
Airin menyahut ucapan ibunya dengan senyum yang diam. Kemudian masuk ke dalam kamarnya. 'hanya karena kalung, masa iya aku sampai luluh kembali,' batin Airin.
***
Pagi Airin dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari ibunya. Airin membuka pintu kamarnya di tengah dirinya sedang merias diri untuk bersiap berangkat kerja.
"Dek, Raffi datang pagi-pagi mau mengantarmu berangkat kerja, ayo sana cepetan!" ujar Ibunya, Airin mengintip dari pintu kamarnya dan memastikan keberadaan Raffi. Saat ketahuan dengan Raffi, Airin hanya bisa tersenyum lalu kembali masuk ke kamar.
"Ah, aku tidak mau bu," ucap Airin.
"Sudah temui, sana berangkat bersama! Ya Allah semoga dia memang jodohmu, dek," ujar Ibunya dengan raut wajah bahagia sambil menadahkan tangan. Sedang Airin masih maju mundur untuk menemui Raffi, rasanya masih canggung.
Ibunya mendorong tubuh Airin hingga keluar dari pintu kamarnya, Airin tidak bisa mengelak lagi, kemudian berjalan ke arah Raffi. Raffi dengan senyum sopannya, meminta izin orang tua Airin untuk mengantar Airin ke tempat kerjanya. Ayahnya langsung membalasnya dengan manggut-manggut dan tersenyum.
Airin menoleh kanan kiri di sekitar rumahnya, baru pertama kalinya dia dijemput oleh pria. Raffi menyuruh Airin naik ke boncengan motornya dan memakai helm, kemudian keduanya pergi bersama.
Airin hanya diam dan memegang ujung baju tepat di sisi kedua pinggang Raffi sedikit. Sambil masih menoleh kanan kiri, memastikan tidak dilihat oleh orang yang dikenalnya.
Sesampainya di toko, Airin hanya mampu membalas kebaikan Raffi dengan senyum dan ucapan terimakasih, setelah itu Raffi berpamitan untuk pergi bekerja.
Airin merasakan detak jantungnya berdegup kencang, sepertinya ingin copot. Airin tidak menyangka saja, secepat itu kedekatan dirinya dan Raffi padahal keduanya tidak banyak bicara ketika bertemu.
**
Saat jam istirahat, Airin mendapatkan pesan Raffi untuk menunggunya saat pulang kerja di depan toko, karena Raffi akan menjemputnya. Sekalian akan mengajak Airin makan berdua seperti izinnya 4 hari lalu pada orang tuanya Airin. Airin masih tidak membalasnya, jari-jarinya maju mundur untuk mengetik balasan 'iya' atau 'tidak'.
Namun, kebimbangan itu bertambah ketika Angga meneleponnya, jika Angga akan menjemput Airin saat pulang kerja. Airin tidak juga menyahut pertanyaan Angga dan mengatakan 'Lihat nanti, aku hubungi lagi,' ketidakjelasan Airin itu membuat dirinya tersudut untuk memilih.
__ADS_1
Akhirnya setelah hampir jam kerjanya selesai, Airin menghubungi Angga dan meminta Angga untuk tidak menjemputnya dengan alasan akan pulang bersama kak Ikmal, Angga tidak menyahuti ucapan Airin dan langsung mematikan telepon.
Dan benar saja, saat Airin di luar dan berniat mengunci toko, Airin menoleh kanan kiri sisinya. Ada Angga dan juga Raffi, Airin sudah menduganya Angga akan tetap bersikeras dengan keinginannya.
Angga lalu mengikuti langkah Airin yang akan mengembalikan kunci toko ke rumah bosnya.
"Oh jadi sekarang dia kakakmu yang bernama Ikmal," ujar Angga kesal, menoleh kebelakang melihat Raffi.
"Iya, sudah kamu pulang saja, aku sudah ada janji dengan Raffi, lagi pula orang tuaku sebelumnya sudah mengizinkan, dan kamu saat itu juga ada di sana mendengarnya," sahut Airin lalu berjalan lebih cepat, namun Angga masih tidak gentar dan mengikuti langkah Airin yang sama cepatnya.
Setelah mengembalikan kunci toko, Airin berjalan kembali ke arah toko untuk menemui Raffi yang telah menunggunya.
"Kamu jadi menyukainya?" tanya Angga yang masih mengikuti langkah Airin, Airin diam kemudian berlari meninggalkan langkah Angga.
Setelah itu Airin lalu menyuruh Raffi bergegas pergi bersamanya dengan motor. Agar tidak diikuti oleh Angga. Sedikit rasa bersalah itu ada, namun entah Airin masih plin-plan untuk memilih. Airin masih tidak tahu hubungan Mona dan Angga seperti apa, dan dirinya takut untuk berharap lebih.
Setelah sampai di sebuah restoran, Airin langsung mendorong punggung Raffi untuk bergegas masuk kedalam sambil masih menoleh kanan kiri memastikan keberadaan Angga.
"Eh ngapain kesini?" tanya Raffi pada Angga.
"Sebagai teman ayahnya Airin aku diperintah untuk menjaga kalian, bagaimanapun jalan berdua itu tidak baik, karena yang ketiganya pasti setan." jawab Angga, lalu melirik ke arah Airin. Airin tersenyum mendengar ucapan Angga yang tidak jelas.
Raffi kemudian menghela nafas panjang, untuk mencoba sabar dengan tingkah Angga. Raffi lalu memberikan perhatiannya kepada Airin dengan mengambilkan Airin makanan di piring, namun lagi-lagi Angga menguji kesabaran Raffi dengan langsung menarik piring itu untuk dirinya.
"Sudah, aku ambil sendiri saja," ucap Airin.
Acara makan malam yang harusnya berdua dan terkesan romantis itu, menjadi berantakan. Berulang kali Angga melirik tajam ke arah Airin ketika Raffi mengajak ngobrol dirinya, Airin sampai salah tingkah dan hanya menjawab semua jawaban Raffi dengan senyum.
__ADS_1
"Airin, aku ingin kita lebih dekat, sebenarnya kamu sudah punya pacar atau belum? Aku takut saja jika ternyata nantinya aku salah paham, dan ternyata kamu menyukai pria lain sebenarnya," tanya Raffi sambil menatap Airin.
Airin diam dan sesekali melirik ke arah Angga yang terlihat juga penasaran dengan jawaban yang akan Airin katakan.
"Tidak, aku masih sendiri," jawab Airin lirih.
Raffi tersenyum mendengar jawaban itu, namun Angga langsung terlihat kesal dan meneguk air putih di meja sampai habis tanpa jeda.
"Tapi ada yang ingin aku katakan padamu sebenarnya, sebelum kita melangkah terlalu jauh dan hatimu tersakiti," imbuh Airin.
"Apa?" tanya Raffi.
"Sebenarnya aku sudah memiliki anak," jawab Airin. Angga yang mendekati kejujuran Airin kepada Raffi langsung tersedak dan batuk-batuk. Raffi lalu menyodorkan air miliknya kepada Angga.
Raffi terdiam sejenak tanpa mengeluarkan kalimat lagi, sedang Angga tersenyum kemenangan sambil menoleh ke arah Airin.
"Lalu berarti kamu sudah memiliki suami?" tanya Raffi, menatap Airin dengan mata yang sedih. Airin menggelengkan kepala.
"Lalu?" tanya Raffi dengan antusias ingin mendengar kisah Airin. Airin melirik ke arah Angga sesaat.
"Saat remaja aku pernah melakukan kesalahan, aku hamil tanpa pernikahan lalu aku meninggalkan pria itu," jawab Airin.
"Oh …, begitu." balas Raffi dengan aura yang lesu setelah mendengarkan kejujuran dari Airin.
Setelah itu tidak ada kalimat lain lagi yang keluar, hanya ada keheningan sampai selesai makan. Airin lalu meminta Raffi untuk tidak mengantarnya pulang karena merasa tidak enak hati. Ketiganya pun keluar dari restoran bersamaan.
Raffi berdiri di samping motornya sambil menatap kepergian Airin yang akan masuk kedalam mobil Angga. Namun, tiba-tiba …,
__ADS_1
"Airin," teriak Raffi, lalu berlari mendekat ke arah Airin.
"Bagaimana jika menikah denganku?" tanya Raffi. Airin diam dan terkejut begitupun dengan Angga.