
'Bisakah aku berdamai dengang ibu mertuaku?' batin Airin keras. Setelah keluar dari ruang pemeriksaan. Dokter mengatakan, jika saat ini kondisi janin lemah dan kurang aktif di usia kehamilan Airin 20 Minggu. Stres berkepanjangan, membuat calon bayi merasakan kesedihan yang sama dirasa oleh Sang Ibu, hingga calon bayi tidak berkembang dengan baik.
Airin duduk di ruang tunggu untuk pengambilan obat dan vitamin. Dengan wajah yang lesu dan lemas. Berusaha mengatur nafasnya untuk tenang.
Setelah obat dan vitamin didapatkannya, Airin berjalan setengah sempoyongan menuju pintu keluar.
"Sudah, Bu?" tanya Kamil Si Sopir.
Airin hanya diam dan mengangguk, memasuki mobil.
"Nanti jangan langsung pulang, ya. Aku ingin berhenti di cafe dulu," ucap Airin.
Kamil mengangguk, menjawab perintah Airin.
Tiba di cafe yang yang tak jauh dari rumah ibu mertuanya, Airin memesan jus strawberry, untuk penghilang dahaga di cuaca panas dan hati yang panas.
Melihat orang muda-mudi lalu lalang di depannya. Sepasang kekasih yang menggenggam tangan dengan erat satu sama lain, sedikit membuat cemburu. Pasalnya, semenjak menikah dengan Angga. Airin dan Angga tidak pernah meluangkan waktu berdua berjalan keluar selain berada di rumah. Khayalannya tentang pernikahan manis, hidup bertiga bahagia bersama Ringga perlahan pupus.
Air mata perlahan menetes meninggalkan jejak ketika kenangan indahnya yang sedikit bersama Ringga perlahan teringat kembali. Kerinduan seorang Ibu yang tidak pernah hilang, dan keinginan ingin hidup bersama dengan Ringga juga tak ingin sirna. Perjuangan hidup melahirkan Ringga dan membesarkan Ringga seorang diri dan sembunyi dari dunia yang menyudutkannya, kini teringat kembali.
Pikiran Airin memang akhir-akhir ini dipenuhi dengan rasa khawatir. Khawatir jika Ringga akan selamanya tidak ingin kembali hidup bersamanya, khawatir akan tetap tinggal selamanya dengan ibu mertuanya. Karena, Angga juga tidak terlihat berniat untuk keluar dari rumah dan menjalani hidup rumah tangga bersama Airin seutuhnya tanpa harus ada campur tangan Ibu mertuanya.
Jus di gelas mulai habis, namun masih enggan untuk pulang. Akhirnya, Airin memesan kembali jus strawberry gelas kedua. Kali ini, dia seruput perlahan berharap habis sampai petang. Jadi saat dia pulang, Ibu mertuanya sudah terlelap tidur tanpa bertatap muka dengan Airin.
"Sayang, kamu harus kuat. Cuma kamu saat ini teman Mamah,"
Airin berkata lirih, sambil mengusap perutnya. Meskipun perlahan menyeruput jus, tali tetap saja habis dalam hitungan menit. Airin memikirkan kembali, harus pergi ke tempat mana lagi untuk menenangkan diri. Kabur dan kabur, ingin selalu Airin lakukan setiap hari setelah tiba di Jakarta.
"Bu, Pak Angga menelepon," ucap Kamil mendekati Airin. Airin meminjam ponsel Kamil dan menjawab telepon dari suaminya.
__ADS_1
"Kamu ini ada apa? Kemana?"
Suara lantang yang Angga ucapkan memekik di telinga. Airin menyeka air matanya. Dengan suara sumbang menjawab makian dari suaminya.
"Aku baru dari Rumah Sakit," sahut Airin lirih.
"Iya aku tahu, tadi Dokter Ridwan meneleponku. Sudah jangan banyak keluyuran di jalan, cepat pulang dan istirahat! Kamu itu hanya kurang beristirahat!" balas Angga.
Airin diam tak menyahut, kemudian memberikan telepon itu kembali pada Kamil.
"Ayo kita pulang," kata Airin pada Kamil. Kemudian, bangkit dari tempat duduknya, dan keluar dari Cafe.
"Seharusnya dia bertanya apa yang membuatku pergi ke Rumah Sakit, bukan malah memakiku," gerutu Airin. Mengingat Omelan suaminya tadi di telepon.
Sepanjang perjalanan, perasaan risau itu kembali mengepung. Rasanya sulit untuk kembali ke rumah yang membuatnya selalu merasa tertekan. Tidak ada yang memberinya kasih sayang, padahal saat ini Airin tengah hamil.
Tiba dirumah, Angga sudah berdiri di depan pintu kamar sambil berkacak pinggang. Airin mendongak, dan melihat suaminya dari lantai dasar.
"Kamu dari mana? Aku panik, ponsel di matikan segala," gerutu Angga, di sepanjang Airin melangkah menaiki anak tangga menuju kamar.
Airin hanya menunduk tanpa menjawab sepatah katapun.
'Apa tidak bisa berkata manis padaku, sehari saja,' batin Airin.
Tiba di pintu kamar, langsung masuk kedalam tanpa menoleh ke arah Angga.
"Dimana ponselmu?" tanya Angga dengan ketus.
Airin tidak menyahutnya, hanya menunjuk ke arah lantai dekat lemari dimana ponselnya yang mati tergeletak disana.
__ADS_1
"Astaga,"
Angga memungut ponsel Airin dan menepuk-nepuk layar ponsel Airin berulang kali.
"Ya sudah nanti aku belikan ponsel lagi," ucap Angga, kemudian keluar dari kamar membawa ponsel Airin yang rusak.
Airin membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menarik selimutnya dan perlahan memejamkan mata.
"Kamu tadi bertemu dengan Raffi?"
Suara Angga terdengar kembali memasuki kamar. Namun, Airin diam dan tetap memejamkan matanya. Berusaha untuk menghindari pertanyaan Angga yang pastinya nanti akan berujung perdebatan.
Angga mendekat, menggoyang pundak Airin. Tapi, Airin tetap bergeming dan enggan membuka matanya.
"Ya sudahlah, istirahat saja dirumah. Aku mau pergi dulu," kata Angga.
Kemudian, suara dering ponsel Angga terdengar.
"Iya, Mon. Aku ini mau kesana,"
Airin mendengar suaminya menyahut telepon. Dan terdengar jelas jika suaminya akan menemui Mona.
Airin membuka matanya sedikit, melihat suaminya menyisir rambut dengan rapi dan menyemprotkan minyak wangi beberapa titik di tubuhnya.
"Bisa tidak sekali saja,"
Airin membuka mata seutuhnya.
"Sekali saja peduli padaku, cepat berlari ke arahku saat aku membutuhkanmu seperti layaknya kamu cepat pergi dan berlari saat Mona memanggilmu," kata Airin.
__ADS_1
Angga menoleh. Raut muka yang ketus dan kesal di perlihatkan kembali kepada Airin.
Airin menatap tajam mata suaminya. Tidak berpaling dan menegaskan jika dirinya benar-benar tersakiti kali ini.