamar, Angga masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar dengan keras, hingga membuat Airin terkejut.


Angga keluar dengan tas laptopnya kembali menuruni tangga. Melirik dengan kesal ke arah Airin yang masih mengikuti langkahnya.


"Aku tidak ingin kamu terjerumus seperti ini, kita bisa saling terbuka, mengobrol. Siapa tahu kita bisa menemukan jalan keluar bersama?" kata Airin, menarik tangan suaminya untuk berhenti.


Angga terdiam, menoleh dan menatap mata Airin.


"Apa menurutmu pernikahan kita ada yang salah? Apa kamu tidak menyadari itu? Masalah datang silih berganti tanpa henti semenjak kita menikah, jadi jangan membuat pikiranku semakin tak karuan dengan sikapmu yang selalu cemburuan," ucap Angga.


Airin melihat tatapan yang berbeda di mata suaminya. Bukan cinta seorang suami yang selalu dirindukannya. Airin melepaskan tangan Angga.


"Jadi menurutmu, pernikahan kita sebuah kesalahan?" tanya Airin, menatap mata suaminya lebih dalam. Mencari ketulusan cinta yang hilang.

__ADS_1



__ADS_2