Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 50


__ADS_3

Airin kemudian duduk di samping ibunya, menghela nafas panjang.


"Airin mau bercerai saja, Buk."


"Ya Allah, dek. Kasihan sekali Ringga, jika kalian benar-benar berpisah," sahut ibunya.


Airin mengelap air mata di pipi ibunya, kemudian memeluk ibunya.


"Airin capek, Buk."


Ibunya mengusap kepala Airin, Airin berbaring di pangkuan ibunya, kemudian perlahan tersenyum menguatkan diri.


***


Dalam keheningan tersembunyi kerisauan, Airin mondar-mandir tak tenang di dalam kamar. 'Jika memang dia bukan pecundang dia akan datang besok,' gumam Airin, mempertanyakan tentang sikap Angga sebagai suami.


Dan benar saja, malam telah hilang digantikan oleh pagi yang mendung.


Suara mobil Angga terdengar terparkir di halaman rumah. Airin menelepon kak Ikmal, agar semua masalah ini dijelaskan secara terbuka.


Angga berdiri di depan pintu, masuk kerumah dengan keraguan. Airin mendekat, kemudian duduk di ruang tamu. Ayah dan ibunya juga keluar dari kamar, duduk bersama di samping Airin.


"Apa benar yang dikatakan Airin? Kau bertunangan dengan Mona?" tanya Ayahnya, sambil melempar koran yang sebelumnya dibacanya ke meja.


"Pertunangan itu batal," jawab Angga tertunduk. Airin mengernyit, melihat raut muka Angga yang terlihat kesal setelah pertunangan antara dirinya dan Mona gagal.


"Jadi benar? Astaghfirullah, teganya kamu, nak!" timpal ibunya, kemudian berdiri dan berkacak pinggang di hadapan Angga. Airin menarik tangan ibunya, dan meminta Ibunya untuk tenang.


"Kau punya istri dan anak, kau waras melakukan ini semua? Jika memang sudah tidak mencintai anakku, lepaskan! Jangan kau belum selesaikan masalahmu dengan Airin, kemudian kau mulai yang baru dengan kebohongan!" bentak ayahnya, menuding ke wajah Angga.


"Tapi saya tidak benar-benar ingin melakukannya, itu hanya untuk demi bisnis," "itu hanya pura-pura saja," sanggah Angga, mendongak. Kemudian menoleh ke arah Airin. Airin hanya diam, melirik sebentar.


"Bisnis macam apa? Kau gunakan pertunangan dan pernikahan hanya main-main! Jangan banyak alasan!"


Ayahnya menatap Angga dengan tajam.


Suara langkah kaki mendekat, kak Ikmal.l datang sendirian. Mengucapkan salam, kemudian langsung berjalan ke arah Angga.


"Kau ini tega sekali menyakiti Airin, baj*ng*n!" ucap kak Ikmal, kemudian menarik kerah baju Angga.


"Sudah lepaskan, Ikmal! Kita dengarkan dulu alasannya," ucap Ayahnya menengahi.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menyelamatkan perusahaan, ayahnya Mona mau bekerjasama kembali jika Aku bertunangan dengan Mona, Mona dan aku hanya berpura-pura sebentar, sampai mendapatkan tender, itu saja." ucap Angga.


"Jadi kau membohongi kami semua hanya demi tender!" bentak kak Ikmal.


Angga mendesah, kemudian menatap kak Ikmal.


"Hanya kakak bilang, ini semua juga demi kelangsungan karyawan, kami tidak bisa memecat ratusan karyawan, mereka juga butuh makan. Lagipula ini hanya sementara. Aku dan Mona juga tidak melakukan hal diluar batas." sanggah Angga.


"Lalu, jika orang lain menginginkan nyawa istri dan anakmu demi perusahan mu, kau juga akan berikan? Jawab!" bentak kak Ikmal.


"Kalian tidak paham dengan bisnis, aku kesulitan untuk menjelaskan," ucap Angga.


"Rin, ayo kita bicara!" Angga mendekat ke arah Airin, menyentuh pundak Airin. Airin mendongak dan menangkisnya.


"Aku lelah …, lelah dengan mu dan Mona. Jika kalian tidak bisa benar-benar berpisah. Mari kita berpisah!" kata Airin, menatap wajah Angga.


"Kau gila? Aku melakukan semua ini juga untukmu." sahut Angga.


"Yang mana? Tentang biaya perawatanku lagi, itu yang kau maksud?"


"Kau tahu? Mona lah yang menyebabkan kecelakaan itu. Dia tidak akan berhenti sebelum benar-benar mendapatkanmu."


"Aku muak!" teriak Airin, kemudian bangkit dan masuk kedalam kamar.


Hatinya tak kuasa lagi menatap suaminya, yang saat ini telah benar-benar melukai hatinya. Tidak ada lagi harapan untuk bersama, jika salah satunya tidak bisa melupakan masa lalunya.


Angga masuk kedalam kamar, menarik tangan kiri Airin.


"Kau ingin berpisah?" tanya Angga.


Airin menatap mata basah Angga, hatinya ingin luluh melihat mata dari seseorang yang dicintainya. Namun mengingat kejadian kemarin malam, cinta itu berubah menjadi kebencian.


"Iya." jawab Airin dengan tegas.


"Kau gila? Bagaimana dengan anak kita?"


"Anak kita? Yang mana?"


"Ringga lah,"


Airin mengernyit, kemudian menghindar dari Angga.

__ADS_1


"Kau pernah menganggap dia anakmu, berapa sering dia tidur di pangkuanmu daripada di pangkuan kak Ikmal? Berapa sering kamu bermain dan mengajaknya bicara?!" bentak Airin.


"Kau kan tahu, aku sibuk," sanggah Angga.


"Lalu? Kak Ikmal tidak sibuk? Dia juga sibuk, dia juga bekerja, tapi dia ada waktu untuk anak kita."


Angga terdiam, menarik tangan Airin hingga keduanya duduk bersama di ranjang. Airin memalingkan wajahnya, masih enggan menatap Angga.


"Aku masih mencintaimu," ucap Angga lirih, merangkul dari belakang.


"Cinta seperti apa yang kamu mau? Cinta seperti apa yang kamu maksud?" jawab Airin melepaskan tangan Angga dari pinggangnya.


"Okey, aku tidak akan bertunangan dengan Mona, tapi apa kamu tahu aku masih memiliki orang tua yang harus aku lindungi. Sejak Papaku sakit, kau tahu aku juga cukup kesulitan."


"Lalu? Apa aku juga tidak memiliki orang tua yang harus aku jaga hatinya? Kamu pikirkan baik-baik. Kenapa harus dengan bertunangan mereka mau memberi bantuan? Karena itu memang yang diinginkan Mona." Airin berbalik, dan menyadarkan Angga. Jika Mona tak sebaik yang Angga pikirkan.


"Jangan begitu, dia sudah cukup membantu kita. Dia juga tidak menginginkan pertunangan ini, tapi untuk menyakinkan ayahnya, jika aku bisa mendapatkan kepercayaan untuk mendapatkan uang dari mereka, maka kami harus berbohong."


"Pergilah," ucap Airin lirih, bangkit dari ranjang, dan membuka pintu kamarnya.


Angga masih bergeming dan diam, menatap Airin. Airin membuang muka. Angga mengeluarkan semua bajunya dari dalam lemari, kemudian memasukkannya ke koper. Airin menyaksikan detik-detik cintanya akan pergi. Dia berusaha kuat menahan air matanya.


Namun, Angga kemudian menarik tangan Airin dan menutup pintu kamar. Memeluk Airin dengan erat. Air mata perlahan tumpah, dan kali ini tidak sanggup disekanya.


"Ayo kita tinggalkan rumah ini, bawa Ringga bersama kita," ucap Angga lirih.


Airin masih diam dan tidak menjawabnya.


"Kita temui mamaku, kita tinggal disana, dan dekatkan dirimu dengannya,"


"Aku sangat mencintaimu, Rin. Semua aku lakukan demi kebahagiaan kita di masa depan. Ayo kita lakukan dan hadapi berdua, agar kamu tahu. Agar kamu tidak ada rasa curiga lagi padaku." imbuh Angga, kemudian mencium pipi Airin yang basah.


"Aku tidak bisa kehilanganmu maupun kehilangan orang tuaku,"


"Apa dengan mendekati orang tuamu, kau bisa melupakan Mona selamanya, meninggalkan dia selamanya?" tanya Airin.


"Buatlah mereka mencintaimu, agar bisa melupakan Mona, beranikan dirimu, kita lakukan bersama."


Airin menoleh, dan menatap Angga. Angga kemudian mencium perlahan bibir Airin.


__ADS_1


__ADS_2