Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 57


__ADS_3

Suara lantang Airin yang menelpon Angga, membuat Ringga terbangun. Airin berdebat karena Angga tidak bisa pulang dikarenakan sedang mengurus hal penting di kantor. Dengan kesal Airin membanting ponselnya ke tempat tidur. Ringga mendekat dan memeluk ibunya dari belakang.


"Mamah, kenapa?"


Airin menoleh, menyeka air matanya. Kemudian, memeluk Ringga dengan erat. Mencoba mengatur nafasnya untuk tenang. Namun, tamparan ibu mertuanya itu membekas rasa sakit di relung hati yang tidak sanggup Airin lupakan.


"Mah, aku lapar," rengek Ringga. Situasi ini membuat Airin bingung. Dia masih enggan keluar kamar, namun juga tidak bisa membuat Ringga kelaparan.


"Tunggu disini! Mama ambilkan makanan,"


"Aku mau ikut,"


Ringga terus merengek dan menarik ujung baju Airin. Airin pun akhirnya menggandeng Ringga dan mengajaknya ke dapur.


Airin masih mendengar suara tangisan Mona di ruang tamu, dan suara ibu mertuanya yang panik hingga menelpon ambulans.


Airin tidak memperdulikannya. Pergi ke dapur menyelesaikan masakannya, ditemani oleh Ringga yang duduk di kursi tak jauh dari Airin berdiri.


Suara sirine Ambulans terdengar, sebuah drama berhasil Mona ciptakan. Lagi dan lagi membuat Airin tersudut. Beberapa menit kemudian suara menjadi hening, Airin menyadari ibu mertuanya dan Mona telah pergi ke rumah sakit. Suasana menjadi tenang, perasaan Airin pun sedikit lega bisa bernafas bebas.


Selesai memasak, Airin membawa semangkuk lauk dan sepiring nasi ke kamar, tak luput juga membawa sebotol air minum yang dibawa Ringga.


Setelah itu, bergegas mengunci pintu kamar dengan rapat. Berdiam diri di dalam kamar bersama Ringga, saat ini hanya itu yang Airin bisa lakukan. Menjaga mentalnya agar tetap sehat, tidak bertemu dengan mertuanya sampai pikirannya tenang.


"Mah, kenapa mamah masih menangis?"


Ringga mengusap air mata Airin yang jatuh di pipi. Airin masih tidak bisa menahan air matanya, jika mengingat tamparan dari ibu mertuanya.


Airin hanya diam, tersenyum tipis, sambil menyuapi Ringga dengan tangannya.


***


Hampir tengah malam, masih mengurung diri. Menghirup udara dari jendela yang terbuka. Angin malam yang dingin masuk kedalam kamar, Airin menutup jendela kamarnya, agar Ringga tidak kedinginan. Padahal, Airin masih ingin menatap bintang di langit malam yang cerah, namun, Ringga terus mengeluh tentang kedinginan.


Suara Angga bersamaan dengan ketukan pintu membuat Airin terbangun dari lamunannya yang tengah menepuk pantat Ringga perlahan untuk membuat anaknya tertidur lelap.


Airin membuka pintu, dan Angga pun masuk kedalam kamar. Angga menaruh tas laptopnya, dan merenggangkan dasinya. Berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Setelah keluar, Angga langsung duduk mendekati Airin.

__ADS_1


"Ada apa tadi?" tanya Angga.


Entah kenapa, Airin jadi malas membahasnya sekarang. Setelah butuh beberapa jam untuk menenangkan pikirannya, jika diungkit kembali hanya membuat dirinya gelisah lagi.


"Aku barusan pulang menjenguk Mona di rumah sakit, dia bilang kalian bertengkar,"


Kalimat itu membuat Airin menoleh, menghela nafas panjang dan berdecak kesal dengan sikap Angga yang tidak jauh beda dengan ibu mertua, terlalu memperdulikan drama yang dibuat Mona.


"Apa dia menelponmu?" tanya Airin. Angga mendekat, melepas dasi dan kemejanya.


"Lalu kau langsung kesana?"


"Ya aku khawatir aja, dia terdengar kesakitan. Aku kira lukanya cukup parah karena bertengkar denganmu,"


"Lalu kamu percaya?"


Angga diam, menghela nafas. Bangkit dan mengambil segelas air minum di meja.


"Apa kamu juga percaya padaku, dengan apa yang Mona dan mamahmu lakukan?"


Angga menoleh, enggan memulai perdebatan. Mengambil handuk, bersiap pergi ke kamar mandi.


"Itulah kamu, jika Mona menelpon, kamu langsung sigap menanggapi. Jika aku ingin berkeluh kamu seakan bosan untuk mendengarnya,"


"Lalu apa yang dilakukan mereka?" tanya Angga.


Airin berdecak, enggan untuk meneruskan perkataannya setelah melihat ekspresi Angga.


"Katakan dulu!" Angga menarik tangan Airin.


"Mona menghinaku, dan Mamahmu menamparku," jawab Airin, kembali duduk di atas tempat tidur.


Tidak ada sahutan lagi, Angga memilih pergi ke kamar mandi. Airin kesal, suaminya sepertinya tidak percaya dengan ucapannya.


Setelah Angga selesai mandi, dia duduk di samping Airin.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Coba ceritakan!"


Airin diam, dia merasa malas untuk mengulang keluhannya setelah tidak mendapatkan respon saat tadi.

__ADS_1


"Ayolah! Kamu selalu begitu, marah-marah tidak jelas, jika aku tanya hanya diam,"


"Jika aku bicara, apa kau akan percaya?"


"Ya kamu cerita dulu dong, Rin!"


"Aku malas, lebih baik kamu tanya saja pada Mona atau mamahmu, aku lelah, ingin tidur. Jangan berisik, karena besok Ringga akan mulai berangkat sekolah,"


Airin berbaring di samping Ringga, memeluk anaknya dari belakang dengan erat. Angga berdecak kesal, setelah berganti pakaian keluar dari kamar.


Lagi dan lagi, suara gertakan ibu mertuanya terdengar. Dan sepertinya, Angga sedang mencari tahu apa yang sedang terjadi? Hingga akhirnya ibu mertuanya marah.


Langkah kaki gemuruh terdengar bersamaan suara ibu mertuanya yang memanggilnya. Airin langsung keluar dari kamar, agar tidak mengganggu istirahat Ringga.


"Apa yang kau adukan pada anakku?!" tanya Ibu mertuanya dengan membentak, ketika Airin keluar dari kamar.


Airin diam, Angga mendekat untuk menengahi.


"Kau yang melukai Mona, kenapa menyalahkanku dan Mona?!" tanya Ibu mertuanya.


"Dia yang memulai, dia yang menjambak kerudungku terlebih dahulu, mah." sanggah Airin.


"Tidak mungkin!"


Airin merasa akan sia-sia, meskipun berkata yang sebenarnya. Karena mata dan hati ibu mertuanya sudah terbelenggu di tangan Mona.


"Ya sudah terserah mamah. Airin hanya ingin mamah jangan berisik, Ringga sedang tidur,"


Airin menghindar, ibu mertuanya menahannya dengan menarik tangannya.


"Sudah mah, kita bicarakan besok saja," timpal Angga, melepaskan tangan ibunya dari Airin.


"Dasar udik! Aku yang punya rumah, kenapa dia yang mengatur?!" gerutu ibu mertuanya. Airin menoleh sesaat. Kemudian masuk kedalam kamar, dan menutupnya dengan keras.


Perasaan Airin kembali risau dan dipenuhi kesedihan. Apalagi setiap melihat dia bertengkar dengan ibu mertuanya, sedangkan Angga seakan hanya memperkeruh suasana. Airin duduk di atas ranjang, menatap koper di atas lemarinya.


Perasaannya sedihnya kali ini bercampur aduk dengan kekecewaan dan kesabaran yang mulai hilang.


Airin mengambil ponselnya dan berniat menghubungi kak Ikmal untuk menjemputnya, karena dirinya benar-benar sudah tidak sanggup berada di ruang ibu mertuanya.

__ADS_1


Set …,


Angga menarik ponsel itu, dan membantingnya ke tempat tidur.


__ADS_2