Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 27


__ADS_3

Ucapan Angga itu seakan lagi-lagi menyihir Airin, Airin mencoba berdiri dengan benar, kemudian memberi jarak antara dirinya dan Angga. Dengan perasaan berdebar Airin melangkah pergi, namun Angga menarik tangan Airin, dan keduanya berjalan ke arah mobil Angga yang terparkir. Airin merasa sedikit luluh dan tidak mengelak bahkan saat tangannya kali ini menyentuh tangan Angga.


Saat berada di dalam mobil, mata keduanya sesaat saling mencuri pandang, Angga tersenyum, lalu Airin tertunduk. Airin tidak ingin goyah lagi.


" Aku sudah meminta izin ayahmu untuk menjemputmu," ucap Angga. Airin menoleh dan menatap Angga.


"Aku takut, bagaimana jika ayahku tahu, ayahku sangat mengerikan jika marah," sahut Airin.


Angga tersenyum tipis menanggapi ucapan Airin. Kemudian keduanya hening tanpa kata-kata lagi. Saat hampir sampai rumah, ponsel Airin berdering, Airin melihat layar ponselnya dan mendapati jika Rafii sedang menelponnya. Angga melirik, dan ketahuan dengan Airin. Airin pun tidak mengangkat telepon Raffi karena merasa tidak nyaman jika Angga mendengar obrolannya.


"Kamu memberikan nomor ponselmu padanya?" tanya Angga ketus, lalu menarik ponsel Airin dari tangan Airin.


Angga menghentikan mobilnya, kemudian mengecek nomor Raffi dan langsung menghapusnya. Airin pun kesal dengan sikap Angga yang seenaknya ikut campur dengan kehidupannya. Airin mengambil ponselnya kembali, kemudian keluar dari mobil Angga. Angga ikut keluar untuk menahan Airin.


"Aku tidak suka kamu berhubungan dengannya, kamu menolak menikah denganku dan ingin mengenal dia?" ujar Angga dengan kesal, lalu menarik tangan Airin yang akan melangkah pergi.


Airin menarik tangannya, dan menghindar dari Angga, berjalan pergi menghiraukan kemarahan Angga.


"Apa kau menyukainya?" tanya Angga dengan keras, lalu menarik kedua pundak Airin dan menatap Airin tajam. Airin menarik tangan Angga dari pundaknya, tetap diam dan tidak mengatakan apapun.


"Apa yang kamu inginkan? Apa salahnya jika aku ingin bersamamu? " tanya Angga dengan nada gertakan, menarik tangan Airin.


Airin yang lelah dengan situasi ini hanya diam, kemudian langkahnya berhenti menatap Angga tajam. Ponsel Airin berdering kembali, Angga mencoba mengambil ponsel Airin, namun Airin tidak membiarkannya, dia malah melempar ponselnya hingga ponselnya rusak berantakan. Angga terkejut dengan sikap Airin.


"Puas!" teriak Airin di depan Angga, sambil melotot tajam ke arah Angga.


Angga memegang tangan Airin, mencoba menghentikan emosinya yang meluap, kemudian menyeka air mata Airin yang tumpah, Airin menangkis sentuhan Angga, namun Angga tetap melakukannya.


"Apa aku tidak pantas bahagia?" ungkap Airin, menarik tangan Angga yang menyentuh pipinya.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud seperti itu, maafkan aku …" ucap Angga, yang masih mengelap air mata di pipi Airin.


"Bisakah kita berpisah sampai disini? Aku lelah …," ucap Airin kemudian berlari pergi meninggalkan Angga.


Angga diam tidak mengejar, karena takut jika membuat Airin semakin kesal dengan dirinya. Angga mencoba menenangkan hatinya sebelum mengajak Airin berdiskusi kembali.


Setibanya di rumah, Airin langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan salam kepada ayahnya yang duduk di ruang tamu.


Airin bergegas ke kamar mandi, dan mengelap mukanya dengan air. Dia tidak ingin ayah dan ibunya tahu kesedihannya.


***


Sejak pertengkaran itu, baik Airin dan Angga saling menjaga jarak. Angga masih sering main kerumah Airin untuk bermain catur dengan ayahnya. Namun, keduanya tidak bertegur sapa seperti biasanya.


Malam ini Ringga datang kerumah bersama kak Ikmal dan kakak iparnya, Angga menghentikan permainan caturnya sesaat dengan ayahnya Airin, kemudian menyapa Ringga, dan keduanya berpelukan erat hingga membuat kak Ikmal cemburu lalu menggendong Ringga.


Airin melihat situasi itu dengan risau, terkadang kasihan dengan Angga yang tidak bisa menyentuh putranya, dan Ringga memanggil kak Ikmal papa, padahal papanya yang sebenarnya berdiri di depannya.


Airin keluar dengan nampan yang berisi beberapa cangkir teh, kemudian ditaruhnya di meja. Airin menggendong Ringga, agar tidak terlalu dekat dengan Angga. Namun, Ringga terus meronta ingin turun kemudian berlari ke arah Angga. Akhirnya, Airin pun membiarkan anaknya sesaat merasakan kenyamanan bersama Angga.


"Rin, aku akan pergi dengan Dista ke acara teman kuliah kami, Ringga biar tidur sini saja," ucap kak Ikmal. Airin mengangguk dan tersenyum.


Setelah kak Ikmal dan istrinya pergi, Angga lalu memeluk erat Ringga, hingga Ayahnya Airin datang langsung merebut Ringga dari pelukan Angga.


"Ah, dia cucuku, jangan terlalu dekat," ucap Ayahnya memisahkan Ringga dan Angga. Namun, Ringga menangis dan bersembunyi di balik punggung Angga.


"Ayo sini, main catur bersama kakek!" ucap Ayahnya Airin. Angga lalu memangku Ringga, dan bermain catur bersama ayahnya Airin.


Air mata Airin kembali menetes melihat situasi yang ada di depannya, seharusnya hal seperti ini yang diinginkan Airin.

__ADS_1


'Mungkin jika dulu jujur dengan Angga, hubungan antara Angga dan ayahnya tidak akan seasing ini.


'Ayah maafkan Airin,' batin Airin lalu menyeka air matanya.


Suara tawa memenuhi ruang tamu, seakan seperti sebuah kebahagiaan yang telah lama hilang kembali datang.


Airin masih mengintip dari kamarnya, melihat keakraban Angga dan Ringga, Airin tidak menyangka jika menjauhkan hubungan Angga dan Ringga tidak mengubah apapun, menyadari keduanya memiliki hubungan spesial yaitu ayah dan anak, dan tidak bisa terhapus oleh waktu meskipun hampir 4 tahun melarikan diri meninggalkan Angga.


'Haruskah aku jujur dengan ayah?' tanya Airin pada batinnya. Sesaat, hatinya luluh membiarkan Angga masuk kembali ke dalam kehidupannya.


'Bagaimana jika setelah ayah tahu, malah hubungan mereka tidak akan sebahagia ini lagi, ayah akan membenci Angga nantinya,' batin Airin kembali.


Angga yang melihat tatapan sembunyi Airin dari kejauhan, kemudian perlahan tersenyum dan mencium kepala Ringga di depan mata Airin. Airin semakin tidak kuasa menahan kesedihan ini.


'Bisakah waktu kuputar kembali, akankah akan sama, takdir akan membawa kita bertemu?'


'Aku sesaat serakah ingin memilikimu, aku juga sesaat berharap jika kembalinya dirimu kepadaku karena takdir,'


Setelah hampir tengah malam, akhirnya Angga pun pulang, namun, Ringga masih menahan kepergian Angga. Hingga membuat Airin kewalahan menarik Ringga dalam gendongan Angga.


"Besok kita main lagi," ucap Angga tersenyum kepada Ringga.


Ringga mengeluarkan jari kelingkingnya ke arah Angga.


"Janji," sahut Ringga.


Angga menoleh ke arah Airin sesaat.


"Janji." balas Angga melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Ringga.

__ADS_1


Kemudian perpisahan sementara ayah dan anak itu pun terjadi. Ringga terus berada di depan pintu melambaikan tangannya ke arah Angga yang melangkah pergi.


"Dada papa!" teriak Ringga keras. Airin menoleh dan terkejut dengan ucapan Ringga, begitupun Angga yang juga menoleh ketika panggilan papa pertama kali didengar untuknya.


__ADS_2