
Mungkin Angga menyadari jika perilakunya ketahuan, dia buru-buru melepaskan tangan Mona dan pergi. Airin masih menatap Mona, wanita yang selalu menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya sedang menyeringai dan tersenyum tipis membalas tatapan Airin.
Airin yang mendengar suara langkah kaki suaminya menaiki tangga, bergegas menutup tirai dan mengajak Ringga kembali ke kamar.
Angga dan Airin bersamaan tiba di depan pintu kamar, keduanya saling melirik dengan wajah yang sama-sama kesal. Airin berdecak kesal, melihat kelakuan suaminya. Namun kali ini dia tidak ingin ambil pusing, mengingat dirinya sedang hamil dan disarankan Dokter untuk tidak terlalu stres men menanggapi masalah, Airin tidak ingin kehilangan bayinya untuk kedua kalinya.
"Ringga, ayo kita sholat,"
Suara adzan magrib berkumandang, Airin menarik tangan putranya untuk pergi berwudhu. Sambil matanya terus melihat suaminya yang tengah duduk di sofa sibuk dengan ponselnya. Tidak ada pergerakan untuk Angga bangkit dan meninggalkan ponselnya. Padahal Angga yang dikenal Airin dulunya adalah pria yang rajin beribadah. Kesibukan dan harta dunia membuat suaminya berubah. Perbedaan itu mulai kentara, namun, Airin mencoba menyekanya. Bertanya sekali, dua kali, namun tidak digubris, hingga akhirnya enggan menanyakan kepada Angga 'Kamu nggak sholat?'.
Selesai sholat, Airin duduk di samping Angga. Menghela nafas panjang dan menatap wajah Angga.
"Ada apa lagi?"
"Tidak,"
Airin bangkit lalu menyingkir, suaminya tidak merasa peka dengan apa yang diinginkan Airin.
"Papah nggak sholat?"
Pertanyaan yang Airin sungkan tanyakan, diutarakan oleh Ringga. Airin tersenyum, melihat kepandaian putranya.
"Iya nanti," jawab Angga.
"Kata papa Ikmal, sesuatu yang baik jangan ditunda. Sholat kan hal kebaikan," sanggah Ringga. Airin tersenyum mendengar celotehan putranya,sambil melipat mukena.
"Udah kamu jangan berisik, sana nonton tivi atau belajar saja!"
Ringga pergi dengan berdecak, dan sepertinya ucapan putranya pun tidak mempan untuk membuat Angga bangkit dari sofa.
1 jam berlalu, adzan isya berkumandang. Tidak ada tanda-tanda Angga menjalankan kewajibannya untuk beribadah. Airin yang tengah mengajari anaknya belajar, menoleh kebelakang. Suaminya masih sibuk, kali ini mengetik sesuatu di keyboard.
"Astagfirullah," gumam Airin.
__ADS_1
Suara ketukan pintu malah yang membuat Angga bangkit dari sofa. Airin melihat Mona dari celah pintu.
"Aku pulang dulu, ya."
Airin mendengar ucapan pamit Mona pada Angga.
"Mau aku antar?"
"Boleh deh,"
Angga pun keluar dari kamar. Tanpa kata pamit kepada Airin untuk mengantar Mona pulang.
Airin masih menoleh kebelakang, sampai pintu kamarnya akhirnya tertutup rapat. Angga tidak juga apapun untuk basa-basi kepada Airin.
'Suara adzan kau hiraukan, suara wanita itu kau bangkit dan bergegas pergi. Astaghfirullah, semoga kamu segera sadar, Pah.' batin Airin, ketika membuka tirai jendela kamarnya, dan melihat mobil sedan putih suaminya pergi keluar dari pagar.
Ada rasa curiga dan penasaran. Namun, enggan untuk bertanya. Dengan alasan, tak ingin akhirnya berdebat. Tapi jika di pendam dalam hati saja, hal itu seperti membalut luka tanpa mengobatinya.
3 jam berlalu, tidak ada tanda-tanda suaminya pulang. Ringga sudah tertidur lelap. Sedang Airin, menunggu kedatangan suaminya di teras rumah. Mondar-mandir cemas, ponsel Angga yang tertinggal di sofa membuat Airin tidak bisa menghubungi suaminya.
Airin seperti terlalap api cemburu. Namun, suara teriakan Bi Imah membuatnya terkejut, dan masuk kedalam rumah. Teriakan itu berasal dari kamar ibu mertuanya. Pembantunya terlihat jijik melihat ibu mertuanya yang sedang buang air besar di celana. Kondisi ibu mertuanya yang masih stroke dan tidak bisa bergerak bebas seperti dulu, akhirnya terkadang buang air kecil atau buang air besar di tempat tidur. Bi Imah keluar kamar dengan mual. Karena selama ibu mertuanya sakit, memang Mona lah yang merawatnya. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini Mona jarang menginap lagi. Mungkin Mona semakin lama juga merasa lelah, menghadapi situasi ini.
"Bi, ambilkan baskom dan handuk basah!"
"Iya non,"
Airin mendekat, dan melepas celana ibu mertuanya perlahan. Setelah Bi Imah datang, Airin pun membersihkan tubuh ibu mertuanya dan memakaikan pakaian baru serta popok baru yang bersih.
Ibu mertuanya dan Airin, saling menatap. Ibu mertuanya hanya diam, sedikit membuang muka.Namun, Airin memberikan senyumnya meskipun tidak pernah dihargai.
"Ambil plastik, Bik!"
"Ini, Non. Tapi Bibik jijik buangnya,"
__ADS_1
"Ya udah aku buang nanti,"
Airin keluar kamar, kemudian menuju tong sampah depan rumah untuk membuang pakaian ibu mertuanya yang kotor.
Lampu depan mobil menyilaukan matanya, mobil sedan putih itu telah pulang.
"Kamu ngapain malam-malam keluar?" tanya Angga, membuka jendela mobil.
"Ini mamah habis buang air besar,"
"Oh, ya udah. Jangan lama-lama, kenapa nggak suruh Bibik?"
Airin diam tidak menyahut, tidak ingin membuat kegaduhan lagi dengan mengatakan Bi Imah tidak mau membuangnya.
Setelah selesai, Airin mencuci tangan dan kembali ke kamarnya.
"Besok nggak usah urusi mamah lagi, Mona akan mengirimkan pengasuh." kata Angga, yang datang mendekat.
"Iya," jawab Airin lirih.
"Darimana saja, kok lama?"
Airin bertanya dengan suara lembut, sambil memberikan segelas air putih kepada Angga yang tengah duduk di sofa.
"Mengantar Mona,"
"Ah, seharusnya aku lebih lama lagi disana, dia tampak tertekan."
Airin menoleh, melihat ekspresi wajah suaminya yang merasa bersalah.
"Kenapa?" tanya Airin.
"Dia akan menikah," jawab Angga.
__ADS_1
Airin terkejut mendengar kabar itu, jawaban itu tidak seperti dugaan yang di pikirkannya selama ini.