
Angga menarik kopernya ke arah kamar, dan Airin hanya tertunduk diam mengikuti langkah suaminya.
"Kamu gak apa-apa kan disini, aku mau ke kantor sebentar," ucap Angga berpamitan, Airin menarik tangan Angga dan menggelengkan kepalanya. Perasaannya masih kaku menerima semua ini, karena baru pertama kali singgah Angga langsung ingin meninggalkannya.
"Nggak apa-apa, mamaku memang sedikit keras tapi dia baik kok, kamu nanti kalau mau ke dapur tinggal keluar, menuju lorong paling ujung." ucap Angga, kemudian mengambil beberapa dokumen di meja dan keluar dari kamar.
Airin menoleh kebelakang, melihat Ringga yang masih tertidur nyenyak. Airin membuka jendela kamar, dan melihat sekeliling pekarangan rumah Angga.
"Heh, kenapa kamu bisa kesini?"
Pintu kamar terbuka tanpa suara ketukan, ibu mertuanya sudah berdiri di depan kamar dengan berkacak pinggang.
Airin menoleh dan menatap mata yang kejam dari ibu mertuanya.
"Angga yang meminta, mah," jawab Airin.
"Nggak mungkin! Pasti kamu kan yang memaksanya untuk kamu bisa tinggal disini dan mengawasi kehidupannya!"
Ibu mertuanya mendekat, dan menunjuk keras bahu kiri Airin. Suara kegaduhan itu membuat Ringga terbangun.
"Siapa itu mah?" tanya Ringga, mengucek matanya dan turun dari tempat tidur.
Mertuanya menatap Ringga dari ujung kaki sampai ujung kepala, kemudian menggeleng.
"Dia nenekmu, berikan salam nak," sahut Airin. Ringga mendekat dan tersenyum, mengulurkan tangan kecilnya untuk mencium tangan ibu mertuanya, namun ibu mertuanya menila keras dan segera menangkisnya.
"Sudah, jangan panggil aku nenek. Menyebalkan!" gerutu ibu mertuanya, lalu keluar dari kamar.
Ringga mendongak dan melihat mata Airin.
"Galak sekali," gerutu Ringga.
"Hus, jaga ucapanmu, dia nenekmu," kata Airin kemudian duduk, dan membongkar isi koper. Mengeluarkan semua baju miliknya dan Ringga, kemudian menyusunnya ke dalam lemari.
"Wah, rumahnya bagus banget,"
Ringga mengintip dari pintu, kemudian berlari ke arah jendela melihat halaman luar rumah.
"Jangan berlarian, kau tahu kan, nenekmu sedikit …e …e … tidak suka dengan kita. Jadi jaga sikapmu!" ucap Airi, lalu menarik tangan anaknya untuk duduk disampingnya.
"Mah, aku haus,"
Airin menghela nafas, kemudian bangkit.
"Tunggu disini! Ibu ambilkan minum!"
__ADS_1
Ringga mengangguk, da Airin keluar kamar. Menoleh kanan dan kiri, mencari lorong yang dimaksudkan Angga tadi.
"Mau ngapain?" tanya ibu mertuanya, yang datang dari belakang.
"Mau ke dapur, mah. Ringga minta minum," jawab Airin.
"Tuh, lewat pojok. Hati-hati disini semua barang mahal, jangan sampai ada yang pecah. Kau mengerti kan!"
Airin mengangguk, kemudian berjalan ke arah lorong yang ditunjuk mertuanya.
Airin membuka lemari es, dan mengeluarkan sebotol air, agar tidak mondar-mandir ke dapur. Kemudian, mengambil satu gelas dan kembali ke kamar.
Pyar …
"Tidak!!"
Airin mendengar teriakkan ibu mertuanya, Airin segera berlari menuju suara tersebut.
"Kamu ini jalan pakai mata, lihat vas bunga kesayanganku pecah!"
Airin melihat ibu mertuanya memaki Ringga, karena menjatuhkan vas bunga di meja. Ringga menangis dengan keras, membuat ibu mertuanya semakin menambah memaki anaknya. Airin menaruh botol dan gelas ke kamar, kemudian mendekat kearah anaknya.
"Lihat anakmu! Baru satu jam disini merusak barang, bagaimana jika seharian atau seminggu, semua barang disini bisa rusak berantakan," kata ibu mertuanya dengan keras, lalu ibu mertuanya meneriaki nama seseorang dan wanita paruh baya keluar lah membersihkan pecahan vas.
Airin menarik tangan Ringga, masuk kedalam kamar.
"Memang ya orang udik itu tidak mengerti sopan, ah … dasar ibu dan anak sama saja buat masalah," gerutu ibu mertuanya, Airin diam, dna menutup kedua telinga anaknya.
Ringga masih menangis dengan keras sesampainya di dalam kamar. Meminta pulang ke rumah kakaknya.
"Sudah, jangan dengarkan, ini di minum dulu!"
"Papa …" Ringga semakin berteriak dan memanggil papanya. Airin mengusap kepala anaknya, kemudian memeluk anaknya dengan erat. Perlahan air matanya tumpah, untuk pertama kalinya melihat anaknya setakut ini.
Airin mengambil ponselnya, berniat hendak menghubungi Angga. Namun sebelum panggilan itu terjawab, suara keras pintu yang terbuka di kamarnya membuat dia dan Ringga terkejut.
"Jangan biarkan anakmu keluar, aku katakan ini ya terakhir kalinya. Aku tidak ingin semua barang disini rusak," ucap ibu mertuanya, menatap Airin dan berkacak pinggang.
Airin berdiri, dan mendekat ke arah ibu mertuanya.
"Dia itu cucumu, anak Angga!" jawab Airin dengan tegas. Airin mulai geram, dan meninggalkan kesopanannya karena sudah merasa sakit hati, melihat Ringga yang di bentak dengan mertuanya.
"Dia bukan cucuku, dia adalah anak dari kesalahanmu, Mona sudah menceritakan semuanya, jika kamu berbuat hal buruk untuk mendapatkan Angga, kamu merayu anakku yang polos dan baikkan?!"
Airin mengernyit, kemudian menarik majalah dari tangan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Terserah! Terserah mamah mau katakan apapun tentang aku, aku dan Angga sudah menikah. Aku tidak peduli lagi dengan ucapan Mona,"
Airin menatap tajam mata ibu mertuanya, hingga langkah ibu mertuanya mundur keluar dari kamar. Airin kemudian menutup pintu kamar dengan keras dan menguncinya
"Sialan! Ini rumahku! Keluar kau dari sini!" teriak ibu mertuanya yang memaki, Airin menutup kedua telinga Ringga dan sembunyi berdua di dalam selimut dengan anaknya.
Ringga masih sesenggukan menangis di pelukan Airin.
Hampir tengah malam, suara ketukan pintu dan suara Angga baru terdengar. Airin membuka pintu. Memberikan sambutan wajah kesal kepada Angga yang baru datang.
"Aku lapar, kami sudah dari tadi menunggu mu," keluh Airin.
"Kenapa tidak ke dapur dan memasak?" tanya Angga, sambil melepas jasnya.
"Anakmu dari tadi menangis, ibu mu memarahinya karena dià tidak sengaja menjatuhkan vas. Bukannya di tolong malah di maki, dia kan masih kecil," jawab Airin.
Angga membuka selimut, dan melihat Ringga yang masih menangis lirih sembunyi di balik selimut.
Angga kemudian menarik kaki Ringga, lalu memeluk putranya.
"Ayo keluar, kita makan!" ajak Angga, sambil menggendong Ringga. Airin bergeming dan masih duduk di atas tempat tidur.
"Ayolah!"
Angga menarik tangan Airin.
keluar dari kamar dan menuruni tangga, Angga membawanya keruang makan.
"Bibi, ambilkan makanan!" teriak Angga, memanggil pembantunya.
Beberapa makanan terhidang di atas meja, Airin masih enggan untuk menikmati makanan, namun Angga memaksanya dan menyuapinya.
"Sudah, jangan di ambil hati omongan mamah, mamah mungkin belum terbiasa ada anak kecil di rumah,"
Suara langkah kaki, perlahan terdengar menuruni tangga, Airin menoleh dan melihat ibu mertuanya datang.
"Malam-malam kok makan,"
Airin terdiam dan menyingkirkan piring dihadapannya. Bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan meja makan.
"Rin, makan dulu," teriak Angga. Airin diam dan menaiki tangga menghindari ibu mertuanya.
"Dasar!" gerutu mertuanya, yang terdengar. Airin menoleh dan menatap mata mertuanya dengan tajam sesaat, kemudian pergi.
Perperangan antara menantu dan mertua pun bisa tergambar jelas.
__ADS_1