Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 8


__ADS_3

Ibunya menelepon Airin dengan suara lirih, menanyakan tentang keberadaan Airin saat ini. Namun, saat Airin ingin menjawabnya suara Ibunya terpotong dengan amarah Ayahnya dan langsung menutup telepon tanpa kalimat lagi.


Airin hanya bisa menelan ludah, lalu kembali dengan persiapannya untuk berangkat melamar pekerjaan bersama Milea, gadis yang tinggal di lantai 3. Airin keluar dan mengunci pintu kamarnya, menunggu Milea di lorong tangga.


Beberapa saat kemudian Milea datang dengan senyumnya yang ramah menyapa Airin.


"Apa ijazah SMP tidak bermasalah?" tanya Airin kepada Milea. Milea terdiam sesaat, lalu memutar bola matanya berpikir.


"Sepertinya tidak masalah, di tempatku yang penting anaknya sopan dan juga pintar berjualan," jawan Milea, lalu menuruni anak tangga. Airin pun mengikutinya dari belakang.


"Oh begitu, ya sudah aku akan coba dulu, semoga saja bisa." balas Airin lalu tersenyum.


Tiba di depan toko sepatu Julia, Milea langsung menarik tangan Airin menaiki anak tangga untuk bertemu dengan pemilik toko. Seorang wanita paruh baya muslimah menatap Airin dengan bingung. Milea pun mengatakan maksud kedatangannya membawa Airin untuk mendapatkan pekerjaan. Wanita paruh baya itu memperkenalkan diri dengan naman Ibu Citra, lalu meminta fotokopi KTP Airin dan surat lamaran kerja yang di bawa Airin.


Ibu Citra sejenak diam, dan mengamati Airin. Milea turun dan meninggalkan Airin karena jam kerjanya akan di mulai.


"Ya sudah, langsung kerja saja! kamu bantu-bantu anak lainnya bersih-bersih dulu sebelum toko di buka," Ucap Ibu Citra. Senyum Airin pun mengembang karena senang. Airin turun dan menemui Milea lagi. Menaruh tasnya di bawah kolong meja kasir seperti anak yang lainnya, lalu mengambil lap membersihkan jendela.


Ada 2 orang pegawai sebelumnya dan di tambah Airin menjadi 3 pegawai perempuan di toko sepatu Julia. Satu orang bernama Manda yang seumuran dengan Airin, anaknya cantik dengan rambut ikal terurainya. Milea bagian kasir, sedang Manda dan Airin bagian melayani pembeli yang datang untuk membeli.


Airin melihat cara Manda yang luwes dalam berbicara untuk membuat pelanggan yang datang tertarik membeli, dan langsung ia peragakan. Tidak pernah berpikir sebelumnya, jika bekerja di toko tidak terlalu sulit ternyata.

__ADS_1


Satu orang pembeli, dua orang pembeli dan hari ini sampai jam 9 malam, Airin berhasil menjual 10 pasang sepatu di toko dengan kemahirannya sebagai anak baru. Saat pulang kerja, ketiganya singgah untuk menikmati bubur ayam di depan toko sambil mengobrol menceritakan kehidupannya masing-masing. Airin hanya pendengar, terlalu sulit untuk berterus terang jika dirinya hamil.


"Aku besok pagi akan mengirimkan uang pada anakku," Ucap Manda. Airin terkejut mendengarnya, melihat Manda yang masih seumuran dengannya ternyata sudah memiliki anak.


"Baguslah, biarpun dia tinggal dengan bapaknya, tetap kamu harus kasih uang jajan, kasihan," Sahut Milea.


"Memang kenapa tidak tinggal bersama?" tanya Airin penasaran.


"Dia sudah bercerai dengan suaminya, anaknya satu usia 3 tahun," imbuh Milea.


Airin terkejut mendengarnya, padahal usia Manda masih 16 tahun tapi sudah memiliki anak balita.


"Lalu menikah usia berapa?" tanya Airin lagi.


"Ah, anak jaman sekarang memang gitu. Dikira nikah dan hamil usia muda itu enak," imbuh Milea dengan raut kesal. Manda tertunduk diam karena merasa tersindir, begitupun Airin juga ikut diam.


Selesai makan semangkuk bubur, Airin dan Milea pulang ke kos bersama. Dan berpisah ketika sudah berada di tangga lantai 2. Airin dengan tubuh sempoyongan berjalan ke kamar kosnya, tubuhnya benar-benar lelah karena tidak terbiasa bekerja sampai larut malam, paha betisnya terasa kencang karena seharian naik turun tangga untuk mengambil barang saat pembeli datang.


Tidak ada tenaga lagi untuk bergerak, padahal rasanya ingin mandi karena keringatnya sudah menumpuk di pakaian. Airin menatap ponselnya sesaat, melihat apakah ada orang yang merindukannya lalu menghubunginya. Namun, yang terlihat hanya layar kosong tanpa pesan satupun yang masuk.


'Ah, lelah.' batin Airin lalu membuka pintu kamarnya, untuk mendapatkan udara segar. Di kamarnya yang tidak memiliki kipas angin menjadi sangat pengap dan panas.

__ADS_1


Suara langkah kaki terdengar menaiki tangga, lalu berjalan mendekat ke arah kamar Airin. Pria yang sama saat menarik lakban tadi pagi, terlihat baru pulang kerja. Pria itu tinggal tepat berada di depan kamar Airin yang hanya berjarak 1,5 meter.


Pria itu menoleh dan tersenyum menatap Airin, Airin pun membalas senyumannya.


Pria muda berkulit putih dan berkacamata itu masuk ke dalam dan menutup pintu dengan keras, hingga membuat Airin terkejut.


Airin lalu kembali masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu kamar. Berjalan mengambil handuk untuk di bawanya ke kamar mandi. Saat keran air di putar, ternyata tidak ada air yang keluar. Airin pun bingung karena hanya tersisa setengah air di ember. Airin keluar dari kamar sambil menoleh kanan kiri, mencari seseorang yang bisa dia tanyai tentang masalah ini.


Pria di depan kamarnya pun keluar, kali ini memakai kaos dalaman dan celana kolor selutut. Tatapannya juga sama seperti yang di rasakan Airin yaitu kebingungan.


"A', Apa air di tempatmu mati?" tanya Airin. Namun Pria itu hanya diam, lalu membawa gayung yang berisi peralatan mandi dan handuk turun ke lantai 1. Airin bisa melihat Pria itu masuk di kamar mandi umum lantai 1, terlihat dari kaca yang berada di tengah sebagai pembatas kamar kanan dan kiri, dan juga bisa menjadi layar untuk melihat situasi yang berada di bawah. Airin pun jadi bingung dengan sikap Pria yang tinggal di depan kamarnya, terkadang terlihat ramah lalu jutek. Airin ikut turun ke lantai 1, dan masuk ke kamar mandi umum yang kosong.


Air mengalir deras dari keran, hingga ember cepat terisi dan luber. Airin bergegas mandi, dan berwudhu sekalian. Setelah keluar dari kamar mandi, Airin bertemu Pria yang tinggal di depan kamar kosnya lagi. Pria itu jutek dan langsung berjalan tanpa menyapa. Airin merasa tidak enak hati, karena sebelumnya Pria itu terlihat ramah saat pagi dan pulang kerja. Airin yang penasaran lalu menarik handuk Pria itu yang berada di pundak. Pria itu menoleh dan mengernyit.


"Ada apa?" tanya Pria itu.


"Maaf saya salah apa ya, A'. Jika saya ada salah saya akan minta maaf. Saya anak baru disini, saya tidak ingin ada kesalahpahaman antara tetangga," jawab Airin.


Pria itu dengan wajah bingung, menyipitkan matanya lalu menarik handuk dari tangan Airin.


"Sudah, Ris?" ujar Pria yang baru datang, Airin pun menoleh dan terkejut. Matanya menatap orang yang ada di sebelahnya yang baru datang, lalu kemudin juga melihat orang yang sedang ia ajak bicara tepat di depan matanya.

__ADS_1


.


__ADS_2