Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 45


__ADS_3

Tangan Airin langsung gemetar, kemudian tanpa sengaja menjatuhkan ponsel Angga ke lantai, hingga membuat Angga terbangun.


"Ada apa?" tanya Angga, membuka mata perlahan kemudian menyalakan lampu.


Melihat ponselnya jatuh di lantai, Angga pun terkejut kemudian diam dengan menelan ludah.


Airin masih gemetar dan tidak sanggup memikirkan hal lainnya selain keluar dari kamar. Angga menyusul, menarik tangan Airin untuk masuk kedalam kamar, namun Airin meronta hingga terjatuh.


"Ja … ja … ngan de… dekati aku!" teriak Airin yang awalnya tertatih-tatih kemudian suaranya menjadi lantang.


"Rin, kamu kenapa sih?" tanya Angga.


"Dasar pembohong!" jawab Airin dengan keras. Hingga suaranya membangunkan kedua orang tuanya yang tengah tertidur lelap.


Orang tuanya keluar dari kamar, membuat Angga terlihat kelabakan dan panik.


"Ada apa ini?" tanya ayahnya, kemudian membantu Airin berdiri.


"Jauhkan dia dari aku ayah!" teriak Airin keras. Angga mundur dan tidak berani mendekat.


Setelah itu, Ibunya membawa Airin masuk kedalam kamar untuk mengobrol berdua. Airin pun menceritakan dengan jujur kepada ibunya, jika selama ini Airin memendam kecurigaan terhadap Angga yang berselingkuh dengan Mona di belakangnya. Ibunya kemudian keluar dan memaki Angga, Airin melihat Angga tertunduk dan tetap menyangkal tudingan itu.


Ayahnya kemudian menyuruh Airin keluar dari kamar, dan duduk bersama di ruang tamu. Agar bisa mendengarkan masalah secara langsung baik dari Angga maupun Airin. Sebelum Airin mengutarakan semuanya, Angga sudah bangkit dari sofa kemudian masuk kedalam kamar.


"Sudah, kamu masuk juga Rin, tanyakan dan selesaikan baik-baik, ayah tidak mau terlalu ikut campur," kata Ayahnya. Airin diam dan bergeming duduk di sofa. Matanya masih enggan menatap Angga, hatinya masih diselimuti rasa kesal.


"Sudah sana masuk ke kamar, siapa tahu memang benar hanya salah paham?" kata ibunya membujuk. Airin bangkit, dan berjalan di bantu ibunya sampai di kamar.


Saat masuk kedalam kamar, Airin melihat Angga sedang memperbaiki ponselnya setelah terjatuh tadi. Angga mendongak, menatap Airin sebentar, kemudian tertunduk melihat ponselnya lagi.


"Apa sih maumu?" tanya Angga, menoleh ke arah Airin yan duduk disampingnya.


"Astaghfirullah,"


Airin masih beristigfar menenangkan prasangkannya.


"Kenapa kamu menjadi seperti ini?" tanya Angga lagi.

__ADS_1


"Bagaimana tidak? Seorang istri mendengar suaminya mencium wanita lain, kemudian kali ini melihat chat mesra di ponsel suaminya," jawab Airin.


"Aku minta maaf saat di hotel waktu itu, tapi aku tidak memulainya, Mona yang tiba-tiba mengejutkanku dengan menciumku, saat itu juga aku langsung pergi tidak menggubrisnya," ujar Angga.


"Lalu, ini! Ini apa?!" sahut Airin, mendorong leher Angga dengan telunjuknya.


"Apa?" tanya Angga dengan bingung, kemudian bangkit dan berdiri di depan cermin.


"Aku juga tidak tahu ini kenapa? Sepertinya saat tadi bermain dengan Ringga di rumah kak Ikmal,"


"Kapan ke rumah kak Ikmal? Bukannya setelah pulang kerja kau pergi lagi dan baru pulang tengah malam," sahut Airin.


"Iya aku tadi kesana, kakak ipar menelepon, Ringga ingin beli mainan, topeng dan pedang, aku kesana untuk bermain dengan Ringga, lalu diajak mengobrol kak Ikmal, masa iya aku langsung pulang begitu saja," sanggah Angga.


"Lalu, aku juga melihat chat Mona yang bilang merindukanmu,"


"Ah …, dia memang seperti itu dari kemarin, aku juga menjaga jarak dengannya. Kau cemburu buta?"


Airin tertunduk kemudian berbaring di tempat tidur. Menutup tubuhnya dengan selimut karena malu telah berprasangka buruk kepada Angga.


"Kamu masih berpikir aku akan meninggalkanmu?" tanya Angga lirih, dan masih membelai rambut Airin.


Airin diam tidak memberikan jawaban apapun, pura-pura memejamkan mata. Angga memeluk Airin semakin erat, Kemudian perlahan menyentuh tangan Airin dan menciumnya.


"Aku masih mencintaimu, sampai kapanpun," ucap Angga berbisik, kemudian masuk kedalam selimut Airin dan memeluk Airin dengan penuh kehangatan.


***


Esok harinya saat Airin terbangun, Angga sudah tidak berada di tempat tidur. Ayahnya mengatakan Angga pamit untuk pergi ke luar kota mengurus pekerjaan, karena saat ini ayahnya Angga sedang sakit, jadi Angga harus menggantikannya.


Walaupun suaminya sudah memberikan penjelasan, hati Airin masih diselimuti rasa risau. Bagaimanapun juga Mona adalah tipe orang yang egois dan tidak main-main untuk mendapatkan sesuatu sesuai keinginannya.


"Ibu," ucap Airin, mendekat ke arah ibunya yang sedang memasak.


"Iya dek, bagaimana sudah selesai masalah kalian?" tanya ibunya.


Airin mengangguk, kemudian meneguk segelas airi putih.

__ADS_1


"Yang sabar ya dek, setiap rumah tangga itu selalu memiliki ujian. Nak Angga juga sudah menjelaskan pada ibu tadi, jika semuanya hanya salah paham."


"Tapi, Airin masih takut,"


"Takut apa?"


Ibunya mematikan kompor, kemudian duduk di samping Airin.


"Sebenarnya, saat itu Mona memang sengaja membuat kecelakaan itu, Airin takut Bu, jika Mona lebih nekat, dan terjadi apa-apa dengan Angga." ucap Airin.


"Astaghfirullah, yang benar dek." sahut ibunya.


Airin mengangguk memberikan jawaban. Ibunya kemudian memeluk Airin dengan erat.


"Sabar ya dek, banyak berdoa semoga tidak ada hal apapun yang terjadi dengan Nak Angga, ibu jadi ikut khawatir,"


Perasaan sedikit lebih lega, ketika Airin sudah mengungkapkan semuanya kepada ibunya. Ibunya kemudian memanggil ayahnya yang duduk di teras, dan menyampaikan ucapan Airin. Ayahnya yang semula duduk, kemudian bangkit dengan berkacak pinggang.


"Biar ayah datangin itu keluarganya Mona!" ucap ayahnya lantang, dan bersiap pergi. Namun ibunya menahannya, dan meminta untuk tidak usah mengungkit permasalahan itu kembali. Orang tuanya pun bersepakat akan waspada dengan Mona dan tidak membiarkan Mona menginjak rumah ini lagi.


***


Sudah 3 hari Angga belum pulang dari urusan pekerjaannya di Jakarta. Airin hanya bisa menanyakan kabar suaminya lewat telepon, namun mulai kemarin malam, pesan yang dikirim Airin ke ponsel Angga pun belum mendapatkan balasan. Sedangkan Ringga terus merengek, menyuruh ayahnya untuk cepat pulang, karena akan ada lomba ayah dan anak di sekolahan 2 hari lagi.


"Papah lagi sibuk, sama papah Ikmal saja ya, Nak," ucap Airin menenangkan anaknya yang sedari pulang sekolah terus menangis.


"Tidak mau, pokoknya telepon papah," sahut Ringga, merengek di lantai sambil membuang buku-buku sekolahnya.


"Iya nanti mamah telepon papamu lagi,"


Airin masih mencoba menghubungi Angga, namun berulang kali panggilannya tidak terjawab. Airin yang risau di tambah dengan mendengar suara tangisan Ringga membuatnya semakin diselimuti perasaan khawatir.


Malam ini hujan turun begitu lebat, Airin berbaring di tempat tidur sambil mengecek pesan di ponselnya. Kali ini cecklis satu berubah sudah menjadi cecklis dua berwarna hijau, Airin langsung menelpon nomor Angga karena sudah tidak sabar jika harus mengirim pesan.


Dan benar saja, panggilan itu pun terjawab.


"Hallo," sahut suara seseorang, tapi bukan suara Angga.

__ADS_1


__ADS_2