Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 40


__ADS_3

Seorang dokter dan kedua perawat masuk kedalam kamar, setelah Angga memanggilnya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada Airin. Degup jantung Angga dan Ringga berdebar kencang, seakan ingin menangis haru dan juga tersenyum bahagia semua bercampur aduk menjadi satu.


Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan kondisi Airin tidak terlalu baik meskipun sudah sadar karena mengalami cedera otak traumatis, akibat dari benturan yang dialami saat kecelakaan. Sehingga, Airin tidak bisa menggerakkan tubuhnya atau bisa di sebut juga mengalami kelumpuhan otak.


"Dia bisa membuka matanya, namun tidak bisa melakukan apapun, butuh waktu dan proses yang lumayan panjang untuk pulih kembali," ucap Dokter menjelaskan.


Angga tertegun sesaat menatap istrinya, kemudian mendekat dan menatap mata Airin.


'Setidaknya dia hidup,' batin Angga..


Kemudian Angga pun menghubungi keluarga Airin, dan orang tua serta kakak Airin pun datang ke rumah sakit dengan senyum yang bahagia, namun berubah suram kembali setelah mengetahui kondisi Airin.


Ibunya memeluk Airin dan mencium pipi Airin dengan penuh air mata yang tertuang. Setidaknya ada rasa lega, melihat Airin masih hidup.


Ringga langsung memeluk Airin dengan erat sambil berkata lirih "Mama, mama sudah berhasil kembali …, terimakasih ma,". Kalimat itu membuat semua orang menangis haru.


Setelah 10 hari menjalani perawatan di rumah sakit, Airin diperbolehkan untuk pulang namun setiap 2 minggu sekali datang untuk pemeriksaan dan terapi.


Airin pun dibawa ke rumah orang tuanya, setelah melakukan musyawarah keluarga. Angga juga akan tinggal di rumah mertuanya, agar bisa ikut menjaga Airin.


Semua keluarga sesaat menangis saat Airin tiba dirumah, kemudian segera menyeka air mata dan berusaha tegar di depan Airin. Meskipun Airin tidak bisa bergerak setidaknya dia tahu jika keluarganya masih sangat menyayanginya, apapun kondisinya.


'Aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, aku hanya bisa merindukanmu dalam diam, dan aku hanya bisa melihat air matamu dalam diam' batin Airin, ketika berjumpa dengan keluarganya. Dia ingin menangis tidak bisa, dia ingin tersenyum pun tidak bisa.


'Aku kembali seperti diriku yang dulu, mencintaimu dari jauh, merindukanmu dari jauh, tanpa pernah kamu ketahui,'

__ADS_1


Ringga datang selepas pulang sekolah, berlari kearah Airin yang tengah duduk di kursi roda. Ringga mencium tangan kanan Airin, kemudian kedua pipi Airin.


Balita polos itu, masih menceritakan kesehariannya meskipun ibunya tidak bisa mengatakan apapun untuk membalas ucapannya. Ringga mengeluh, kepalanya bersandar di pangkuan Airin sambil membicarakan temannya yang selalu mengambil bekal makan siangnya.


'Aku ingin mengusap kepalamu, dan juga menciummu, nak.' batin Airin, menatap Ringga tanpa berkedip.


Airin menjadi tak berguna setelah mendapatkan kehidupannya kembali. Ibunya merawatnya pagi, siang dan malam. Membersihkan tubuhnya, bahkan untuk makan saja harus melalui proses yang sulit.


Airin menatap air mata ibunya yang berdiri di depan matanya, Airin berkedip dan hanya bisa berkata pada batinnya 'Ibu, maafkan aku …'


Saat jadwal fisioterapi, Angga selalu libur kerja dan seharian menemani Airin. Ada rasa sedih yang juga terlihat, dan Airin mampu melihatnya namun tidak mampu menyekanya.


'Bisakah kita kembali seperti sedia kala, aku dan kamu bahagia,' kalimat yang mau di ucapkan pada dirinya.


"Kau harus hidup, aku tidak akan bisa hidup jika tanpamu," ucap Angga, lirih sambil menatap Airin. Keduanya duduk di bawah gemerlapnya bintang malam, Airin melihat wajah sayu di diri Angga.


***


Sudah melewati satu bulan sejak Airin mendapatkan kehidupannya kembali. Rutinitas yang sama terlihat dari ibunya yang tidak berhenti memberikan perhatian yang ekstra kepada Airin.


Terkadang ayahnya duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dan berkata "Maafkan, ayah," kalimat yang membuat Airin berulang kali merasa hancur, saat kalimat itu diucapkan ayahnya dia tidak bisa berlari dan memeluk ayahnya.


"Kita bisa melewatinya, jangan takut …, ayah akan tetap disampingmu." kata ayahnya lirih, kemudian mencium tangan Airin.


Hari berganti bulan, dan bukan berganti tahun. Genap satu tahun sejak tragedi kecelakaan itu terjadi. Airin masih sama, meskipun sudah melakukan berbagai perawatan. Kondisi keuangan keluarganya semakin hari terlihat memburuk untuk membayar biaya perawatan Airin. Bahkan Angga, harus berlutut kembali ke rumah orang tuanya untuk meminjam uang demi pengobatan Airin terus berjalan.

__ADS_1


"Kau masih ingin bertahan dengan wanita lumpuh itu, kamu masih punya masa depan!" gertak ayahnya. Namun, makian itu selalu Angga tahan, demi tetap bisa bertahan dan kembali ke perusahaan ayahnya, agar bisa mencari uang lebih banyak untuk biaya perawatan istrinya.


Angga mulai jarang pulang kerumah orang tua Airin, dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya. Airin hanya bisa menyeka kesedihannya dalam diam. Hati dan hidupnya terasa kosong, perlahan semua terasa berubah.


'Apakah cintamu masih ada untukku?' pertanyaan itu menggema di dalam hati Airin, ketika kali ini menatap bintang di langit sendirian.


Saat Angga pulang, wajah letih dan suram yang terlihat, tidur di kamar tanpa bertanya apapun kepadanya Airin. Kemudian pergi, meninggalkan ciuman di kening. Datang kembali dengan kesuraman yang sama, kali ini ciuman itu tidak ada lagi, hanya lambaian tangan sebelum memasuki mobil.


Hari ini Ringga merayakan ulang tahunnya yang ke lima tahun, semua berkumpul di rumah orang tua Airin. Ringga menarik kursi roda Airin, agar ibunya bisa berada di sampingnya.


"Mama, ayo tiup lilin bersama Ringga," ucap Ringga, kemudian meniup lilin yang menyala hingga padam, dan memotong kue pertamanya untuk Airin. Ringga mengoles krim kue di pipi Airin, kemudian tertawa lebar. Airin menatap kebahagiaan anaknya, namun tidak melihat Angga yang datang.


Esok harinya Angga datang, dengan membawa hadiah untuk Ringga, memberi alasan jika ayahnya sibuk bekerja, agar bisa membawa Airin berobat ke ke luar negeri dengan alat yang lebih canggih dan bisa secepatnya pulih. Ringga yang awalnya merajuk, setelah mendengarkan alasan ayahnya kembali luluh, kemudian memeluk Angga erat.


"Ayah bawakan hadiah untukmu," ucap Angga, mengeluarkan hadiah kotak yang terbungkus kertas kado dengan ukuran yang besar.


Ringga tersenyum kemudian dengan semangat membuka hadiah itu. Robot keluaran terbaru yang didapatkan dari ayahnya membuatnya tersenyum merekah, memeluk mainan itu dengan erat.


Airin melihat wajah putranya dari depan pintu kamarnya, dan merasa lega jika Angga masih menaruh perhatian kepada anak mereka. Ringga langsung memeluk ayahnya dan kemudian berlari ke arah Airin sambil menunjukkan hadiah yang didapatkannya.


"Airin, ada yang ingin bertemu, kamu pasti senang," ucap Angga, kemudian mendorong kursi roda Airin ke arah ruang tamu.


Airin melihat seorang wanita keluar dari mobil Angga, wajahnya sangat asing untuk di kenalinya.


"Airin." ucap wanita itu. Namun, suaranya tidak asing.

__ADS_1


'Mona …'


__ADS_2