
Airin memegang kaki meja di sampingnya dengan kuat. Mencoba bangun dengan rasa kram di perut yang tak tertahankan. Melihat tetesan darah di pahanya menembus rok putihnya. Airin terkejut kemudian berteriak. Mona tidak menggubris apa yang sedang dialami Airin, melenggang pergi mendorong kursi roda ibu mertuanya membawanya masuk kedalam kamar.
Airin berteriak sekeras mungkin memanggil satpam yang berjaga di luar. Karena jarak ruang tamu dan halaman rumahnya tidak terlalu berjauhan. Satpam datang dengan wajah panik dan bingung.
"Bagaimana ini, Nyonya?" tanya sang satpam, membantu Airin bangun dan didudukkan di atas sofa.
"Telepon ambulans pak," sahut Airin.
Sang satpam mondar-mandir kebingungan dengan tangan gemetar menelepon ambulans. Airin mengatur nafasnya agar stabil. Sambil terus menyentuh perutnya. Airin juga bingung apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Ambulans datang 15 menit kemudian, kemudian membopong Airin masuk kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Mona ikut keluar rumah dan melihat Airin yang masuk kedalam mobil ambulans. Kemudian pergi tanpa memberikan jawaban, ketika salah satu perawat menanyakan apa yang membuat Airin mengalami pendarahan.
Tiba di Rumah Sakit, Airin langsung mendapatkan perawatan. Airin terkejut ketika mengetahui dirinya sedang hamil 8 Minggu, dan untung saja pendarahan yang dialaminya tidak banyak. Sehingga bayi dalam perutnya selamat. Dokter memberikan obat penguat kandungan dan juga beberapa vitamin untuk kehamilan Airin yang terbilang masih muda dan sangat rawan. Apalagi, Airin pernah mengalami keguguran sebelumnya, saat mengalami kecelakaannya 2 tahun silam.
Airin menelepon Angga, dan meminta suaminya untuk menjemputnya di Rumah Sakit. 1 jam kemudian, Angga datang dengan wajah panik masuk kedalam kamar pasien.
"Kamu kenapa?" tanya Angga, sambil menyentuh kanan kiri tangan Airin. Mencari luka di tubuh istrinya. Airin tersenyum kemudian menarik tangan Angga. Menempelkan telapak tangan kiri Angga ke perutnya.
"Apa?" tanya Angga bingung.
"Ringga akan punya adik," jawab Airin lirih.
Angga tersenyum dengan mata yang basah karena terharu. Kemudian, memeluk Airin dengan erat. Harapan Angga memiliki anak lagi segera terwujud. Airin berharap, hadirnya buah hati mereka kedua ini menambah keharmonisan untuk rumah tangganya.
"Lalu kenapa sampai berbaring di kamar pasien?" tanya Angga.
"Em …, tadi aku sempat pendarahan," jawab Airin.
"Apa? Kok, bisa?"
__ADS_1
"Iya, tadi Mona mendorongku hingga terjatuh, karena itu aku mengalami pendarahan." sahut Airin jujur.
"Ada masalah apa lagi dengan kalian?"
Airin di tidak menyahutnya kali ini, ia tidak ingin merusak kabar bahagia ini dengan menceritakan Mona. Itu hanya akan berbuntut masalah panjang nantinya.
Airin lalu menelpon supir untuk menjemput Ringga, dan membawanya ke Rumah Sakit. Karena Airin belum masih ingin beristirahat sejenak di Rumah Sakit, sambil menunggu Mona pulang dari rumah ibu mertuanya.
Pintu terbuka, Airin mendengar tangisan kecemasan Ringga. Ringga menyentuh beberapa tangan dan kaki Airin, melakukan hal yang sama seperti Angga lakukan.
"Mamah nggak apa-apa,"
Ringga menangis sesegukan di pangkuan Airin.
"Dengar, mamah punya kabar bahagia," Airin mengusap kepala Ringga, Ringga pun mendongak.
"Sudah duduk, nanti jatuh," kata Angga, menarik tangan Ringga hingga jatuh ke pangkuannya.
"Bener, Pah? Aku mau punya adik?" tanya Ringga sekali lagi. Angga mengangguk dan mengusap kepala putranya, kemudahan memeluknya dengan erat.
"Kamu harus jadi kakak yang baik ya, jaga mamah, supaya adik bayi lahir dengan selamat," sahut Angga. Ringga mengangguk keras. Kemudian, turun dari pangkuan papanya dan berlari merangkul Airin.
Langit putih cerah berubah menjadi oranye. Tandanya, senja mulai datang. Airin mengajak Angga dan anaknya pulang ke rumah.
Di dalam mobil, Angga selalu menasehati Airin untuk tidak banyak berdebat dengan Mona. Agar tidak terlalu stres dan terjadi hal buruk nantinya. Airin mengangguk, tapi juga sedikit khawatir. Karena tekanan batinnya terjadi bukan hanya dari Mona, namun juga dari ibu mertuanya.
Tiba dirumah, Airin melihat Mona dan ibu mertuanya sedang berada di taman. Airin dan Ringga masuk kedalam kamar, sedang Angga mendekat ke arah Mona dan ibu mertuanya.
Airin kali ini mencoba menjaga prasangka, dan tetap berfikir positif. Airin tidak ingin karena kecemburuannya, membuatnya kehilangan bayinya untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Airin meminta Bi Imah pembantu dirumah, mengantar makanan ke kamar. Namun, dengan sikap Bi Imah yang seakan ikut menyudutkan Airin dan tidak menyukai Airin. Bi Imah menolak "Maaf non, sedang sibuk," Bu Imah mematikan telepon.
Airin berdecak kesal, kemudian keluar dari kamar, mengambil makanan untuk Ringga yang mengeluh lapar. Padahal, belum ada satu jam, putranya menghabiskan dua burger ayam.
Airin dengan tubuh yang masih lemah, berjalan sedikit sempoyongan menuju dapur. Hingga akhirnya ketahuan dengan Angga.
"Mau kemana lagi?" tanya Angga dengan wajah kesal.
"Mau ngambil makanan untuk Ringga," jawab Airin.
"Loh, mana Bi Imah?!"
"Tadi sudah aku telpon, katanya sibuk,"
Angga mendahului langkah Airin berjalan ke arah dapur, sambil meneriaki pembantu rumahnya.
Bi Imah keluar dari kamarnya, berlari menuju ke arah majikannya.
"Iya, tuan,"
"Kamu ini! Sibuk apa?!"
"Layani dulu majikanmu! Airin ini lagi hamil, kamu suruh mondar-mandir," bentak Angga. Bi Imah menunduk, dan sedikit melirik kearah Airin. Airin merasa tidak enak, tapi terkadang kelakuan pembantunya ini selalu membuatnya merasa tertekan juga.
Airin berbalik badan dan kembali ke kamarnya. Di tengah perjalanan, melihat Mona yang sedang meliriknya dengan wajah kesal. Mendekat ke arah Bu Imah dan memberikan pembelaan.
"Lagian kenapa sih, dapur dekat ini. Masa iya mengambil makanan saja manja," timpal Mona. Airin mengepalkan tangannya, menahan kekesalannya. Karena Mona selalu saja ingin membuat Airin terlihat bersalah. Angga hanya diam, pergi mengikuti langkah Airin dari belakang. Airin sengaja berhenti menunggu suaminya mendekat. Kemudian, berbalik dan menatap Mona dengan tajam.
"Karena itu, menikahlah! Supaya tahu rasanya hamil," balas Airin.
__ADS_1