Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 21


__ADS_3

Airin sejenak diam, begitupun dengan Angga. Tidak ada kalimat yang keduanya utarakan meski sekian lama tidak bertemu.


Angga melihat Ringga di seberang jalan dalam gendongan kakak iparnya dan masih melambaikan tangan dengan meneriaki nama "mama". Namun, sepertinya Angga tidak penasaran. Angga tidak membalas sapaan Airin, seperti orang aneh dengan tatapan kosong.


"Angga, ayo!," teriak Mona dari belakang lalu mendekat. Saat ini cinta segitiga itu saling menatap satu sama lain. Mona mengernyit menatap Airin, sedangkan Airin dan Angga keduanya masih saling menatap satu sama lain..


"Ayo sayang kita nanti terlambat, sudah dulu ya Rin," ucap Mona, menarik tangan Angga. Melihat Angga pergi hati Airin gemetar, rasanya ingin berlari dan mengatakan 'Lihat anakmu disana!' namun, kemudian bergeming dan memilih tetap menyembunyikannya. Meski bayangan keduanya tak lagi dekat, baik Airin dan Angga masih saling menatap dari jauh.


Beberapa saat setelah mobil sedan berwarna hitam itu pergi, Airin menyeberang jalan menghampiri Ringga. Airin mengambil Ringga dalam gendongan kakak iparnya dan masuk kedalam mobil milik kakaknya yang sudah menunggu.


"Siapa?" tanya kak Ikmal, menoleh kebelakang.


"Teman lama," jawab Airin.


"Bukankah itu Mona, berarti pria itu …, ayahnya Ringga?" sahut kak Ikmal, lalu keluar dari mobil dan mencari keberadaan Mona dan Angga lagi. Airin menarik tangan kak Ikmal untuk masuk kedalam mobil.


"Bukan," ucap Airin. Kak ikmal lalu masuk lagi kedalam mobil.


Entah ini debaran jantung yang memiliki rasa rindu, atau hanya sebuah ketakutan semata jika ketahuan. Perlahan Airin menghiraukan perasaannya, matanya beralih melihat senyum Ringga yang berada dalam pelukannya.


'Nak, dia Ayahmu, apa kau lihat tadi?' batin Airin, lalu mengarahkan pandangan Ringga keluar jendela memberi isyarat tanpa kalimat yang keluar dari mulut.


***


Hari berikutnya, apakah bintang akan muncul kembali. Sore ini sepertinya mendung, dan benar saja hujan turun perlahan.


Seorang pelanggan yang masuk membuat riuh toko, teman-temannya seakan mencoba saling beradu keahlian dalam menjual sepatu di toko untuk pria yang baru saja masuk.

__ADS_1


"Rin, ini ukuran 42 ada nggak?" tanya Agnes, karyawan toko dan juga teman Airin saat ini.


Airin melihat catatannya lalu menggeleng.


"Bagaimana kalau nomor 43 kak, tidak jauh beda kok hanya lebih 3 centimeter, mau coba dulu!" Anges berbalik dan menawari pembeli itu lagi..


"Iya, saya coba dulu." jawab pembeli itu yang terdengar seperti suara seorang pria yang dikenalnya. Mata Airin mencari suara itu, lalu kemudian menutup wajahnya dengan buku besar di meja.


"Disini pulang kerja jam berapa?" tanya Pria itu kepada Agnes.


"3 jam lagi kak, ada apa? Mau nungguin saya ya," jawab Agnes sambil menaruh sepatu yang diminta pembeli itu di bawah kakinya.


Tidak ada kalimat lagi yang keluar, Airin mendengarnya dengan seksama.


"Ya sudah saya ambil ini," ucap Pria itu, langkah kakinya mendekat bersamaan dengan Agnes.


"Oke," balas Airin lalu mengetik harga ke mesin kasir.


Pria itu pun membayarnya dengan tunai, dan Airin meraihnya dengan sopan.


"Aku tunggu di luar," ucap pria itu, pria yang membuatnya terbelenggu. Entah apa yang ada dipikiran Airin ketika pura-pura tidak mengenal Angga.


Airin tidak menjawab ucapan Angga, karena melihat Agnes yang juga mendengar hal itu membuat Airin canggung dan mencoba menghiraukannya.


Angga keluar dari toko dan Airin masih bisa melihat mobilnya diam tak bergerak di depan toko.


Hujan semakin deras dan malam juga semakin dingin. Jam kerja sudah usai, Airin mengunci toko, lalu berjalan ke arah rumah pemilik toko yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Airin menoleh kebelakang dan masih melihat mobil Angga tidak bergerak, seakan-akan tahu jika Airin pasti kembali.

__ADS_1


Setelah memberikan kunci, Airin menyeberang jalan, berniat melupakan ucapan Angga yang menunggunya. Airin ingin benar-benar tidak berharap lagi pada Angga, karena hidupnya pun sudah berubah.


Airin naik bus, dan melihat mobil Angga yang masih ada di depan toko saat melewatinya.


"Sudahlah, dia cukup dewasa. Dia akan pulang jika tahu aku tidak kembali" gumam Airin.


Airin sesaat merasa kehilangan kesempatan, namun ketika menatap dirinya di kaca jendela, bayangan Mona serasa ingin mencengkeramnya jika kembali menemui Angga.


***


Semalaman Airin gelisah, tidak bisa tidur nyenyak, padahal malam ini Ringga juga tidur di rumah kakaknya. Namun, meskipun mencoba memejamkan mata, rasanya sangat sulit, jika mengingat Angga.


"Apa dia sudah pulang?" gumam Airin mondar-mandir di dalam kamarnya, lalu kembali ke tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Mencoba berulang kali terpejam dan beristighfar.


'Apakah aku masih sama? Masih mencintaimu diam-diam …, rasanya cintaku mati rasa ketika melihat pria lain di depan mataku, meskipun itu sangat tampan dan baik … aku … aku memang masih mencintaimu ternyata,' batin Airin hingga tertidur pulas.


Pagi harinya, Airin bangun pagi-pagi dan bergegas pergi ke tempat kerjanya. Meninggalkan sarapan yang Ibunya sudah buatkan, Airin juga tidak pergi bersama dengan kak Ikmal seperti biasanya.


Entah apa yang ada dipikirannya, tiba-tiba ingin berlari tanpa henti. Airin memakai jasa ojek untuk mengantarnya sampai ke tempat kerjanya, dengan hati yang berdebar sepanjang jalan


Tiba di depan toko, Airin bernafas lega. Dia sudah tidak melihat mobil Angga lagi, Airin menarik nafas panjang kemudian mengempiskannya dengan tenang. Airin duduk sambil menyeka keringatnya, kemudian bangkit.


Langkahnya berjalan ke arah belakang toko mencari kedai makan untuk sarapan pagi. Perasaan cemas nya sedikit hilang, namun masih ada tertinggal rasa penyesalan.


'Seharusnya aku jujur padanya,' batin Airin.


Setelah tiba di kedai makan Airin memesan beberapa menu di makanan, lalu masuk kedalam ruangan untuk mencari tempat duduk sambil menunggu pesanannya datang, menikmati teh hangat di tangan kanannya dan beberapa kerupuk di depannya.

__ADS_1


"Kau selalu membuatku seperti orang tidak waras," ucap seseorang menggebrak meja Airin dengan nada kesal. Airin mendongak dan terkejut.


__ADS_2