
Airin yang mendengar pertanyaan Angga langsung bangkit dari tempat duduknya dan masuk kedalam rumah.
Ayahnya menatap kehadiran Airin, kemudian meneguk kopi di cangkir.
"Tidak, tidak bisa, Airin sudah dijodohkan," jawab Ayahnya Airin, lalu mengelap sisa kopi di mulut.
"Dijodohkan dengan siapa?" sahut Angga dan Airin kompak bersamaan, hingga membuat ayahnya tersenyum. Angga dan Airin pun saling bertatapan sejenak, kemudian menunduk bersamaan karena canggung.
"Teman kakakmu," sahut Ayahnya.
"Teman kak Ikmal, yang mana? Dan siapa? Kenapa Abang tidak menceritakan perjodohan itu dengan Airin," ujar Airin kesal, lalu mendekat ke arah ayahnya mencari kepastian.
"Yang penting kan sekarang kamu sudah tahu, lagipula besok pria itu akan datang," jawab Ayahnya lalu bangkit dari kursi.
"Nak dewangga, permainannya sambung besok saja. Ayah sudah mengantuk," ucap ayahnya Airin, sambil berulang kali menguap, lalu pergi masuk kedalam kamar.
Angga menatap Airin dengan tajam, Airin berdiri, berjalan ke arah depan dan membuka pintu rumahnya lebar, mengisyaratkan agar Angga pulang.
"Kamu ini," ucap Angga lirih, dengan nada kesal.
"Aku saja tidak tahu," sahut Airin mengernyit, kemudian melihat cincin yang melingkar di jari manis Angga membuat Airin lantas kesal. Setelah Angga keluar dari pintu, Airin bergegas menutup pintu rapat.
Airin merasa risau mendengar kabar yang dadakan seperti ini. Bahkan pertemuan itu akan terjadi besok, namun Airin tidak tahu pria seperti apa yang akan dikenalkan kakaknya.
***
Esok harinya, saat kak Ikmal menjemput Airin seperti biasa untuk berangkat kerja. Airin memasang raut muka kesal, sambil menanyakan perihal perjodohan itu.
"Kakak menjodohkanku? Kenapa tidak bilang apapun padaku?" tanya Airin.
"Astaghfirullah, untung saja kamu ingetin dek, kakak lupa ngabarin Raffi untuk datang nanti malam ke rumah," sahut kakaknya, lalu menelepon pria yang bernama Raffi, Airin berdecak kesal karena merasa malah menjadi alarm bagi kakaknya.
__ADS_1
"Ya Allah, kak. Kenapa tidak bilang dulu pada Airin, Airin bahkan tidak mengenalnya," ucap Airin, setelah melihat kakaknya selesai menelepon.
"Sudah jangan dibahas sekarang, aku ada briefing pagi, nanti saja. Dia akan datang jam 8 malam, Pastikan kamu sudah pulang dari tempat kerja," sahut kakaknya, lalu melajukan mobilnya.
Sepanjang jalan Airin terus menggerutu, dengan sikap kakaknya yang seenaknya menjodohkan dirinya. Namun, kakaknya hanya tersenyum dan menyuruh Airin untuk diam dan ikuti saja.
Tiba di tempat kerja, Airin masih risau dan takut. Takut jika nanti pria yang akan bertemu dengannya malah membenci keluarganya ketika tahu Airin sudah memiliki anak dari hubungan tanpa pernikahan. Airin juga takut, jika nantinya malah menambah aib untuk keluarga Raffi.
Airin lalu menghubungi kakak iparnya, untuk mencari tahu, seperti apa pria yang akan dikenalkan kak Ikmal padanya.
"Dia baik kok dek, pernah dua kali datang kerumah. Dia teman kuliah kak Ikmal, sepertinya sekarang bekerja sebagai manager di perusahaan properti. Dia tampan dan sopan, pasti kamu suka," ucap kak Dista menerangkan pria macam apa Raffi, yang akan ditemuinya nanti malam.
Seharian di tempat kerja pun, Airin masih kepikiran soal perjodohan ini. Hatinya sedikit teriris, memikirkan perasaan Angga.
Dan benar saja, saat usai bekerja. Angga sudah berdiri di depan toko, menunggu kepulangan Airin. Airin mengunci toko, kemudian melangkah pergi ke rumah bosnya seperti biasa untuk memberikan kunci toko, Airin berusaha menghiraukan langkah kaki Angga yang mengikutinya.
Setelah selesai, Airin pun menemui Angga yang berdiri di depan pagar rumah bosnya.
"Kamu tidak ada kerjaan selain mengikutiku," ucap Airin, lalu berjalan melewati Angga dan kembali ke arah toko, menunggu jemputan kakaknya.
"Aku tidak tahu, aku belum lihat seperti apa pria itu," jawab Airin, lalu melirik ke arah cincin Angga. Angga yang menyadari tatapan Airin, kemudian melepas cincin itu dan dimasukkannya ke saku celana.
"Lepaskan aku," ucap Airin lirih, berusaha menghindar.
"Aku ingin menikah denganmu, bentuk tanggung jawabku, apa kamu tidak menginginkanku?" ujar Angga, lalu menarik kedua pundak Airin.
"Hanya bentuk tanggung jawab, aku tidak memerlukannya. Selama ini aku dan Ringga hidup baik-baik saja tanpamu. Lagipula kamu sudah bertunangan dengan Mona," sahut Airin, menarik tangannya dari genggaman Angga.
"Aku saat ini akan mengatakan pada Mona, jika kamu hamil anakku," ucap Angga, menarik tangan Airin lagi.
"Dia sudah tahu, bahkan dia yang menyuruhku pergi." balas Airin, yang tanpa sadar menyatakan kebenarannya. Hatinya sedikit lega dan juga takut.
__ADS_1
"Apa?" tanya Angga memastikan ucapan Airin.
Airin menarik tangannya, kemudian melangkah cepat meninggalkan Angga.
"Aku ingin kita bersama, aku ingin kita memulainya dari awal," teriak Angga, hingga semua mata orang yang lalu lalang menyorot ke arah Angga. Airin tidak berhenti untuk melangkah, bahkan saat tahu kakaknya sudah berdiri di depan tokonya untuk menjemput, Airin semakin berlari lalu masuk kedalam mobil. Airin melihat dari spion, langkah Angga berhenti ketika mengetahui keberadaan kakak Airin.
***
Sesampainya di rumah, Airin di kejutkan dengan keberadaan pria asing yang duduk di sofa bersama kedua orang tuanya. Pria itu tersenyum melihat kedatangan Airin, Airin membalas senyuman itu lalu berpamitan pergi ke kamar.
Beberapa saat kemudian setelah Airin selesai mandi, Ibunya mengetuk pintu kamar, dan menyuruh Airin keluar menemui tamu. Airin mengangguk, sesat matanya melihat ponselnya yang terus berdering, namun menghiraukannya.
"Dia Raffi, temanku saat kuliah. Orangnya supel, baik dan mapan," ucap Kak Ikmal memperkenalkan Pria yang menatap Airin. Airin mengangguk dan tersenyum, kemudian duduk disamping Ibunya.
"Aku sangat senang saat kakakmu mengajakku untuk berkenalan denganmu, Ikmal sering menceritakan dirimu, katanya kamu cantik, baik dan penyayang," ucap Raffi, Airin hanya tersenyum mendengar pujian itu.
"Aku ingin kita mengenal lebih dekat," imbuh Raffi.
"Ayah sih setuju saja, selama anaknya sopan dan nggak neko-neko, mau kenal sama Airin boleh saja, dan itu juga tergantung sama Airin mau atau tidak," sahut Ayahnya.
"Gimana dek," imbuh Ibunya berbisik.
Airin menatap Raffi sejenak, melihat kulitnya yang bersih dan memiliki senyum tipis seperti bulan sabit membuatnya berdebar.
"Dia ini anak tunggal, pastinya kamu akan disayang kalau jadi menantu," imbuh kak Ikmal, kemudian orang tua Airin pun tersenyum mendengar tambahan kalimat itu.
"Airin ini cuma pekerja di toko, apa tidak masalah," ucap Ibunya Airin menceritakan sedikit tentang kehidupan Airin.
"Semua wanita setelah menjadi istri, bukankah tetap sama saja. Ujung-ujungnya juga dirumah," sahut Ayahnya Airin tersenyum.
Raffi masih menatap Airin, begitupun Airin yang enggan lepas meninggalkan tatapan Raffi.
__ADS_1
"Bagaimana?" bisik Ibunya lagi ke telinga Airin.
"Tidak, tidak bisa! Airin tidak bisa berkenalan dengan pria manapun!" ucap Angga dengan lantang saat berdiri di depan pintu. Semua mata pun langsung menatap Angga bersamaan.