
Senyum yang tulus seperti dirinya, pernah meninggalkan rasa penyesalan di dalam diri Airin.
Raffi, mengulurkan tangannya untuk menyapa. Airin bangkit, memberikan senyum tipisnya dan membalas uluran tangan mantan pacarnya.
"Kamu kenal dengan Airin?" tanya Mona, mengernyit. Menarik tangan Airin untuk terlepas dari tangan Raffi. Raffi hanya tersenyum dan mengangguk.
"Mamahku pasti senang jika tahu kamu disini, mereka sedang perjalanan kemari." Raffi tanpa basa-basi memberikan aba-aba kedekatan antara dirinya dan Airin.
"Mamamu juga tahu Airin?" tanya Mona. Lagi-lagi tanpa penjelasan, Raffi hanya menyahutinya dengan senyum kemudian duduk di samping Mona.
"Astaga, menyebalkan," gerutuan Mona terdengar, Airin tertunduk sambil menikmati secangkir teh hangat di depannya.
"Kau kesini dengan Angga?" tanya Raffi, menatap Airin. Airin mengangkat kepalanya kemudian menggeleng perlahan.
"Oh, lalu siapa ini?" Raffi menunjuk ibu mertuanya Airin.
"Dia mamanya Angga," sahut Mona cepat.
"Oh, salam," Raffi tersenyum menyapa, ibu mertuanya tersenyum tipis sedikit sinis.
"Aku selalu ingin menemuimu, beberapa kali berjumpa dengan Angga, namun dia selalu menolak dan melarang ku menemuimu," ucap Raffi, "dia masih seperti dulu, berlebihan," Raffi tersenyum menceritakan sikap Angga yang tidak berubah di matanya.
"Aku juga sangat terkejut, ternyata kamulah calon suaminya Mona," sahut Airin.
"Ah, aku juga sempat terkejut. Kita akhirnya bisa bertemu kembali."
Mona menatap Airin sinis, menutupi Airin dengan punggungnya, menggeser sedikit tempat duduknya, hingga Raffi tidak bisa melihat Airin.
Kemudian, Mona menceritakan beberapa hal kepada Raffi untuk menarik perhatian dan melupakan obrolannya dengan Airin.
Raffi menyingkirkan pundak Mona, dan lagi-lagi mencari wajah Airin.
"Aku dengan Ayahmu meninggal, aku turut berduka dan sedih. Maaf aku belum sempat kesana, karena sedang ada urusan pekerjaan di luar kota," kata Raffi.
"Oh, tidak apa-apa. Cukup doakan saja," sahut Airin.
Brak,
__ADS_1
Mona bangkit, dan menggeser kursinya dengan keras. Bersiap untuk pergi. Namun, kedatangan orang tua Raffi membuat Mona kembali duduk dan menahan rasa kesalnya yang terlihat oleh Airin.
Mona yang hendak menyapa calon mertuanya, tiba-tiba Raffi menarik tangan ibunya.
"Airin, Mah," ucap Raffi.
"Airin, oh … astaga,"
Ibunya Raffi tersenyum menatap Airin, kemudian berjalan mendekati Airin. Airin bangkit dari tempat duduknya, kemudian menyalami ibunya Raffi dan memeluk ibunya Raffi.
"Astaga, sampai mamah nggak kenalin, kamu …"
"Agak gendut ya, Mah .." balas Airin tersenyum, menyadari kekurangannya.
"Ah, tidak. Sedikit berisi saja, kamu kelihatan sedang hamil,"
"Iya,"
Ibunya Raffi mengusap pipi kanan Airin. Airin membalasnya dengan senyum sambil melirik sedikit ke arah ibu mertuanya yang berulang kali mendengus kesal.
Raffi menarik kursi di sampingnya, dan meminta Airin duduk untuk mengobrol. Keramahan keluarga Raffi semakin kentara, padahal hanya baru beberapa kali waktu itu bertemu. Mereka tidak membahas penyebab hubungan Airin dan Raffi berakhir. Orang tua Raffi, menananyakan kegiatan Airin setiap hari, menanyakan orangtua Airin dan terutam menananyakan Kak Ikmal yang juga sangat dekat dengan keluarga Raffi, karena Raffi dan Kak Ikmal adalah sahabat dekat saat masa kuliah.
Beberapa sanjungan masih keluarga Raffi berikan kepada Kak Ikmal, karena Kak Ikmal masih sering berkunjung kerumah orang tua Raffi, untuk sekedar membawakan makanan ataupun hadiah. Karena Raffi adalah anak tunggal, apalagi dia juga tinggal di Jakarta sekarang, sedang orang tuanya masih berada di Bandung. Kehadiran Kak Ikmal saat berkunjung, sedikit mengurangi rasa kesepian orang tua Raffi.
"Dista sudah melahirkan, ya?" tanya ibunya Raffi menananyakan kakak ipar Airin.
Airin mengangguk dan tersenyum.
"Anaknya perempuan," sahut Airin.
"Syukurlah, insyaallah setelah acara pernikahan Raffi kita jenguk Dista, dia wanita yang baik, cocok sekali dengan Ikmal," ujar Ayahnya Raffi.
Airin menanggapinya dengan tersenyum, sambil sesekali menoleh kebelakang, melihat keberadaan Mona dan Ibu mertuanya yang hanya diam saja menatap layar ponsel masing-masing.
"Jika saja kau jadi menantu kami, pasti …"
ucapan Ibunya Raffi berhenti, ketika menyadari keberadaan Mona. Mona melirik dengan sinis ke arah Airin.
__ADS_1
Pelayan datang membawakan pesanan makanan, hal itu membuat Airin akhirnya bisa kembali ketempat duduknya semula, dan memberikan ruang untuk Mona mengobrol dengan calon mertuanya.
Namun ternyata, setelah Airin kembali ke tempat duduknya yang dekat dengan ibu mertuanya, Raffi dan orang tuanya masih saja mengajak ngobrol Airin secara berjauhan. Menceritakan kisah-kisah nostalgia, saat Kak Ikmal menginap di rumah Raffi dan selalu berniat menjodohkan Airin dengan Raffi. Sampai, membuat kedua orang tua Raffi dibuatnya penasaran dengan sosok Airin.
"Ah …" Mona mendengus kesal, membanting garpu di tangannya.
Bangkit dari tempat duduknya, kemudian pergi meninggalkan meja makan. Airin merasa sedikit bersalah. Apalagi, Raffi tidak segera mengejar Mona dan masih sibuk mengajak Airin berbicara.
"Mamah dengar, mertuamu sangat kaku ya?" tanya Ibunya Raffi, yang dari awal tidak mengetahui wanita yang duduk di sebelah Airin adalah ibu mertuanya.
Airin tersenyum, sedikit melirik ke arah ibu mertuanya.
"Iya, kata Ikmal, mertuamu kaku, dan selalu menyia-nyiakan kamu,"
Raffi, menepuk pundak Ibunya. Namun, sepertinya Ibunya Raffi tidak terlalu mengerti kode yang diberikan Raffi.
"Ti … tidak," jawab Airin.
"Ikmal setiap berkunjung, selalu mengeluh sedih. Melihatmu yang hidup dengan mertua yang tidak menyukaimu. Padahal kamu cantik, pintar memasak dan juga baik, apa kurangnya?"
Airin melirik, dan melihat ibu mertuanya yang berhenti makan, sambil mendengus kesal.
"Mamah, sudah jangan di bahas," Raffi menepuk pundak ibunya lagi.
"Kasihan kamu sayang, yang sabar ya." ucap Ibunya Raffi.
Airin hanya mampu tersenyum.
Ibu mertuanya menjatuhkan sendok ke lantai dengan keras.
"Oh, iya. Dia siapa? Saudaranya Mona?" Ibunya Raffi berkata lirih ke arah Airin, menutupi ucapannya dengan tangan.
"Bukan," jawab Airin.
"Saya mertua yang kaku yang Anda bicarakan." timpal Ibu mertuanya menatap ibunya Raffi dengan tajam.
__ADS_1