
Sepanjang malam Airin gelisah, pikirannya dipenuhi rasa curiga, jika diam-diam Angga ternyata mencari tahu tentang Ringga. Airin semakin takut jika nanti akan melukai Mona lagi, karena terakhir dilihatnya Mona terlihat sangat bahagia saat berdiri di samping Angga.
Airin menatap wajah putranya yang sudah tertidur pulas di sampingnya, melihat Ringga tumbuh dengan baik dan menggemaskan, Airin memeluk anaknya dengan erat.
'Kita bisa kan, hidup berdua saja' batin Airin, sambil mengusap kening Ringga.
"Maafkan mama ya, nak. Mama merasa sangat bersalah setiap kali menyembunyikanmu dari Ayahmu," gumam Airin lirih.
***
Pagi yang mendung, membuat Airin mendesah sedikit kesal. Kakaknya sepertinya marah karena tidak menjawab teleponnya kemarin malam. Ringga yang biasanya dijemput, kini kakak iparnya tidak terlihat datang. Ringga terus merengek dan meminta untuk Airin libur bekerja. Namun, hari senin adalah hari sibuk di toko. Beberapa stock sepatu di gudang harus di datanya. Airin meminta Ibunya untuk mencoba mengalihkan pandangan Ringga ke tempat lain, kemudian Airin bisa langsung bergegas pergi kerja, namun Ibunya menolak karena sibuk memasak di dapur, melayani keinginan Ayahnya yang ingin makan pisang goreng di pagi yang mendung ini.
"Hah …" Airin mendesah lagi, lalu menggendong Ringga dan menaruh tasnya kembali ke kamar.
Airin kemudian menghubungi bosnya untuk libur sehari ini, namun bosnya menolak meskipun Airin memberi alasan pura-pura sakit. Airin diminta datang saat jam makan siang saja. Airin tidak bisa mengelak lagi dan meng 'iya' kan keinginan bosnya.
Hampir 2 jam hanya berbaring ditempat tidur sambil memeluk Ringga hingga membuat putranya tertidur, Ibunya datang tiba-tiba masuk ke kamar Airin dengan nada lirih menyuruh Airin bergegas pergi kerja. Airin bangkit perlahan dari tempat tidur, kemudian berjinjit mengambil tasnya di meja dan keluar dari kamarnya.
Setelah berhasil sampai di ruang tamu, mendengar tangisan Ringga yang menggema, Airin bergegas lari tunggang-langgang. Kemudian berjalan ke arah jalan raya, mencari ojek maupun angkot yang lewat untuk mengantarnya ke tempat kerja.
Hampir 1 jam menunggu, namun tidak terlihat ojek maupun angkot lewat di depannya, teriknya matahari bahkan membuat bedaknya luntur. Padahal ini jam makan siang, biasanya jalanan ramai, namun saat ini hanya ada becak, itu pun tak mau mengantar Airin dengan jarak yang cukup jauh.
Ketika benar-benar putus asa, suara klakson mobil yang berhenti di depannya membuatnya terkejut. Mobil sedan yang ia kenal, dan Airin menghela nafas untuk tetap tertunduk pura-pura tidak melihatnya.
Klakson mobil Angga terus berbunyi berulang kali, bahkan pintu mobilnya juga sudah dibuka, namun tidak ada seruan Angga untuk menyuruhnya masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Terus berbunyi dan semakin lama, hingga memekik di telinga, Airin mendekat dan Angga membuka jendela mobilnya. Dengan telunjuknya Angga memberi isyarat untuk Airin masuk kedalam mobil.
Airin akhirnya mengikuti keinginan Angga, dan masuk kedalam mobil.
Tidak ada kalimat apapun yang keluar dari bibir Angga selama perjalanan. Entah laju mobil ini membawa Airin kemana, Airin juga enggan menanyakannya.
Setelah 15 menit perjalanan, mobil yang ditumpangi Airin dan Angga berhenti tepat di depan toko Airin bekerja. Airin lantas semakin bingung dengan diamnya Angga padanya. Airin turun dari mobil, dan saat ingin mengucapkan rasa terimakasih, Angga bergegas menutup kaca mobil dan melaju pergi. Airin seakan masih meninggalkan bayangan di kursi mobil Angga, karena dirinya masih belum bisa melupakan bayangan Angga di benaknya.
"Heh …," Airin mendesah.
Padahal ada yang ingin disampaikannya pada Angga, namun karena Angga diam saja, Airin tidak berani menanyakan perihal di pasar malam. Airin penasaran apa pria itu Angga? Pria yang menemui anaknya.
Setengah hari bekerja hati Airin masih gelisah tidak menentu, sesaat terlalu peduli tentang perasaan Angga. Airin menatap jendela tokonya, dan melihat perlahan hujan yang turun membuatnya sedih.
Suara klakson mobil terdengar, dan seorang pria turun dari mobil itu. Namun bukan pembeli, melainkan Angga yang berdiri di depan toko.
Airin meliriknya sesaat, lalu bergegas bersiap pergi keluar dan mengunci toko. Airin diam dan tidak menyapa kedatangan Angga yang menoleh ke arahnya. Airin berjalan seperti biasa mengembalikan kunci toko pada bosnya, namun kali ini Angga mengikuti langkahnya dari belakang.
Setelah memberikan kunci dan setor uang kepada bos, Airin pun berpamitan pulang dan pergi. Angga masih berdiri di depan pagar rumah bos Airin.
Angga tidak mengatakan apapun meski Airin lewat di depannya, Airin jadi merasa bingung dan serba salah. Kemudian ia memilih duduk di depan toko yang tutup, sambil beberapa kali melirik ke arah Angga yang duduk disampingnya.
"Aku kira kita tidak akan bertemu lagi," ucap Angga mengeluarkan kalimat pertamanya.
Airin menoleh, sedikit tersenyum lalu tertunduk.
__ADS_1
"Aku juga," balas Airin lirih.
"Apa kau baik-baik saja sendirian selama ini? Apa kau makan dengan baik selama ini? Aku selalu penasaran. Aku sempat terkejut ketika Mona mengatakan kamu kabur dari rumah." ujar Angga.
Airin masih mencoba menutupi tentang hal yang sebenarnya, padahal kepergiannya pun sesuai keinginan Mona.
"Aku baik-baik saja," jawab Airin lirih.
"Dia sangat tampan sepertiku, aku seperti ayah yang pecundang tidak bisa menemui anakku sendiri," ucap Angga, tertunduk.
Airin hanya diam, ketika menyadari Angga mengetahui jika Ringga anaknya.
"Hah, seharusnya kau katakan padaku. Saat itu Dona mengatakan menemukan tespek yang tertinggal di toilet sekolah, aku tahu kamu yang baru keluar dari sana. Aku menyembunyikannya. Dan aku masih bodoh tidak percaya," ucap Angga.
Airin mengingat kala itu, dirinya benar-benar tergesa-gesa keluar dari toilet sekolah saat tahu dirinya hamil. Kali ini mendengar itu Airin tidak bisa mengelak. Airin tetap diam dan bungkam, bangkit dari kursi lalu berjalan kemanapun kakinya ingin melangkah.
Sepanjang sisi pejalan kaki, keduanya melangkah berdampingan. Hening dan tidak mengatakan hal lainnya. Hanya berjalan dan terus berjalan, sampai keduanya saling menoleh setelah kakinya lelah.
"Aku antar pulang," ucap Angga, berbalik dan menuju ke arah mobilnya terparkir. Airin mengikuti langkah Angga dari belakang. Airin menatap punggung Angga, perasaannya berdebar, pikirannya kotor untuk berlari dan memeluk Angga menggebu.
Setelah mengantar Airin pulang sampai di depan rumah Airin, Angga lantas tidak segera pergi. Melainkan melihat anaknya dari jauh yang sedang berlari ke arah Airin. Airin menoleh kebelakang, dan melihat Angga melempar senyum. Airin berjalan dan pergi meninggalkan Angga.
"Ayo kita menikah," ucap Angga.
Airin menoleh dan terkejut dengan kalimat itu.
__ADS_1