Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 38


__ADS_3

Airin lalu mengajak Angga untuk mengantarnya pulang menemui Mona. Airin penasaran apa lagi yang akan dilakukan Mona kali ini.


Saat tiba di rumah, Mona sedang duduk di depan teras bersama ibunya. Airin kemudian mendekat dan menyuruh Angga masuk saja mengobrol dengan ayahnya, karena hanya ingin berbicara berdua dengan Mona.


Airin mengajak Mona untuk keluar berdua, berjalan sambil mengobrol, Mona pun menyetujuinya.


"Selamat atas pernikahanmu," ucap Mona lirih, langkahnya perlahan menyusuri jalan setapak bersama Airin.


"Iya," jawab Airin, sambil tersenyum.


"Maafkan aku," imbuh Airin lalu menoleh ke arah Mona. Airin melihat air mata yang jatuh di pipi Mona. Airin lalu menyekanya dan memeluk Mona.


"Aku juga minta maaf," ucap Mona, sambil menangis tersedu-sedu.


"Maafkan aku ya Rin, aku belum cukup dewasa untuk melepaskan kalian, maafkan aku …," ucap Mona dengan terbata-bata.


"Sudah, lupakan masa lalu, aku berdoa semoga kamu segera menemukan pria yang sayang denganmu dan bisa menjagamu," sahut Airin, melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipi Mona.


Keduanya pun melanjutkan langkahnya lagi, sambil saling bercerita menggugah satu persatu kenangan lama. Mulai dari saat bertemu di kebun binatang, saat TK. Keduanya tersesat bersama kemudian menjadi teman, lalu menceritakan masa SMP yang selalu bersama juga, kadang juga bolos bersama dengan alasan yang sama. Mona selalu menganggap rumah Airin adalah rumahnya karena orang tuanya sibuk, jadi mereka sering menghabiskan waktu bersama dan mengobrol bersama sampai ketiduran. Beberapa kenangan manis mereka saling ungkapkan, hingga keduanya tertawa, kemudian menangis, ketika menyadari waktu sudah berubah namun hati mereka masih sama hingga menyukai orang yang sama.


Setelah lelah berjalan, keduanya duduk di teras lagi, Airin memberitahu Mona foto anaknya, karena sebelumnya Mona belum pernah mengetahuinya. Mona tersenyum sesaat dan menyentuh layar ponsel Airin.


"Kapan-kapan datang kesini lagi saat siang atau sore, nanti aku kenalkan pada Ringga. Dia sangat cerewet sepertimu," ucap Airin, Mona mengangguk.


Setelah hampir 3 jam mengobrol, akhirnya Mona pulang. Keduanya melambaikan tangan untuk perpisahan sementara ini. Airin tersenyum dan bernafas lega, setelah melihat senyum Mona, kesedihannya sedikit memudar.


'Mona temukanlah kebahagian untuk dirimu yang sebenarnya,' batin Airin mendoakan.


***


Setelah perjumpaan itu, Mona akhirnya sering datang lagi kerumah kali ini dia dipertemukan dengan Ringga. Ringga tampak sedikit takut awalnya dengan Mona, namun selalu Airin coba dekatkan agar lebih mengenal satu sama lain.


Mona juga terkadang sering membawa beberapa mainan untuk Ringga dan memanjakan Ringga. Airin sangat bahagia sekali, melihat hubungan antara dirinya dan Mona kembali akur.


Semua terlihat tampak sempurna …,


Malam itu, Airin terus mengalami insomnia dan tidak bisa tidur. Perutnya sakit dan juga pusing. Hingga esok harinya Airin tidak bekerja.

__ADS_1


Airin pun dengan gugup akhirnya mencoba memberanikan diri untuk memakai tespek, dan ternyata benar, garis dua itu timbul dengan jelas membuat Airin tercengang. Padahal baru 1 bulan menikah, namun dirinya sudah hamil.


Kali ini kehamilannya membuatnya senang dan kegirangan. Namun, kali ini Airin menyembunyikannya bukan untuk kabur, melainkan akan memberikan hadiah kejutan di ulang tahun Angga 2 Minggu lagi.


Dengan rasa gugup dan berdebar, Airin terus memikirkannya. Memikirkan apakah Angga akan terkejut juga, dan bahagia juga seperti dirinya?


Angga terus menghubunginya dan menanyakan keadaan Airin yang terlihat lesu 2 hari ini, namun Airin hanya berkata baik-baik saja dan tetap bergeming menyembunyikan kehamilannya.


Ponselnya pun berdering, Mona menelpon jika sudah berada di rumah orang tua Airin dan menunggu kedatangan Airin kesana. Airin pun bergegas ke rumah orang tuanya untuk menemui Mona.


"Kamu kenapa, sakit?" tanya Mona sambil menyentuh kening Airin.


"Tidak, hanya sedang capek saja, mungkin karena lembur kerja terus, Mon," jawab Airin.


Lalu keduanya pun duduk bersama dan menikmati kue yang di bawakan Mona, tapi Airin terus merasa mual jika mencium aroma telur di makanan. Hingga membuat Mona mengerutkan keningnya.


"Kamu hamil?" tanya Mona.


Airin langsung menutup mulut Mona, agar tidak mengatakannya dengan keras. Airin juga ingin memberikan surprise kabar kehamilannya pada orang tuanya.


"Hust," sahut Airin, kemudian menganggukkan kepalanya. Mona tersenyum lalu memeluk Airin.


"Padahal besok aku ingin mengajakmu jalan-jalan," sahut Mona.


"Kemana?" tanya Airin berbisik.


"Ke villa nenekku, yang pernah kita datangi saat SD, aku kangen kesana bersamamu, kita bisa ngobrol-ngobrol, pemandangannya kan indah. Kita berangkat pagi pulang sore." sahut Mona.


Airin diam sejenak memikirkan, dirinya juga ingin sekali-kali liburan, karena Angga sibuk yang tidak pernah libur kerja, dirinya juga sibuk kerja. Baru tadi izin 2 hari kepada bosnya untuk mengambil cuti.


"Boleh deh, ngajak Ringga juga?" tanya Airin.


"Boleh kalau dia mau, tapi kakak iparmu ngebolehin nggak?" tanya Mona.


Airin diam sejenak memikirkan.


***

__ADS_1


Setelah malam datang, Airin pun meminta izin pada Angga untuk liburan sebentar ke puncak bersama Mona. Karena sudah lama tidak pernah liburan. Tapi Angga terus menolak, namun Airin tetap membujuk dan mengatakan jika hari kerja tidak mungkin macet, sore juga akan pulang kerumah langsung. Akhirnya karena semua rayuan dan bujukan Airin, Angga pun mengizinkan. Tapi, saat ke rumah kakak iparnya, kak Dista tidak mengizinkan Ringga ikut, karena jauh dan Ringga juga mulai sekolah PAUD jika pagi hari.


Airin pun menghubungi Mona, jika Ringga tidak bisa ikut, namun Mona tidak mempermasalahkannya, karena yang penting dia dan Mona bisa bernostalgia di Villa sejenak.


***


Pagi itu Mona pun datang menjemput, seperti biasa bagasinya di penuhi semua barang milik Mona, padahal hanya pergi 10 jam an. Mona membawa beberapa peralatan untuk barbeque di siang hari, dan berenang.


Airin mencium pipi Angga sebelum pergi. Hingga membuat Angga tidak bisa menahan lagi kepergian istrinya karena luluh melihat kegembiraan di wajah Airin.


Perjalanan pun menjadi menyenangkan, menyalakan lagu-lagu nostalgia jam sekolah dan bernyanyi bersama. Saat dulu jika mereka pergi selalu diantar sopirnya Mona, kali ini setelah dewasa Mona bisa bepergian sendiri dan mengajak Airin tanpa harus di mata-matai supir yang selalu berisik melarang ini dan itu.


Sampai di Villa, Airin pun dibuat tercengang dengan kondisi Villa yang semakin bagus dan mewah. Keduanya lalu berenang dan tertawa menikmati buah-buah di ranjang yang mengapung di air. Rasa pusing dan mual Airin hilang seketika. Setelah berenang keduanya mengadakan barbeque sambil berkaraoke bersama.


'Aku ingin hari seperti ini, selamanya …,' batin Airin, ketika melihat senyum dan tawa Mona.


Setelah hari mulai petang, keduanya memutuskan untuk pulang.


"Terimakasih ya Mon, aku sangat bahagia," ucap Airin. Mona tersenyum sambil tetap fokus menyetir.


"Airin aku ingin jujur padamu, sebenarnya terkadang aku masih sakit ketika melihat kamu bahagia dengan Angga," ucap Mona lirih, Airin menoleh dan melihat wajah Mona sedih.


"Maafkan aku ya Mon, tapi kami selalu berdoa semoga kamu juga bahagia," sahut Airin, lalu mengusap air mata Mona.


"Rin, apakah kau ingin kita selamanya begini? Bahagia, tersenyum, tertawa bersamaku," ucap Mona menoleh.


"Tentu," jawab Airin.


Kemudian Mona pun semakin kencang mengemudikan mobilnya sampai Airin panik dan khawatir.


"Aku tidak bisa melepaskan Angga untukmu …" ucap Mona, kemudian Airin histeris ketika Mona menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan, hingga mobil yang ditumpangi keduanya terjun ke jurang.


DERR ...


"TIDAKK!!!" teriak Airin.


'Apakah kita akan bahagia jika hidup seperti ini...?'

__ADS_1


'Apa seharusnya kita tidak bertemu?'


'Aku ingin melupakan semuanya, jika hal ini membuat kita saling menyakiti ...'


__ADS_2