Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 69


__ADS_3

Dengan nafas yang sedikit terengah-engah, akibat meluapkan emosinya. Airin merasa sesaat mengalami sakit kepala.


"Siapa yang mau bercerai?" tanya Ibunya, yang keluar dari kamar. Mendekati pertengkaran yang terjadi di ruang tamu.


Ibunya dengan wajah lesu dan mata yang sembab, kebingungan menoleh kanan kiri, menunggu jawaban dari anak dan menantunya. Kak Dista yang juga keluar kamar, langsung mendekat.


"Astaghfirullah, ada apa ini?" tanya Kak Dista.


"Sudah, Dek. Kamu masuk kamar saja. Ajak Ibuk, biar Abang yang menyelesaikannya," sahut Kak Ikmal, menarik tangan istrinya. "ibu juga, ayo masuk! Tadi hanya salah dengar saja,"


"Tidak, ibu dengar dengan jelas." sanggah Ibunya, kemudian mendekati Airin. "Apa kamu, dek?" tanya Ibunya, menarik tangan kiri Airin. Sedang Airin, tertunduk tanpa menyahut.


"Iya, kamu, Dek?" tanya Ibunya lantang, menggoyangkan kedua pundak Airin. Airin tetap bungkam, hanya air mata yang keluar dari matanya yang basah.


"Ada apa ini? Katakan!"


"Sudah, Buk. Ini permasalahan rumah tangga Airin. Biar mereka yang selesaikan." ucap Kak Ikmal, menarik tangan ibunya untuk menjauh dari Airin yang hati dan perasaan carut marut.


"Makam ayah kalian masih basah, bisa-bisanya kalian berdebat disini dan mengatakan perceraian!" ucap Ibunya lantang, dengan nada kesal.


Baik Airin dan Angga hanya tertunduk.


"Selesaikan masalah kalian di luar!" bentak Ibunya. Airin menyeka air matanya, lalu keluar dari pintu rumah.


Duduk di teras, sambil sesenggukan menangis. Putranya mendekat dan memeluk Airin. Airin merasa bersalah, berteriak dengan lantang di depan anak dan keluarganya.


"Ringga masuk! Sana ke kamar Ibuk Dista dulu!" perintah Kak Ikmal yang ikut keluar. Ringga dengan wajah ketakutan berlari masuk kedalam rumah.


Sedang saat ini kakaknya dan suaminya berdiri di depan Airin.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan?sampai perkataan buruk itu keluar," tanya Kak Ikmal, berkacak pinggang di depan Airin.


Airin tidak menyahut, dan masih terus menahan air matanya keluar lagi.


"Kalian ini sudah dewasa, akan punya anak kedua. Kenapa di saat-saat seperti ini kalian malah bertengkar?"


"Aku sudah lelah, Bang," keluh Airin.


"Lelah apa? Katakan!" gertak Kak Ikmal..


"Ayo kita bicara berdua!"


Angga menarik tangan Airin. Namun, Airin menolak dan bergeming.


"Sudah, selesaikan disini, kakak mau dengar!"


"Aku capek, Rin. Jika kamu terus seperti ini yan sudah aku turuti keinginanmu," ucap Angga.


"Kamu ini juga! Airin sedang seperti ini malah kamu tanggapi!" sahut Kak Ikmal kesal.


"Ya mau bagaimana lagi? Dia bilang dia lelah, akupun juga lelah. Uring-uringan, cemburuan …"


"Dia selalu bertemu dengan Mona diam-diam," Airin memotong perkataan Suaminya.


Angga menoleh, "Aku sudah katakan, itu hanya urusan bisnis. Kamu tahu sendiri kan, aku meminjam uang di perusahaan Mona dan juga …"


"Dia dan Mona mabuk berdua semalaman, lalu kau melihat chat senonoh di ponselnya," Airin memotong lagi penjelasan yang ingin Angga utarakan.


"Apa benar? Benar kau mabuk berdua dengan Mona?!" tanya Kak Ikmal melotot kearah Angga.

__ADS_1


Hah … Angga mengehela nafas, "Hanya tadi malam saja, itupun karena untuk acara perpisahan lajang Mona. Lagipula aku ke Bar bukan hanya dengan Mona saja, tapi juga ada teman-teman kuliah kami," sanggah Angga.


"Lalu chat senonoh apa yang kau lihat?" tanya Kak Ikmal, berbalik menatap Airin.


"Dia katakan …"


"Mona hanya bergurau, aku sudah marahi dia tadi pagi. Dia menulis pesan saat mabuk." Angga masih menyanggah isu perselingkuhannya dengan Mona. "Mona akan menikah? Apakah kamu belum cukup puas memikirkan hal buruk antara aku dan dia?!"


Airin diam, menyeka air matanya.


"Sudah, kecilkan suaramu. Ibuk sedang istirahat," ucap Kak Ikmal.


Angga lalu diam, duduk di samping Airin.


"Lalu apa mau mu?" tanya Angga, Manarik pundak Airin. "Jika kamu lelah, kita selesaikan baik-baik. Aku ikuti keinginanmu."


"Kamu sedang hamil, Dek. Ingat! Mungkin ini karena kamu sedang hamil, karena itu mudah tersulut emosi. Banyak-banyak istighfar," ucap Kak Ikmal, lalu pergi dan masuk kedalam rumah. Meninggalkan Airin dan Angga yang duduk berdua di teras.


"Aku minta maaf soal ucapanku tadi pagi," ucap Angga lirih. Airin diam, dan membuang muka. "aku hanya sedang stres saja, masalah datang satu persatu tanpa jeda."


"Lalu …? Karena itu kau menyalahkan kehamilanku dan pernikahan kita?"


"Bukan itu maksudku," ucap Angga "sudahlah, jangan bahas itu lagi. Jika kamu ingin berada disini sejenak aku ijinkan." Angga menyentuh jari-jemari tangan kiri Airin.


"Kadang aku sangat lelah, tapi aku juga sangat takut kehilanganmu dan Ringga," ucap Angga, menggenggam erat jari-jari Airin.


"Aku ingin kita bersama melewati semua masalah ini, aku hanya butuh dukunganmu saja tidak lebih. Aku juga ingin secepatnya melunasi hutangku pada Mona."


Angga mencium tangan Kemudian, bersandar di pundak kiri Airin.

__ADS_1


Perasaan kesal di hati Airin, berubah perlahan menjadi tenang. Kehangatan yang selalu dianggapnya palsu, kali ini membuatnya masih saja ingin merengkuhnya. Berulang kali ingin berhenti mencintai Angga, namun saat sela-sela jemarinya yang kosong di isi oleh jari-jari Angga, hatinya ketakutan untuk kehilangan.



__ADS_2