Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 54


__ADS_3

Angga menghela nafas, menurunkan amarahnya, kemudian memeluk Airin.


"Iya aku minta maaf sayang, maaf ya. Ayo masuk, kita cari sekolah untuk Ringga," kata Angga, membuka pintu mobil, dan mendorong perlahan pundak Airin dari belakang untuk masuk kembali ke dalam mobil.


Angga masuk kedalam mobil, mengunci semua pintu.


"Bukan begitu, Rin. Aku juga ingin kamu dan mamaku akur. Aku ingin kamu jangan terlalu ketus, nanti aku juga akan menasehati mamaku kok untuk baik sama kamu,"


Airin membuang muka, memeluk Ringga erat dan menepuk-nepuk punggung anaknya perlahan. Hingga akhirnya Ringga diam dan tenang.


Mobil melaju kembali, Airin tidak peduli kemanapun ini. Yang penting baginya, dia tidak di rumah bertemu ibu mertuanya.


"Aku ingin ke swalayan saja," ucap Airin.


"Hah, nggak jadi cari sekolah buat Ringga?"


"Enggak,"


"Ya udah aku antar ke swalayan, kamu belanja aja sesukamu. Nanti kalau sudah pulang, telpon supir biar di jemput."


Airin diam tidak menyahut. Saat mobil berhenti di depan swalayan, Airin turun menggendong Ringga tanpa berpamitan.


Airin ingin menenangkan dirinya. Sesaat menyadari jika perilakunya juga buruk di depan mertuanya. Namun, jika lagi-lagi memikirkan Mona yang selalu ada di rumah ibu mertuanya. Membuat Airin selalu geram.


"Mah, aku nggak mau pulang kerumah besar itu lagi," kata Ringga, menarik ujung baju Airin.


Airin diam, berpikir lebih keras 'Apakah pilihan ini yang terbaik?'. Berjalan mengelilingi swalayan sambil menggandeng Ringga.


Setelah membeli beberapa kebutuhan, Airin mengajak Ringga singgah di toko es krim. Keduanya duduk sambil menikmati es krim dan melihat orang lalu lalang di depan mata.


"Ringga, kita tinggal dirumah Nenek dulu ya,"


Ringga mendongak, sampai lelehan es krim menetes di baju.


"Nenek galak di rumah bagus?"


Airin mengangguk, mengerti apa yang dimaksud oleh anaknya.


"Tidak mau, pulang saja kerumah Ibuk Dista," rengek Ringga.

__ADS_1


Airin mengelap bekas es krim di baju anaknya, kemudian menatap Ringga lebih dalam. Saat ini keputusannya juga tergantung dengan Ringga, bagaimanapun juga kenyamanan anaknya adalah utama. Airin tidak ingin membuat Ringga merasa tertekan. Tapi …, jika mundur sekarang, pernikahannya akan diujung tanduk, mengingat Angga yang lebih dominan berpihak kepada ibunya daripada Airin.


***


Hari mulai petang, namun Airin dan Ringga masih berada di luar rumah. Kali ini singgah di masjid. Setelah sholat ashar, Airin masih bergeming enggan pulang. Pikirannya masih bingung, sesaat ingin kembali ke rumah ibu mertuanya, namun sesaat ingin keluar dari rumah itu.


"Kamu dimana? Kok dirumah nggak ada?"


Angga menelepon, dan menanyakan keberadaan Airin.


"Aku di masjid," jawab Airin.


"Masjid mana? Kamu belum pulang dari pagi tadi?"


"Belum,"


"Kirimkan alamatnya! Aku jemput. Sekarang!"


Airin mematikan telepon dari Angga, kemudian beralih mengirim lokasinya melewati pesan.


15 menit kemudian Angga datang, berdiri di depan masjid. Ringga yang melihatnya, antusias, lalu menarik mukena Airin. Airin menghela nafas, melepas mukena dan menghampiri suaminya.


Tanpa kata apapun, Angga berjalan ke arah mobil, membuka pintu mobil, dengan wajah kesal.


"Nggak apa-apa," jawab Airin lirih.


Mobil melaju ke arah rumah tanpa percakapan, Airin menoleh ke kursi belakang dan melihat Ringga tampak kelelahan hingga tertidur, membuat Airin merasa bersalah.


Tiba di dalam rumah, Airin yang saat ini sedang menggendong Ringga, melihat pemandangan yang membuatnya kesal. Pasalnya, beberapa teman ibu mertuanya datang kerumah, namun saat mereka bertanya tentang Airin, ibu mertuanya mengatakan 'Dia bukan siapa-siapa' jawaban itu pun membuat Airin melirik tajam ke arah ibu mertuanya, lalu pergi ke kamar.


"Sudah jangan dengarkan, mungkin mamaku sedang bercanda," sanggah Angga.


Airin diam tidak menyahut, memilih mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Setelah selesai, Airin keluar dari kamar mandi dan melihat Angga sudah tidak ada lagi di dalam kamar. Melihat Ringga yang sesenggukan menangis sendirian tanpa ditemani Angga membuat Airin semakin geram.


Suara tawa teman-teman ibu mertuanya masih terdengar, dan sepertinya acara itu belum selesai.


"Keluarlah, bantu siapkan jamuan untuk teman-teman mamah," kata Angga, dari balik pintu yang terbuka. Kemudian pergi.

__ADS_1


Airin berdecak, dan masih mencoba menenangkan Ringga. Setelah Ringga tenang, Airin memberikan mainan untuk putranya, sedang ia keluar untuk membantu menjamu teman-teman ibu mertuanya.


Beberapa gelas berisi jus berjejer di nampan, Airin membawanya ke arah ruang tamu. Memberikan senyum manisnya kepada teman-teman ibu mertuanya.


"Silahkan diminum,"


"Oh, kamu jadi pembantu baru ya?" seorang wanita paruh baya menunjuk. Airin menatapnya dengan kesal namun menahannya dan tetap tersenyum.


"Bukan, saya menantu di keluarga ini. Nama saya Airin," jawab Airin, menyodorkan jus ke arah wanita itu.


"Oh maaf, aku kira Angga belum beristri, jadi kabar itu benar, jika Angga dan Mona tidak jadi menikah," sahut wanita itu, beberapa teman ibu mertuanya saling berbisik. Airin melihat ibu mertuanya melirik ke arahnya, lalu bergegas pergi.


Namun, tidak disangkanya. Ibu mertuanya mengikuti langkah Airin ke dapur, kemudian menarik kerudung Airin dari belakang.


"Ih, dasar!" gerutu ibu mertuanya, kemudian melepaskan cengkraman tangannya. Airin menoleh, dan masih merasa kesakitan itu.


"Jangan keluar lagi! Bikin malu saja!" bentak ibu mertuanya, menunjuk.


"Malu kenapa?" sahut Airin.


Ibu mertuanya enggan menjelaskan dan malah pergi. Airin menahan langkah kaki ibu mertuanya.


"Aku ini menantu mamah, apa aku salah?" tanya Airin.


Ibu mertua menatap Airin dengan ketus, kemudian mendorong pundak kanan Airin.


"Pergi! Jangan keluar dan temui mereka lagi!"


"Apa salahku, mah?" tanya Airin dengan lantang. Ibu mertuanya menoleh, lalu kembali mendekat ke arah Airin.


"Apa salahmu? Semua ini salahmu!"


Ibu mertuanya menekan kening Airin dengan keras.


"Angga keluar dari rumah, batal menikah dengan Mona, dan suamiku berada di rumah sakit, itu semua salahmu!" bentak Ibu mertuanya lirih. Airin melihat mata yang penuh kebencian untuknya.


"Kenapa mamah tidak bisa menerimaku? Aku ini istri nya Angga,"


"Kami memang istrinya, tapi jangan pernah katakan, jika kamu menantuku. Aku tidak sudi!"

__ADS_1


Ibu mertuanya kali ini mendorong tubuh Airin hingga keras. Kepalanya, hingga terbentur di sudut meja.


Ibu mertua pergi. Airin mencoba bangkit, namun tiba-tiba dikejutkan dengan darah yang menetes ke ke lantai.


__ADS_2