Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 19


__ADS_3

Hari kehilangan semangat dimulai,


Airin mulai kebingungan dalam mengurus Ringga, setiap pagi berjualan di pasar sambil menggendong putranya untuk berkeliling menjajakan makanan. Rasa lelah dan sedih menjadi satu.


Ketika sudah sampai di kamar kos, kesepian semakin menyelimuti hati Ririn. Bukan lelah karena harus bekerja lebih keras untuk bisa membayar sewa kos dan juga menghidupi Ringga. Namun, rasa lelah ketika tidak menemukan teman lagi seperti Milea.


Airin merasakan tubuhnya tidak baik-baik saja, demam dan flu meradang. Membuatnya kesulitan untuk mengurus Ringga. Apalagi Ringga mulai semakin rewel, Airin sudah mencoba memberi ini dan itu namun Ringga selalu menolak dan menangis sekeras-kerasnya sampai Airin merasa tidak enak jika anak kos lainnya akan komplain kepada Ibu kos nantinya.


Demam yang tak kunjung turun, uang yang mulai menipis padahal sebentar lagi bayar uang kos. Airin stres dan bingung. Milea juga tidak ada kabar untuk kembali, nomor ponsel Milea tidak aktif hampir 3 hari ini setelah satu Minggu lalu memutuskan untuk pulang.


Terbesit sesaat di pikiran Airin untuk menitipkan Ringga ke panti asuhan. Namun, akhirnya Airin hanya bisa menangis dan memeluk putranya.


Hari itu tiba, Ibu kos datang pagi-pagi menagih uang sewa. Airin membuka pintu dan meminta kelonggaran waktu, untung saja Ibu kos mau menerimanya melihat Airin yang lusuh dan sakit ada rasa iba di mata Ibu kos.


Berulang kali, tangan Airin rasanya ingin menekan nomor kakaknya Ikmal dengan harapan bisa meminjamkan uang, namun Airin coba urungkan dan masih berusaha kuat untuk tidak membuat keluarganya kesulitan dengan masalahnya.


Satu minggu terbaring lemah, Airin akhirnya memutuskan menjual mesin cuci Milea untuk membayar uang sewa kos. Airin tidak bekerja dan anaknya saat ini juga demam seperti dirinya. Dengan langkah sempoyongan Airin naik angkot dan pergi ke puskesmas untuk memeriksakan kesehatan dirinya dan juga Ringga.


Namun, saat dokter memeriksa Ringga, dokter menyarankan untuk Airin membawa Ringga ke Rumah Sakit karena Ringga mengalami tanda-tanda Demam Berdarah, akan fatal jika penanganannya terlambat. Airin semakin frustasi dan bingung. Akhirnya Airin menghubungi kakaknya dan meminjam uang untuk membawa Ringga ke Rumah Sakit.

__ADS_1


Setelah mendapatkan perawatan, Ringga masih harus menjalani rawat inap. Airin memikirkan lagi kemana harus mencari uang untuk bisa membayar perawatan Ringga. Airin gugup dan kesekian kalinya takut kehilangan seseorang yang dicintainya.


Airin mencoba menghubungi kakaknya lagi, namun kakaknya memaksa Airin untuk berterus terang kepada Ayah dan Ibunya. Dan bersiap menerima keinginan orang tuanya agar bisa menyelamatkan nyawa Ringga.


Untuk pertama kalinya, Airin bertemu dengan kakak iparnya atau istri kakaknya Ikmal di Rumah Sakit.


"Aku jaga anakmu, kamu pulang kerumah dan temui Ibu dan Ayah," ucap kak Ikmal. Airin masih duduk dan bergeming untuk bangkit.


"Mereka tidak sekejam pikiranmu dek, pulang dan temui Ibu dan Ayah. Mintalah pengampunan, mereka juga pasti akan membantu Ringga." Kak Ikmal masih terus membujuk Airin.


"Apa tidak bisa meminjamkan uang pada kakak saja, jika Ringga sudah sembuh Airin akan menggantinya, Airin takut …" jawab Airin, lalu menangis. Kak Ikmal mendekat dan memeluk adiknya.


Airin menyeka air matanya, lalu menatap Ringga yang terbaring lemas di ranjang. Airin menghela nafas panjang dan bangkit dari tempat duduknya. Akhirnya Airin memutuskan untuk kakak Iparnya yang akan menjaga Ringga, sedang Airin pulang dengan kak Ikmal untuk menemaninya.


Sepanjang perjalanan Airin cemas dan masih diliputi rasa bingung. Sejenak hatinya senang akan bertemu Ayah dan Ibunya yang sudah hampir 2 tahun tidak ditemuinya. Namun, sejenak juga takut jika Ayahnya masih ingin membuat Airin membawa Angga, ayah dari Anaknya.


Sampai di depan rumah, Airin masih tidak ingin beranjak keluar dari mobil. Kakaknya lalu menarik tangan Airin dengan paksa, sampai keributan itu membuat Ibunya keluar dari rumah.


"Airin," ucap Ibunya.

__ADS_1


Airin dengan mata yang basah, menatap Ibunya. Hatinya menahan untuk sedih, namun air mata tidak bisa menyembunyikannya. Ibunya berlutut di lantai dan menyebut nama Airin berulang kali seperti tidak percaya dengan kedatangan Airin. Airin merasa luluh, lalu berlari mendekati Ibunya. Airin ikut berlutut dihadapan Ibunya sambil menangis tersedu-sedu. Airin lantas memeluk Ibunya dengan erat dan keduanya meluapkan kerinduan.


"Teganya kamu, dek …" ucap Ibunya lirih setengah berbisik di telinga Airin.


"Maafkan aku Ibu, maafkan Airin … Airin sangat merindukan Ibu," balas Airin yang belum melepaskan pelukannya.


"Dasar anak nakal, kamu setega itu pergi. Apa kamu tidak pernah memikirkan Ibu?" Ibunya Airin memukul pundak Airin berulang kali dengan Isak tangis. Airin tidak mengelak dan menerima hukuman itu.


Airin mendapatkan kembali pelukan hangat yang selalu di carinya setiap hari, Airin tidak bisa berkata apapun, karena air matanya sudah mewakili semuanya. Ibunya bangkit, lalu mengajak Airin untuk masuk kedalam rumah. Airin menggelengkan kepala, takut jika bertemu dengan Ayahnya.


"Ayahmu belum pulang, tunggulah didalam," ucap ibunya menarik tangan Airin. Airin akhirnya mengikuti langkah kaki Ibunya dari belakang. Tangan Ibunya yang hangat menggenggam tangan Airin kuat sampai keduanya duduk bersama di sofa.


"Bentar Ibu buatkan minum," ucap Ibunya, melepaskan tangan Airin. Airin menahan Ibunya untuk pergi.


"Sudah duduk saja, atau istirahat dulu. Kamarmu masih sama seperti dulu," ucap Ibunya lalu pergi ke arah dapur. Airin menoleh ke belakang dan melihat kakaknya Ikmal masih sibuk menelpon seseorang di luar. Airin perlahan melangkah ke arah kamarnya.


Air mata menetes lagi, ketika pintu kamarnya terbuka. Airin melihat kamarnya masih tertata rapi dan bersih. Bahkan buku-buku sekolah Airin masih tertata di meja belajar. Airin tertunduk dan menangis menyesali waktu yang hilang.


"Mana anak itu!"

__ADS_1


Suara teriakan Ayahnya, membuat Airin terkejut dan ketakutan.


__ADS_2