
'Aku tak menginginkan berpisah denganmu, aku sangat mencintaimu,'
Kalimat bisikan itu masih terngiang-ngiang. Saat Airin membuatkan teh dan sarapan di dapur, ibu mertuanya datang mengejutkan, menjatuhkan sendok dengan keras. Airin tersadar dari lamunannya, melihat ayam di wajah sudah berubah sedikit gosong. Kemudian, meniriskan nya dan mematikan kompor.
Menoleh kebelakang, melihat ibu mertuanya duduk menikmati jus. Airin berjongkok mengambil sendok yang dijatuhkan ibu mertuanya. Sejenak bersyukur, ibu mertuanya mengingatkannya tentang masakannya yang akhirnya tidak gosong sepenuhnya.
"Kalau masak, jangan banyak melamun!" gerutu ibu mertuanya, lalu pergi.
Airin mengelap meja yang tercecer bekas jus. Mencuci gelas yang ditinggalkan ibu mertuanya. Lalu, membawa Masakan yang sudah matang ke ruang makan.
Angga duduk menyeruput teh, duduk di sampingnya Ringga yang sedang asyik menonton video anak di layar ponsel. Ibu mertuanya datang, berkacak pinggang dan merebut ponsel di tangan anaknya.
"Di meja makan jangan main ponsel, makan ya makan!" gertak ibu mertuanya. Airin berdecak, dan menghela nafas panjang. Kemudian mengambil ponselnya yang di geletakkan di meja makan.
Ringga mulai terlihat cemberut dan hampir menangis, Airin langsung memeluk putranya dan mengajaknya berbicara hal lainnya.
"Masak kalau nggak asin kok gosong, buang-buang bahan makanan," gerutu ibu mertuanya, mengambil roti tawar di meja lalu pergi.
Airin diam, fokus menyuapi Ringga. Angga pun terlihat ikut diam tidak menyahut gerutuan ibunya.
"Nanti jadi cari sekolah untuk Ringga?" tanya Angga.
Airin mengangguk tanpa menyahut kalimat.
Angga mengusap kepala Airin lembut. "Sudah jangan dimasukkan hati, nih aku buktinya makan,"
Airin menoleh namun rasa kesalnya tidak berubah meskipun Angga mencoba menghibur.
Setelah sarapan selesai, Airin berkemas menyiapkan beberapa dokumen untuk mendaftarkan sekolah Ringga. Kemudian keluar kamar. Pandangannya dikejutkan dengan kedatangan Mona yang sedang merangkul tangan Angga dengan mesra sambil terlihat sedang merengek manja meminta sesuatu.
__ADS_1
Airin mendekat, menyingkirkan tangan Mona dari suaminya. Mona mengernyit kesal.
"Ayo kita berangkat!" kata Airin, lalu menarik tangan Angga dan Ringga.
"Nanti jadi lho, Ngga. Aku tunggu." Mona berucap keras, seakan agar Airin mendengarnya dan menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Airin memilih diam tidak peduli. Tidak menanyakan hal itu juga kepada Angga.
Selama perjalanan, Airin memilih pura-pura sibuk dengan ponselnya, membalas pesan kak Dista yang merindukan Ringga. Angga menyentuh tangan Airin, namun, Airin hanya diam tidak menoleh.
Tiba di sekolahan baru Ringga. Airin meminta Angga untuk pergi saja ke kantor.
"Aku tungguin saja," ucap Angga.
"Tidak usah." jawab Airin, lalu menggendong Ringga masuk kedalam ruang guru.
Airin malas bertanya tentang apa yang dibicarakan Mona pada suaminya, namun pikirin dipenuhi rasa penasaran. Lagi dan lagi berusaha cuek, hatinya sudah terlalu lelah mengurusi Mona yang tidak pernah berubah. Masih saja menginginkannya Angga, yang telah menjadi suaminya.
Setelah dua jam berkeliling ke sekolah baru Ringga, dan membayar biaya administrasi. Akhirnya Airin pulang dengan Ringga menggunakan taksi. Airin tidak menghindar lagi, kali ini menguatkan diri untuk berperang melawan kebencian ibu mertuanya.
Mengajak Ringga masuk kedalam kamar dan menidurkannya. Setelah putranya terlelap, Airin keluar kamar untuk membuat makan siang di dapur.
Ibu mertuanya datang membuka lemari es, melirik ke arahnya, Airin pun menyadarinya namun berusaha cuek. Lalu Mona juga datang. Terlihat bersikap sok ramah dengan membuatkan jus untuk ibu mertuanya. Ibu mertuanya keluar dari dapur, tinggallah Mona yang sedang memotong beberapa buah untuk dijadikan jus.
"Kamu dan mama Rita kelihatannya nggak akur?" tanya Mona. Mama Rita adalah nama ibu mertuanya. Airin diam tidak menyahut, sibuk dengan mengiris bawang untuk membuat tumisan.
Mona mendekat dan menepuk pundak Airin.
"Mamah Rita memang pemilih, jadi aku paham juga sih, kenapa dia tidak terlalu menyukaimu," ujar Mona.
"Terus? Apa hubungannya denganmu?" sahut Airin ketus.
__ADS_1
"Yah aku kasihan saja sama kamu,"
Airin tersenyum, kemudian menoleh. Menodongkan pisau ke arah mata Mona.
"Aku yang lebih kasihan denganmu," sanggah Airin. Mona mundur ketakutan. Kembali ke tempatnya membuat jus.
"Apa kamu sudah nggak laku? Sampai harus menempel ke suami orang dan mertua orang lain juga, memalukan!" imbuh Airin.
Mona mendekat kembali, menarik jilbab Airin dari belakang dengan kuat.
"Kamu kan yang merebut Angga dan mamah Rita dari aku, jangan sok!" gertak Mona. Airin mematikan kompor. Kemudian menarik tangan Mona, hingga cengkraman Mona terlepas. Kemudian menarik rambut panjang Mona dengan kuat.
"Lalu kenapa? Di mata hukum aku sah istrinya!"
Mona berusaha menarik kembali jilbab Airin, namun Airin dengan sigap menarik tangan Mona dan mencengkramnya dengan kuat. Hingga Mona merintih kesakitan dan berteriak.
Teriakan Mona pun membuat ibu mertuanya datang. Airin melepaskan jambakannya. Kemudian menghindar.
"Apa yang kau lakukan pada Mona?!" tanya Ibu mertuanya dengan lantang.
"Mona yang memulai, mah," sahut Airin.
"Aku bukan mamamu, kamu pasti yang membuat masalah terlebih dahulu! Kamu nggak suka kan Mona disini!"
"Tidak, dia yang memulainya," sanggah Airin.
Mona menangis kesakitan dan ibu mertuanya mendekat. Airin berjalan keluar dapur. Namun, ibu mertuanya tiba-tiba berlari menarik pundak Airin. Kemudian menampar pipi kiri Airin dengan keras. Airin yang terkejut pun tidak bisa mengelak.
Air mata hanya mampu tumpah, menatap mata ibu mertuanya dengan tajam lalu pergi masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Rasa perih bukan hanya karena sebuah tamparan, melainkan perasaan yang tidak pernah di hargai. Airin mengambil ponselnya di meja. Lalu menelpon Angga.
"Pulang sekarang! Jika tidak, aku akan pergi dari rumah mu saat ini juga!"