
Airin sontak terkejut dengan ucapan ayahnya Angga. Kemudian dia maju, dan menatap mata ayahnya Angga untuk pertama kalinya dengan keberanian.
"Saya tidak butuh pertanggung jawaban, selama ini saya melahirkan dan mengurus Ringga dengan baik tanpa Angga, saya kesini hanya ingin meminta restu untuk sebuah pernikahan yang terjalin di antara dua keluarga," jawab Airin tegas.
Orang tua Angga hanya diam dan menelan ludah menanggapi perkataan Airin. Airin kemudian menatap Mona tajam, hingga Mona juga diam tak berkutik.
"Kami akan tetap menikah," ujar Angga.
"Kamu pulang dulu, aku akan berbicara dengan anakku," ucap ayahnya Angga pada Airin.
"Sopir! Antar nona ini pulang ke rumahnya!" imbuh ayahnya Angga berteriak, kemudian seorang pria paruh baya datang dan Airin pun pergi dari hadapan keluarga Angga.
Sepanjang perjalanan Airin gelisah, dia bingung akan menjelaskan apa pada orang tuanya. Takut jika nantinya pernikahan ini batal, kemudian warga akan mengira jika fitnah dari Mona dan Dina itu benar adanya.
Airin tak berani langsung pulang kerumah, dia duduk di bangku taman. Melihat bintang-bintang yang indah bersinar di malam yang cerah. Perlahan air matanya turun, ketika menyadari hidupnya tak pernah bersinar di manapun, semua tampak redup, bahkan saat hatinya berusaha berani melawan takdir, namun tetap saja tidak ada yang berakhir dengan bahagia.
Setelah hampir tengah malam, Airin pulang ke rumah. Ibunya berlari ketika melihat Airin berjalan masuk, kemudian memukul punggung Airin karena cemas tidak mendapatkan kabar dari Airin dan Angga hampir seharian.
"Mana Angga?" tanya ayahnya.
"Dia sedang membahas sesuatu dengan keluarganya," jawab Airin lirih, kemudian dengan tubuh sempoyongan berjalan ke arah kamarnya.
__ADS_1
Airin berbaring di tempat tidurnya, sambil terus menangis tersedu-sedu dan meredamnya dengan bantal agar tidak terdengar oleh orang tuanya. Rasa takutnya semakin dalam, jika akhirnya pernikahan ini tidak akan terjadi. Airin bingung harus kabur dan pergi kemana lagi.
***
Esok harinya, Airin menyibukkan diri dengan bekerja. Jika ayah maupun ibunya menanyakan tentang Angga, Airin mencoba terus menghindar dan langsung masuk ke dalam kamarnya, Airin juga tidak berani ke rumah kakaknya untuk menjemput Ringga karena kakaknya pasti juga akan marah besar jika mengetahui orang tua Angga belum memberi restu.
Hari yang sepi dan kosong, semuanya terlihat berbeda dan terkadang Airin masih menunggu orang yang dirindukannya menjemputnya di depan toko tempatnya bekerja. Airin mengurung diri dan enggan membahas tentang pernikahan lagi. Harapannya seakan hilang.
2,3,4 hari berlalu…
Airin duduk di ruang tamu untuk membahas permasalahan ini kepada orang tuanya, setelah kak Ikmal selalu mendesak Airin untuk memberikan jawaban. Apalagi Angga sudah tidak pernah terlihat di kontrakannya yang berdekatan dengan rumah kak Ikmal.
Airin menghela nafas panjang, kemudian menceritakan satu persatu permasalahan, mulai dari orang tua Angga yang sulit melepaskan Angga dengan Airin karena masih memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Mona. Kemudian, Airin juga menceritakan jika orang tua Angga belum bisa menerima Airin karena sudah terlanjur sayang dengan Mona yang hidupnya setara dengan keluarga Angga.
Ketidakpastian itu mulai terasa, ketika nomor ponsel Angga sudah tidak bisa di hubungi lagi. Kak Ikmal meminta Airin untuk mengantarnya ke rumah Angga, namun Airin menolak karena tidak ingin terlihat mengemis cinta di keluarga Angga. Apalagi sudah memberi pilihan ingin membawa Ringga pergi. Airin lebih baik melepaskan Angga daripada kehilangan Ringga.
Beberapa lamunan panjang mengisi kekosongan, tentang kisah lama dan persahabatan yang lama. Dimana pertama kalinya pertemuan antara Angga, Mona dan Airin.
Saat itu …,
Airin mengingat bagaimana Mona, begitu antusias untuk datang ke pertandingan persahabatan SMP futsal antara sekolahnya dan sekolah sebelah. Ternyata bukan sekedar ingin menyaksikan pertandingan, melainkan bertemu dengan pujaan hati Mona yang diam-diam membuat Mona tidak tenang.
__ADS_1
Setelah pertandingan itu usai, Mona menarik tangan Airin. Kemudian, bertemu dengan Angga dan ketiganya saling berkenalan. Airin tertegun sesaat kala itu, melihat siswa yang saat ini menyentuh tangan kanannya untuk berkenalan. Kedua mata antara dirinya dan Angga yang tidak bisa saling lepas, di sela oleh senyum Mona yang langsung menarik tangan Angga dan memperkenalkan diri.
Kemudian Mona mengatakan jika ingin mengenal Angga lebih dekat, dan menceritakan jika Mona tahu Angga, karena ayahnya adalah teman ayahnya Mona. Melihat tatapan Angga yang masih terus tak beralih ke Airin. Airin pun tertunduk, lantas Mona yang menyadari langsung mengatakan jika Airin sudah memiliki pacar. Airin meng "iya" kan karena tahu, Mona sangat menyukai Angga.
Kebohongan itu pun menjadi boomerang bagi Airin, yang ternyata mereka satu sekolah di SMA yang sama, ketiganya sering menghabiskan waktu bersama dan belajar bersama. Airin akhirnya menyadari jika dirinya juga menyukai sosok siswa yang disukai Mona, bahkan saat Airin tahu Mona menyatakan cinta kepada Angga, Airin berjanji menyembunyikan cintanya seorang diri dalam diam.
Angga yang selalu membuatnya gugup dan bersemangat saat berangkat ke sekolah, Angga yang pintar dan pandai dalam pelajaran olahraga, Angga yang memiliki senyum manis dengan matanya coklat yang bersinar. 'Cinta itu apakah salah?' kalimat itu selalu membelenggu.
Dan akhirnya, kedua mata mereka saling bertatapan kembali dan kali ini lebih dekat dari hari-hari sebelumnya. Hujan saat itu benar-benar deras, dan baik Airin dan Angga hanya memiliki niat berteduh sementara sebelumnya. Saat suara dentuman petir menyambar, Airin reflek memeluk Angga, dan Airin tidak mengelak ketika bibir Angga menyentuhnya perlahan hingga dirinya menelan ludah berulang kali.
'Jika cinta ini salah, bisakah kelak menjadi benar'. Kalimat itu yang terbesit, setelah Angga menyentuh perlahan tubuh Airin saat itu. Dan Airin merasa tak ingin mundur kali ini.
Dan saat ini …,
Cinta yang salah itu tetap akan menjadi kesalahan …
Airin menyesali dirinya, kemudian menangis. Sesat melihat kalung pemberian Angga, dan juga melihat liontin berbentuk hati yang tergantung membuatnya terhipnotis sesaat.
Jantungnya berdebar, ketika mendengar suara mobil Angga. 'Apa aku mengkhayal?' Airin masih menggumam. Kemudian ibunya mengetuk pintu kamar Airin dan mengatakan jika Angga datang.
Airin menyeka air matanya, kemudian keluar dari kamar. Airin terkejut dengan kondisi Angga, karena tubuhnya babak belur. Airin mendekat dan menatap Angga, meluapkan kerinduannya.
__ADS_1
Angga kemudian berlutut, dan menarik tangan kanan Airin. Mengeluarkan kotak merah dari saku bajunya.
"Apakah kau ingin menikah dengan pria pengecut sepertiku?" ucap Angga, kemudian mengeluarkan cincin dan memasangnya di jari manis Airin. Tidak ada jawaban yang keluar hanya senyum yang berbalut air mata.