
Airin melihat suaminya bersandar di sofa dengan raut muka yang stres, setelah membicarakan tentang Mona. Sebaliknya, meskipun sempat terkejut dengan kabar pernikahan Mona, Airin sedikit bernafas lega. Akhirnya orang ketiga dalam rumah tangganya segera menghilang.
Sepertinya ini semua karena ibu mertuanya yang sudah sakit keras dan tidak dapat memberikan dukungan lagi kepada Mona untuk bersama Angga. Lagipula, melihat situasi keluarga suaminya yang tidak semegah dulu, orang tua Mona pasti menolak keras, jika Mona tetap bertahan untuk bersama Angga.
Airin lebih memilih hidup dengan kesederhanaan asal keluarga kecilnya bahagia. 'Doakan aku dan perusahaan ku jaya kembali,' kalimat itu selalu terlontar, ketika Angga berkeluh kesah di pangkuannya. Airin hanya diam. Sesaat merasa berdoa, ketika doa yang di panjatkan selama ini tidak sesuai dengan keinginan suaminya.
Dengan kekayaan, ibu mertuanya menjadi angkuh terhadapnya. Begitupun suaminya, yang sering berbohong dan tidak pernah ada waktu untuk putranya Ringga dengan alasan sibuk. Entah ini sebuah teguran, atau terkabulkan doa, agar suami dan ibu mertuanya lebih menyadari jika kekayaan yang di puja selama ini bisa sirna juga.
Semenjak ayah mertuanya meninggal, Angga sering mengeluhkan beberapa investor yang mundur dari perusahaannya dan hanya mengandalkan pinjaman dari perusahaan keluarga Mona untuk bertahan. Mungkin bagi suaminya berbaik hati dekat dengan Mona akan membantunya untuk bisa membujuk Mona tetap bertahan menjadi investor. Tapi, Angga tidak pernah menoleh ke dalam hati Airin yang selalu terbakar cemburu dan berusaha sabar. Selalu di maki ibu mertuanya yang membedakannya dengan Mona, dan saat berkeluh dengan Angga pun, sosok suami yang diharapkan nya menjadi pendukung, malah ikut terbawa suasana dengan kepalsuan Mona. Bahkan sering menyuruh Airin agar ikut berbaik hati dengan Mona.
"Lalu …, em. Siapa calon suaminya?" tanya Airin dengan lirih.
"Pria itu adalah rivalku. Aku sempat terkejut juga, orang tua Mona ternyata ingin menjatuhkan perusahaan papah juga diam-diam,"
Airin menoleh lagi, melihat suaminya memejamkan mata dengan wajah yang penuh kerisauan.
"Aku sudah tidak memiliki apapun, satu perusahaan saja terombang-ambing. Mamah sakit, bahkan sertifikat rumah ini sudah masuk bank."
"Bahkan kemarin, lima puluh karyawan sudah aku rumahkan. Pusing aku."
'Inikah alasanmu dekat dengan Mona selama ini, untuk melindungi perusahaanmu, meskipun harus menghiraukan perasaanku,' batin Airin menjawab keluhan suaminya.
"Apa seharusnya kita tidak merencanakan anak kedua? Sepertinya bukan waktu yang tepat,"
Airin melirik kesal.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Ah ya sudahlah, sudah terjadi juga."
Angga bangkit dari sofa berniat pergi. Airin langsung berjalan mendekat ke arah suaminya. Menarik tangan Angga yang hampir menekan handle pintu dan bersiap keluar kamar.
"Anak adalah rezeki, seharusnya kau tahu itu. Daripada kamu berpikir seperti itu, lebih baik kamu mendekatkan diri dengan sholat," ucap Airin menatap tajam mata Angga.
Angga menarik tangannya, melepaskan diri dari genggaman tangan Airin.
"Istirahatlah! Jangan banyak menyuruh, aku sudah pusing dengan semuanya,"
Angga keluar, sambil menutup pintu kamar dengan keras. Airin membuka pintu kamar itu kembali dan melihat ke arah mana suaminya berjalan pergi. Dan benar saja, suaminya mengambil kunci mobil dan pergi lagi keluar rumah.
Airin mengambil ponselnya, berusaha menelpon suaminya untuk kembali. Namun, panggilan teleponnya ditolak, bahkan nomor ponsel Angga pun tidak bisa di hubungi lagi.
Airin kesal setengah mati, dia duduk di sofa menyandarkan punggungnya. Menghela nafas panjang, berusaha tidak gegabah dan tetap tenang. Matanya melihat ke arah putranya yang tertidur lelap. Sejenak memikirkan jika kali ini harus bertahan demi Ringga. Apalagi dirinya juga saat ini hamil. Berdebat dengan suaminya yang sedang tertekan banyak masalah, hanya akan berakhir dengan pertengkaran. Ringga akan semakin trauma jika melihat kedua orang tuanya selalu berselisih.
Airin mendekat, berbaring di samping putranya. Memeluk Ringga dari belakang dengan erat. Air matanya perlahan tumpah, namun berusaha untuk tidak mengeluarkan suara.
**
Esok harinya, selepas sholat subuh. Airin bersiap memasak di dapur. Saat membuka pintu kamar Airin dikejutkan dengan suaminya yang terbaring tidur di depan pintu kamar. Tanpa alas apapun, Angga tertidur pulas di lantai.
"Pah, bangun," kata Airin menggoyangkan tubuh suaminya untuk sadar.
Angga perlahan membuka mata, kemudian bangkit dengan sempoyongan, lalu masuk kedalam kamar dan beralih tidur di sofa.
Airin melihat ponsel suaminya tergeletak di lantai, dia pun memungutnya. Menggenggam ponsel suaminya dengan pikiran yang penasaran. Apa yang suaminya lakukan semalam? Dimana suaminya berada semalam? Pertanyaan itu terbesit. Hingga akhirnya, Airin menutup pintu kamar dan membawa ponsel suaminya ke dapur.
__ADS_1
"Astaghfirullah, apa yang aku lakukan?"
"Masa iya aku berburuk sangka begini?"
Airin bergumam, melototi ponsel Angga yang dia gelatakkan di meja. Perasaan maju dan mundur ingin membuka ponsel suaminya, agar rasa penasarannya hilang. Namun, sesaat rasa bersalah datang dan merasa hal yang dilakukan saat ini tidak baik.
Airin pun akhirnya mengurungkan niat untuk membuka ponsel suaminya, dan berniat kembali ke kamar untuk menaruhnya kembali di kamar. Namun, sebuah dering pesan, membuat matanya tidak bisa menghindar. Dia melihat nama Mona, yang mengirimkan pesan.
Airin pun berubah pikiran lagi, dan akhirnya membuka pola di layar ponsel suaminya.
Pesan yang dikirimkan Mona, membuat Airin tercengang. Benar saja, suaminya ternyata menghabiskan malam bersama Mona. Dan hal yang membuat Airin lebih kesal adalah saat mengetahui suaminya pergi ke Bar dengan Mona untuk mabuk berdua, dengan alasan tanda perpisahan sebelum Mona terikat dengan pernikahan bersama pria lain.
Airin dengan geram melangkah meninggalkan dapur dan kembali ke kamar. Mendekati Angga, dan mendengus aroma tubuh suaminya dari dekat. Airin pun bisa mencium bau alkohol itu. Tanpa berpikir panjang, langsung menarik tubuh Angga dari sofa hingga terjatuh di lantai.
Angga mengucek mata, dan dengan mata merahnya menatap Airin. Airin melempar ponsel suaminya.
"Bisa-bisanya," gumam Airin.
Angga hanya bangkit perlahan tanpa menyahut, lalu kembali membaringkan tubuhnya ke sofa.
"Kau lebih memilih mabuk, daripada mendengarkan nasihatku!" bentak Airin, mengambil bantal sofa dan memukulkan ke wajah Angga dengan keras. Airin meluapkan kekesalannya sambil terus berteriak.
Amarahnya sudah tidak terbendung lagi, berulang kali memukul kepala dan kaki suaminya dengan keras. Tangisannya pecah, hingga tanpa disadarinya membangunkan Ringga dari tidur lelapnya.
Angga menahan kedua tangan Airin. Namun, Airin terus meronta dan memaki suaminya dengan sebutan 'Pria yang tidak punya hati'. Hingga tubuhnya lemas dan tergelesot.
"Apa kau juga tidur dengannya?"
__ADS_1
Airin menarik tangan suaminya, dan menatap wajah suaminya dengan tajam.