Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 58


__ADS_3

Airin memdongak, dan menarik ponselnya dari tangan Angga.


"Kenapa sih? Masih saja kamu seperti anak kecil," ujar Angga, kemudian duduk di samping Airin.


Airin malah bangkit, kemudian menurunkan kopernya diatas lemari. Mengeluarkan satu persatu bajunya dan mengepaknya masuk kedalam koper.


"Kami mau kemana?"


"Aku sudah lelah, aku ingin pergi saja, besok pagi-pagi,"


"Bukankah Ringga sudah mendaftar masuk sekolah?"


Airin diam tidak menyahut, fokus menata bajunya dan Ringga tersusun di dalam koper. Angga yang kesal, membanting koper yang dipenuhi baju itu ke lantai.


Ringga terbangun, perlahan menangis melihat situasi perdebatan orang tuanya. Kemudian, menarik selimut dan menutup dirinya. Airin menoleh dan melihat kesedihan putranya, lalu diam, kembali duduk dan mengatur nafasnya. Sedang Angga, keluar dari kamar dengan wajah yang kesal.


Malam yang penuh kebimbangan. Hati seorang ibu dan anak yang penuh dengan tekanan batin. Tidak ada keceriaan. Setelah hari itu, baik Airin dan ibu mertuanya saling menghindar satu sama lain ketika bertemu. Airin juga mendengar perbincangan Angga dengan Mona, yang meminta Mona tak lagi datang kerumahnya. Hal itu membuat ibu mertuanya awalnya geram dan menuding Airin telah merusak semua kehidupan ibu mertuanya yang awalnya baik-baik saja sebelum Airin datang.


Entah apa yang dikatakan Angga setelah itu pada ibu mertuanya, yang pasti ibu mertuanya tidak lagi banyak mengomel hanya menghindar saja.


Sarapan kali di ruang makan pun sepi. Angga menyuruh Bi Imah pembantu rumah, membawakan makanan ke kamar ibu mertuanya. Airin sedikit tenang dengan suasana yang hening. Namun, terkadang merasa bersalah. Jika bertanya kepada suaminya, tentang alasan kenapa ibu mertuanya tak pernah keluar kamar saat Airin lalu lalang di rumah..Namun, Angga pun tidak menyahutinya juga.


Setiap pagi mengantar Ringga ke sekolah, menunggu sampai jam sekolah putranya selesai. Kemudian pulang tengah hari. Angga juga meminta Airin tak keluar kamar setelah pulang bersama Ringga. Jika lapar, suruh telepon Bi Imah, untuk mengantarkan makanan di kamar.


Semua terasa tenang, namun juga bagaikan terpenjara dalam sangkar. Hanya ke sekolah Ringga, kemudian di kamar seharian. Tak pernah mendengar suara ibu mertuanya maupun kedatangan Mona.


Satu bulan berlalu tinggal bersama ibu mertuanya, tapi seakan tidak tinggal serumah. Airin mendengar dari celah pintu, ketika Angga dan ibu mertuanya membahas untuk menginap di rumah sakit, karena ayah mertuanya semakin kritis kondisinya.


Setelah Angga masuk ke dalam kamar, Airin pun mengutarakan keinginannya untuk menemui ayah mertuanya. Agar Ringga juga tahu wajah kakeknya. Namun, Angga menolak. Katanya, Ibu mertuanya melarang Airin datang kesana. Dan Angga menekankan untuk Airin tidak melanggar hak itu, agar kedamaian rumah ini tetap terjaga.

__ADS_1


Hingga akhirnya hari suka itupun datang. Ayah mertuanya meninggal. Rumah di penuhi dengan beberapa pelayat dan keluarga besar Angga. Airin mondar-mandir di dalam kamar, ingin rasanya ikut bergabung, sekedar memberi jamuan kepada para tamu. Bagaimanapun juga dia menantu satu-satunya dirumah itu. Airin hampir melangkah keluar kamar, setelah menidurkan Ringga. Namun, Angga tiba-tiba datang dari balik pintu dan menyuruh Airin masuk kembali kedalam kamar.


"Aku ingin membantu,"


"Tidak, duduk saja di dalam!"


"Ada apa sih? Kenapa aku tidak bisa ikut bergabung, aku ini kan istrimu,"


Angga menarik tangan Airin, yang bersikeras untuk keluar kamar. Menyuruh Airin kembali duduk.


"Sudah deh, jangan buat masalah! Bukankah ini lebih baik. Kamu tidak terus-menerus bertengkar dengan mamaku, jika dia tahu kau turun, dia akan membuat keributan denganmu,"


"Kenapa harus begitu? Apa yang salah denganku?"


"Sudah diam! Duduk!" gertak Angga.


Airin kesal, mengepalkan tangannya dan memukul bantal.


"Mah, itu Tante sihir,"


Ringga menunjuk keluar jendela, Airin mendekat dan melihat beberapa pelayat datang. Ibu mertuanya dan Mona, berada di halaman rumah saling berpelukan erat. Kemudian para tamu juga memeluk Mona, seakan duka ini juga dirasakan Mona dari mata mereka. Airin tersuluts sedikit rasa cemburu. Dia menantu dirumah ini, namun hanya terpenjara di dalam kamar. Sedang Mona, seakan berperan penting dalam semua hal yang berkaitan dengan keluarga suaminya.


Hingga akhir hayat Ayah mertuanya, Ringga bahkan tidak bisa mengenali wajah Ayah mertuanya. Dengan alasan, karena tidak ingin ada perdebatan antara ibu mertuanya dan dirinya. Padahal, Airin juga ingin merasakan berbakti kepada orang tua Angga, namun ibu mertuanya sulit untuk di dekati.


Setelah acara pemakaman selesai dan para keluarga besar keluarga Angga dan pelayat pulang. Airin keluar dari kamar, membantu Bi Imah, membersihkan ruang tamu dan sisa makanan yang tercecer di lantai.


Tak disangka ibu mertuanya datang, Airin menunduk, kemudian melirik sedikit melihat ibu mertuanya membuang muka, sambil menarik tangan Mona dan berjalan menuju kamar.


"Nyonya memang sangat menyayangi nona Mona," ujar Bi Imah. Airin hanya tersenyum tidak menyahut.

__ADS_1


"Pasti berat untuk Nyonya, padahal sudah sangat berharap non Mona menjadi menantu di rumah ini," imbuh Bi Imah.


Airin diam sambil mengelap meja. Bahkan pembantu dirumah ini seakan ikut berpihak dengan Mona. Dan seakan, menyalahkan kehadiran Airin.


Menjadi menantu yang tidak diinginkan, kesulitan yang sangat dalam. Meskipun berusaha sebaik apapun, jika mertua tidak menyukai dari awal, bertahan pun terasa percuma.


Entah sampai kapan? Dinding pemisah antara dirinya dan ibu mertuanya runtuh. Airin ingin sekali juga tertawa dan berbincang hangat dengan ibu mertuanya. Seperti yang dilihatnya saat ini, saat tangan ibu mertuanya menggenggam tangan Mona, dan berbincang dengan gelak tawa.


Pertanyaan 'Apa aku sangat salah berada disini?' setiap harinya selalu terbesit. Namun, hidup terus berjalan. Airin tidak ingin pertanyaan itu membuat hatinya terlarut dalam kesedihan hingga akhirnya berdebat dengan Angga.


Mulai menyesuaikan diri adalah yang hal yang saat ini Airin lakukan, jika memang ibu mertuanya tidak ingin melihatnya. Maka Airin pun akan berusaha mengikuti keinginan itu. Tapi tidak malam ini …


Teriakkan Bi Imah membuat Airin terkejut. Airin keluar kamar diikuti oleh Ringga dari belakang. Ibu merupakan pingsan di depan pintu kamar. Airin pun ikut panik dan bingung. Ingin mendekat, tapi takut jika nantinya akan menjadi masalah. Airin mencoba menelepon Angga, namun panggilan itu tidak terjawab. Airin akhirnya memilih mendekat, kemudian bersama dengan Bi Imah membopong tubuh ibu merupakan ke tempat tidur.


"Bi, telpon ambulans!" ucap Airin memerintah.


Bi Imah yang panik mondar-mandir dengan bingung. Kemudian keluar dari kamar ibu mertuanya.


Airin mencari minyak angin dan memijat tangan dan kaki ibu mertua agar sadar dari pingsan.


"Mah, bangun mah," ucap Airin, memanggil ibu mertuanya.


Ringga ikut berdiri di sebelahnya dan membantu meminjat neneknya.


Airin mengoles minyak angin, ke belakang telinga dan leher ibu mertuanya perlahan. Hingga akhirnya ibu mertuanya sadar. Airin dan ibu mertuanya saling menatap. Ibu mertuanya yang terkejut lalu tanpa sengaja menendang kaki saat Ringga sedang memijat. Hingga Ringga terjatuh dan tersungkur.


"Keluar," ucap ibu mertuanya perlahan.


"Keluar!!" ucapan itu berubah menjadi teriakkan.

__ADS_1


__ADS_2