
Airin bergeming sesaat, kemudian pergi tanpa memberikan jawaban. Langkahnya terasa berat dengan tatapan kosong. Tanpa disadari, Airin juga meninggalkan Ringga.
"Assalamualaikum," ucap Ringga dengan manis, sebelum berlari menyusul Airin meninggalkan Angga, ayahnya.
Setelah masuk kedalam kamarnya, Airin menghela nafas berulang kali, meneguk segelas air putih di meja. Kemudian kesadarannya baru kembali, dan mengingat keberadaan Ringga. Airin keluar dari kamarnya lagi dengan perasaan gugup. Namun, ternyata Ringga berada di pangkuan Ayah Airin.
"Astagfirullah," ucap Airin lalu jongkok di depan Ayahnya, kemudian memeluk Ringga dengan erat.
"Ada apa?" tanya Ayahnya yang heran dengan tingkah Airin.
"Tidak, Airin kira Ringga di luar, ya sudah Airin masuk ke kamar dulu," jawab Airin dengar kalimat yang gugup, lalu berpamitan pergi ke kamar.
Airin duduk di atas tempat tidurnya, memikirkan ucapan Angga lagi. Yang sejenak membuat pikiran Airin risau.
"Lalu, bagaimana dengan Mona," gumam Airin.
Hatinya berbisik ingin menerima pernyataan kalimat dari Angga, betapa bahagianya jika pernikahan ini benar terjadi. Airin akan sepenuhnya bisa memiliki Ringga dan hidup bersama Ringga, tanpa harus berbohong lagi jika Ringga adalah anak kakaknya yang terkadang membuat batinya cemburu dan terusik.
Namun, disisi lain sebuah janji pernah Airin ucapkan dengan lisannya di depan Mona, jika akan benar-benar akan meninggalkan Angga.
"Apakah dia benar mencintaiku, ataukah hanya karena ada Ringga dia merasa bersalah?" pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
***
Hari esoknya, Airin mulai ingin melupakan ucapan Angga. Mengikuti takdir yang sudah ada, lebih baik daripada berkhayal dengan sebuah ketidakpastian.
Pagi ini Airin mengantar Ringga ke rumah kakaknya sekaligus meminta maaf karena menghiraukan telpon kakaknya malam itu. Airin memikirkan lagi, tentang dirinya dan Ringga. Airin harus bekerja, jika Ringga di rumah selalu merengek ingin ikut Airin, membuat Airin jadi bingung.
'Aku lebih lega, saat Ringga bersama kakak iparku.' batin Airin, ketika melihat kakak iparnya memeluk Ringga dengan erat saat Ringga datang. Ringga pun juga terlihat bahagia dalam pelukan Kak Dista.
Airin menjalani harinya lagi seperti biasa, menyingkirkan egonya yang ingin bersama dengan anaknya setiap hari, mencoba tahu diri jika dirinya memang sibuk bekerja demi masa depan yang baik kelaknya bersama Ringga. Airin hanya perlu bersabar dan ikhlas.
Citt…,
__ADS_1
Mobil kakaknya tiba-tiba berhenti, ketika melihat mobil asing terparkir di rumah orangtuanya. Airin yang terkejut sampai kepalanya kepentok.
"Maaf, maaf dek," ucap kakaknya.
"Ada tamu ya, Rin," Airin menoleh ke arah kakaknya, lalu berpaling pandangannya ke arah teras rumahnya.
Airin terkejut dengan mobil sedan yang terparkir di teras, menyadari jika itu Angga, Airin bergegas turun dari mobil kakaknya dan berlari masuk kedalam rumah.
Dengan nafas terengah-engah, Airin berdiri di depan pintu, hingga ayah dan ibunya menoleh ke arah Airin. Sedang Angga duduk tenang, meneguk secangkir teh.
"Ada apa,dek?" tanya Ibunya mendekati ke arah Airin. Airin dengan gugup melirik Angga, dan mata keduanya bertemu.
"Dia …?" Airin menunjuk ke arah Angga, sambil berjalan mendekati Angga.
"Oh, dia ini warga baru, katanya baru pindah di sekitar sini, ini ngasih KTP. Kenapa? Kamu kenal?" tanya Ayahnya.
"Tidak,"
"Iya," Jawab Angga yang bersamaan dengan jawaban Airin yang terbalik. Airin menyipitkan matanya, lalu melirik kearah Angga.
"Ya sudah, Airin berangkat kerja dulu, Assalamualaikum," ucap Airin, lalu pamit pergi dan kembali masuk kedalam mobil kak Ikmal.
Airin berdecak kesal sepanjang perjalanannya ke tempat kerja, tidak menyangka jika Angga melakukan hal seperti itu.
'Tinggal dimana dia? Bukankah dia juga punya rumah,' batin Airin keras.
Pagi hingga petang tiba,hati Airin terus gelisah, lantaran takut jika orangtuanya akan tahu jika pria warga baru itu adalah ayahnya Ringga.
Usai pekerjaannya selesai, Airin bergegas pulang menggunakan ojek online, agar cepat sampai di rumah.
Suara tawa menggema di ruang tamu, tidak seperti biasanya Ayahnya tertawa seperti itu, kecuali jika ada kak Ikmal dirumah, tali hari ini kak Ikmal lembur kerja. Airin mempercepat langkah kakinya, dan terkejut ketika mendapati Ayahnya sedang bermain catur dengan Angga sambil berceritakan sesuatu hal yang terkesan lucu, hingga membuat Ayahnya tertawa.
"Assalamualaikum," ucap Airin, lalu masuk mencium tangan ayahnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, dek tolong buatkan 2 cangkir kopi ya, ibumu sedang pergi." ujar Ayahnya. Airin mengangguk lalu pergi.
Di dapur, Airin terus gelisah. Memikirkan, apa yang sebenarnya Angga rencanakan? Bagaimana jika Mona tahu?, pasti akan marah besar. Mona tipikal orang yang tidak bisa menahan diri, dia akan membuat onar dan keluarganya akan menjadi bahan perbincangan.
Setelah air mendidih, Airin menuangnya dalam dua cangkir yang sudah berisi kopi dan gula, kemudian melangkah ke arah ruang tamu. Menaruh dua cangkir kopi itu di meja, sambil sesekali melirik ke arah Angga, dan Angga pun juga melirik ke arah Airin namun dengan senyum tipis.
"Astaghfirullah," ucap Airin lirih, lalu pergi ke kamarnya.
**
Setelah mandi dan mengganti baju, Airin membuka pintu kamarnya dan sesekali mengintip kedekatan ayahnya dan Angga dari kejauhan.
"Apa yang direncanakan?" gumam Airin, sambil mondar-mandir dan saat berbalik badan di kejutkan dengan Angga yang berdiri di depannya.
"Kamar mandi sebelah mana?" tanya Angga, Airin tertunduk lalu menunjuk ke arah sisi kiri. Kemudian Airin menutup pintu kamarnya, dengan perasaan yang berdebar.
Beberapa saat kemudian Airin membuka pintu kamarnya lagi, dan melihat Angga sudah duduk di sofa lagi, sambil berbincang dengan Ayahnya dengan raut wajah yang serius.
Airin yang penasaran, lalu melangkah keluar ke arah ruang tamu, sambil berputar-putar melakukan sesuatu.
"Airin, bawakan cemilan, ada tamu kok meja sepi," ucap Ayahnya, yang mengetahui langkah Airin akan mendekat.
Airin kembali berbalik badan, lalu menuju dapur. Memotong buah melon, dan juga menuangkan wafer di piring. Setelah itu membawanya ke ruang tamu.
Setelah mengantar makanan di meja, Airin duduk di teras, sambil sesekali menoleh ke belakang melihat Angga. Angga tersenyum ketika menyadari dirinya diamati oleh Airin.
"Apakah putri bapak sudah menikah?" tanya Angga kepada Ayahnya Airin. Airin yang mendengar pertanyaan itu, terkejut dan segera mengintip kembali dari belakang pintu, melihat perbincangan antara ayahnya dan Angga yang menyangkut dirinya.
"Belum," jawab Ayahnya Airin, menggelengkan kepalanya dan masih fokus menatap papan catur.
Sejenak hening dan tidak ada kalimat lagi yang keluar.
Airin bernafas lega, dan merasa sepertinya tidak ada hal serius yang akan Angga bahas dengan Ayahnya. Airin pun bangkit dari kursi dan hendak masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Skakmat, bisakah saya menikahi Airin?" ucap Angga, ketika berhasil mengalahkan permainan dengan Ayahnya Airin.