
Sepasang mata yang saling menatap kelelahan satu sama lainnya. Kelelahan dengan kehidupan pernikahan yang tidak semanis Airin dan Angga inginkan. Airin memikirkan lagi perkataan suaminya, setelah suaminya keluar rumah dan pergi dengan mobilnya. Entah kali ini pergi ke Mona atau benar-benar berangkat kerja. Airin tidak mampu lagi memastikan apa yang akan dilakukan suaminya, hanya mampu menerka-nerka dengan pemikiran terburuk sekalipun.
"Apa benar pernikahan ini sebuah kesalahan?" gumam Airin, bertanya pada dirinya sendiri.
Ringga menepuk pundak Airin berulang kali, menyadarkan Airin untuk berhenti memikirkan hal lain. Ringga yang dari tadi membuka mulutnya, menunggu suapan dari Airin.
Perkataan Angga kali ini, benar-benar membuat Airin merasa bersedih. Air mata perlahan turun, dan tidak mampu dihentikan.
"Mamah, kenapa?" tanya Ringga, mendekat. Menghapus air mata Airin.
Airin menutup kedua matanya dengan tangan. Menyembunyikan kesedihannya.di depan Ringga. Namun, Ringga terus menggoyang-goyang tubuh Airin kuat. Membuat Airin membuka tangannya, dan menyeka air matanya.
Kerinduan kembali ke kampung halaman terbesit lagi di dalam pikirannya. Airin menatap wajah putranya, mendekati Ringga. Kemudian, memeluknya dengan erat.
"Kita pulang saja kerumah kakek," ucap Airin lirih.
Ringga mengangguk perlahan. Airin bangkit dan meninggalkan meja makan. Berjalan menuju kamarnya, dengan menggandeng Ringga.
Menurunkan koper dari atas lemari. Memasukkan semua baju miliknya dan Ringga kedalam koper.
Hatinya terlalu sakit mendengar ucapan suaminya barusan, hingga sampai tidak bisa lagi menahan kesabarannya untuk lebih lama bertahan.
Setelah mengepak semua barang, Airin memesan driver online untuk mengantarnya ke stasiun. Pikirannya sudah sempit, tidak ingin lagi berada di rumah ibu mertuanya.
__ADS_1
Driver online tiba, Airin langsung menggandeng Ringga di tangan kirinya, dan tangan kanannya menarik koper menuju pintu keluar.
Melewati BI Imah, pembantu sinis dinrumah ibu mertuanya. Bi Imah hanya melirik dan langsung pergi. Airin pun enggan peduli juga, toh dia bukan siapa-siapa untuknya.
"Nyonya mau kemana?" tanya satpam yang berjaga di depan pagar.
"Bukan pagarnya pak!"
Pagar terbuka, tanpa menjawab pertanyaan satpam. Airin langsung masuk kedalam mobil yang dipesannya.
'Untuk apa aku dirumah ini? Seharusnya aku pertanyakan itu saat pertama kali menginjak rumah suamiku,' batin Airin. Melihat rumah ibu mertuanya dari jendela mobil, sebelum mobil yang ditumpanginya melaju.
Airin menatap wajah Ringga. Kemudian, memeluknya dengan erat sambil terus berbisik di telinga putranya tentang kata "maaf".
"Maafkan mamah,"
Tiba di stasiun,
Airin langsung membeli tiket dan menunggu jadwal keberangkatannya 2 jam lagi. Airin tidak berhenti mengutak-ngatik tangannya dengan resah. Berusaha meyakinkan diri, jika apa yang dilakukannya kali ini adalah hal yang benar.
Perasaannya carut marut, apalagi saat ini dia tengah hamil. Ini seperti dia melarikan diri dua kali dalam keadaan hamil. Anak yang selalu diinginkan dirinya dan juga Angga. Airin bangkit, sesaat menoleh kebelakang ingin kembali dan menyelesaikan masalahnya dengan suaminya. Lalu, duduk kembali. Menghela nafas panjang. Menutup mata sesaat, sambil terus menggenggam tangan putranya.
Hingga akhirnya kereta yang ditumpanginya sudah berada di depan mata. Airin melangkah, sambil terus menggenggam tangan Ringga dengan erat.
__ADS_1
Masuk ke dalam gerbong kereta, di bantu oleh petugas untuk menarik kopernya karena Airin terlihat kewalahan. Airin duduk bersama Ringga di kursi yang tersedia sesuai nomor tiket. Menatap keluar jendela bersamaan.
Menatap dirinya di kaca jendela. Merasakan dirinya telah gagal dalam segala hal. Sekuat apapun berusaha, membawa kesalahan yang dibuatnya dan mencoba untuk memperbaikinya dalam sebuah ikatan pernikahan bersama Angga. Kenyataannya, semua tetap tidak berjalan baik. Bukan hanya Mona saja yang masih mempertahankan cintanya pada Angga, sebaliknya saat ini Angga juga terasa menggantungkan hidup kepada Mona. Keduanya saling mengisi dan bertautan. Airin seperti dinding pemisah diantara takdir Mona dan Angga dari dulu.
Perjalanan yang cukup panjang dilewati dari Jakarta menuju kota Bandung. Ringga sampai terlelap di pangkuan Airin. Menunggu kereta ini berhenti.
Tiba di stasiun pemberhentian, Airin membangunkan Ringga. Lalu menarik kopernya sambil terus menggenggam tangan Ringga, keluar dari gerbong.
Kemudian, memesan taksi menuju rumahnya. Perasaannya sedikit gembira, ketika menghirup udara di kota kelahiran. Tak sabar untuk bertemu kedua orang tuanya, tapi juga merasa bingung. Kalimat apa? Mulai cerita dari mana nantinya? Airin memikirkan semua alasan, agar saat tiba dirumah ibu dan ayahnya tidak terlihat jika dia memiliki masalah dengan Angga.
Perjalanan menuju rumah semakin dekat, Airin mengatur nafasnya berulang kali untuk tenang. Mengambil cermin kecil di dalam tas. Lalu menepuk-nepuk kedua pipinya dengan tisu basah, agar terlihat sedikit segar.
"Ringga, tiba di rumah kakek dan nenek jangan katakan mamah dan papah bertengkar ya?"
Airin mencoba berkompromi dengan putranya. Ringga mengangguk, sambil mengusap pipi Airin.
"Mamah jangan nangis lagi ya, kita kan mau kerumah kakek," sahut Ringga. Airin tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.
Taksi berhenti. Tepat di ujung gang menuju rumah Airin. Airin menarik koper dan menggenggam tangan putranya dengan memasang senyum.
Kemudian, ada rasa curiga. Ketika ada sebuah bendera kuning tertancap di dekat rumahnya. Airin terdiam sejenak, dan terkejut.
"Papah Ikmal," teriak Ringga.
__ADS_1
Airin melihat keranda sedang digotong kakaknya bersama warga lainnya.