Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 70


__ADS_3

'Akankah pernikahannya membuat dirinya benar-benar bisa melupakan Angga?'


' Jika benar, aku sangat bersyukur. Belenggu cinta yang Mona kaitkan pada Angga akan terlepas, dan aku … aku akan memulai perjalanan pernikahan ku dengan Angga lebih baik,'


Lamunan yang panjang mengisi kekosongan. Sebuah kartu undangan pernikahan berada di tangan Airin. Dia dapatkan di laci kamarnya.


2 bulan tinggal di Bandung untuk menenangkan diri. Kemudian, dengan keputusan yang setengah hati karena selalu di bujuk kakaknya untuk membenahi kehidupan rumah tangganya bersama Angga, membuat Airin kembali ke Jakarta. Namun, tidak bersama Ringga. Melainkan sendirian. Ringga enggan kembali ke Jakarta, memilih tinggal dengan Kak Dista dan Kak Ikmal di Bandung.


Awalnya terasa berat menerima keputusan putranya yang berusia 6 tahun, sudah memberikan pilihan untuk memilih tinggal dengan ibu pengasuhnya daripada ibu kandungnya. Namun, sejenak memikirkan beberapa trauma yang anaknya alami saat berada di rumah ibu mertuanya. Membuat Airin, akhirnya merelakan putranya tinggal jauh dari dirinya.


Pertama kali kembali masuk kedalam rumah ibu mertuanya, sambutan ketus yang sama masih di berikan Bi Imah padanya. Kemudian kedua, melihat Ibu mertuanya yang sudah mulai terlihat sedikit lebih sehat dari sebelumnya, masih saja bersikap cuek dan membuang muka bila bersimpangan dengan Airin.


Ibu mertuanya menangis tersedu-sedu di ruang makan, setelah mendapati kartu undangan pernikahan Mona. Tangisannya hingga sampai terdengar di kamar Airin.


Airin sempat terkejut dengan calon suaminya Mona, yang tak lain adalah pria yang sempat ia pernah kenal sebelumnya. Suaminya hanya mengatakan calon suaminya Mona adalah Rival perusahaannya. Namun, ternyata juga pernah menjadi mantan rival Angga untuk mendapatkan cinta Airin sebelumnya.


"Jadi dia akan menikah dengan Raffi, aku tidak salah baca, kan?" tanya Airin kepada Angga yang sedang berdiri di depan cermin, mencukur kumis tipisnya.


Airin menoleh dan melihat suaminya mengangguk beberapa kali.


"Kenapa tidak kamu katakan sebelumnya?" .


"Untuk apa? Kamu ingin bertemu nlagi dengannya?"


Airin tersenyum, melihat ekspresi Angga cemburu.


"Apa salahnya? Kita pernah berteman bahkan …"


"Bahkan akan menjadi suamimu, tapi akulah yang berhasil pada akhirnya," sanggah Angga. "Kau masih menginginkannya dengan perut besar mu itu? Mungkin juga sekarang dia tidak mengenalmu."


Airin mengernyit kesal, kemudian melihat dirinya di cermin dari kejauhan. Tubuhnya terlihat sangat gemuk, merasa sedikit sedih. Sebelumnya berat badannya 50 kg. Namun, diusia kehamilannya 4 bulan, berat badannya sudah naik 15 kg. Entah kenapa? Di kehamilan kedua ini, Airin selalu merasa lapar, dan tidak bisa mengendalikan nafsu makannya.


"Dia tidak akan mengenali wanita hamil dan gemuk sepertimu, jadi jangan berharap saat di acara pernikahan Mona nanti, kau bebas menyapanya. Yang ada aku malu, jika dia merasa tidak mengenalmu," ucap Angga, yang masih saja menyudutkan Airin. Kemudian, datang mendekati Airin dan mengusap perut Airin lembut. "makan yang banyak, biar anak kita sehat," imbuh Suaminya, diakhiri dengan tawa.


Airin meremas undangan itu, kemudian melemparkannya ke tong sampah.


"Ayo turun! Sarapan!" teriak Angga dari ruang makan lantai dasar.


Airin berdecak kesal, melihat tingkah Angga yang tidak ada sedikitpun rasa perhatian. Membiarkan Airin yang hamil menuruni tangga sendirian.

__ADS_1


"Padahal tadi lewat di depanku, kenapa tidak menggandengku sekalian, sih." gerutu Airin. Keluar dari kamarnya, dan menuruni setiap anak tangga dengan perlahan.


Ibu mertuanya juga sudah duduk di ruang makan. Sedikit melirik melihat kedatangan Airin, Airin pun menyadarinya. Namun, seperti biasa berusaha cuek seperti apa yang dilakukan ibu mertuanya.


"Hari ini mamah mau nemenin Mona belanja,"


Ibu mertuanya mulai membahas Mona lagi setiap bertemu dengan Airin.


"Mamah kan belum terlalu sehat, nanti malah nyusahin Mona," sahut Angga.


"Ah, mamah tetap mau pergi. Mamah sudah kangen dengan Mona,"


Airin melirik, dan melihat senyum mengembang di bibir ibu mertuanya.


"Dia kan mau menikah, biarkan dia pergi dengan mertuanya. Kenapa harus dengan Mamah?" sahut Angga.


"Ah kamu ini. Selamanya Mamah cuma tetep nganggep Mona menantu Mamah. Sudah, titik!"


"Ah, terserahlah. Jangan sampai merepotkan,"


Angga memberikan peringatan kepada ibu mertuanya.


Airin menoleh, mendengar usul dari suaminya. Ibu mertuanya langsung menurunkan sudut bibirnya ke bawah. Melirik ke arah Airin dengan kesal. Airin lantas langsung memukul betis Angga.


"Sorry, dia? Bukan level Mamah," ucap ibu mertuanya, menunjuk ke arah Airin.


Airi. Mengernyit mendengarkan jawaban ibu mertuanya.


"Ah, ya sudah terserah Mamah saja, yang penting kalian berdua tidak bertengkar, itu saja sudah membuatku bahagia," sahut Angga.


Airin menoleh ke arah ibu mertuanya yang sedang membalas pesan Mona sambil tersenyum-senyum. 'Orang lain dianggap menantu, sedang menantunya sendiri dianggap orang lain.'


2 jam setelah kepergian Angga ke Kantor. Mona datang kerumah, berteriak dari depan pintu memanggil ibu mertuanya dengan bahagia. Airin keluar kamar, melihat pelukan hangat antara Mona dan ibu mertuanya di lantai pertama.


Lalu tanpa diduga Mona mendongak, dan melihat keberadaan Airin.


"Ayo ikut keluar, kita makan bersama, Rin." ucap Mona.


Airin diam sejenak, perasaannya masih bingung dengan tawaran Mona.

__ADS_1


"Ah, kenapa ajak dia?"


Airin mendengar ibu mertuanya berbicara lirih dengan Mona. Mona menjawabnya dengan bisikan, lalu mendongak kembali, menatap Airin dengan senyum.


"Sudah ayo turun! Aku kenalkan dengan calon keluarga baruku."


Airin tersenyum, menyadari jika Mona sebenarnya ingin memamerkan calon mertuanya padanya.


"Tidak, ah. Aku dirumah saja," jawab Airin.


"Ah bilang saja kamu insecure kan, memang sih calon suamiku ini sangat istimewa. Kamu takut iri, kan?"


Mona membujuk dengan ejekan.


Airin diam sejenak, bertanya-tanya dalam hati, ada sedikit rasa penasaran ingin mengetahui kabar orang tua Raffi, yang dulu pernah di temuinya saat masih menjadi pacar Raffi. Kebaikan ibunya Raffi, masih terbekas. Rasanya tidak masalah, jikapun mereka saat ini tidak mengenali Airin, tapi setidaknya Airin tahu, orang yang pernah baik padanya, dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.


"Aku tunggu di mobil, jangan banyak berpikir." ucap Mona, lalu pergi keluar bersama ibu mertuanya.


Airin kembali masuk ke kamar untuk mengambil tas, kemudian keluar kamar lagi dan menuruni tangga perlahan.


Setelah itu, keluar dari rumah dan menuju di mana mobil Mona terparkir.


Di dalam mobil dan selama perjalanan menuju Restoran, Mona selalu menceritakan kehebatan keluarga calon mertuanya. Airin hanya tersenyum tipis, sambil melihat wajah ibu mertuanya yang juga terlihat kesal mendengar celotehan Mona yang seakan menyombong dari kaca spion.


Hingga tiba di Restoran yang di tuju. Airin sedikit merasa gugup. 3 tahun lamanya, tidak berjumpa dengan Raffi. Pria baik yang pernah membuatnya terjerat cinta. Dan mungkin, jika tidak menyangkut Ringga. Airin pun akan memilih Raffi daripada Angga.


Memasuki Restoran megah, di temani seorang pelayan menuju ke ruangan yang sudah di pesan.


Airin duduk, menanti kehadiran calon mertua yang akan di sombongkan Mona.


Pintu terbuka, Airin tertunduk dengan perasaan gugup. Merasa, dirinya sedikit berlebihan berharap Raffi dan keluarganya masih mengingat tentang dirinya.


"Sayang," ucap Mona, dengan nada centil.


Hening sesaat hingga kemudian …


"Airin …"


Airin mendongak, melihat mata seorang Pria yang masih sama terlihat bersinar dan penuh dengan kelembutan menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2