
Airin masih membuka mulutnya setelah mendengar pertanyaan yang mengejutkan itu keluar dari mulut Raffi. Begitupun Angga yang hanya bisa menelan ludah, melihat tingkah pria yang menjadi saingannya untuk merebut hati Airin kini terlihat lebih berani dari dugaannya.
Raffi kemudian menarik tangan Airin hingga keluar dari mobil Angga.
"Aku ingin bicara dengan Airin sejenak, aku mohon jangan ikuti kami, berikan kami privasi," ucap Raffi kepada Angga. Airin lalu mengikuti langkah Raffi dan Angga hanya melihatnya dari kejauhan.
Raffi mengajak Airin mengobrol di dekat motor milikya.
"Aku sudah jatuh cinta denganmu, bahkan sebelum kita bertemu, bahkan juga saat kakakmu yang selalu menceritakan dirimu saat kuliah, hingga membuatku penasaran dan akhirnya kita bertemu," ungkap Raffi. Airin hanya diam dan tertunduk.
"Jika memang pria itu sudah tidak berarti lagi, bisakah aku melangkah lebih dekat. Ijinkan aku menutup luka dan kesedihanmu yang lalu," imbuh Raffi.
Airin menatap mata Raffi, rasanya hatinya bergetar mendengar ucapan yang tulus dari seorang pria untuk pertama kalinya. Airin kemudian mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih, Rin. Pulanglah sudah malam, besok aku akan menjemputmu lagi," ujar Raffi.
Airin mengangguk dan kembali melangkah pergi, Airin menatap kepergian Raffi yang perlahan hilang dari matanya. Kemudian, kembali masuk kedalam mobil Angga.
Di sepanjang jalan, setiap kata dan kalimat dari Raffi terngiang-ngiang di fikirannya, seperti tidak mengira jika Raffi memilih maju daripada mundur setelah mengetahui masa lalu Airin.
"Apa yang dia katakan?" tanya Angga. Airin menoleh sesaat kemudian tersenyum, lalu tertunduk.
"Tidak ada, hanya mengatakan terimakasih," jawab Airin lirih.
Angga lalu diam, dan masih memandangi Airin berulang kali. Hingga sampai tiba di rumahnya, Airin langsung berpamitan masuk kedalam kamarnya dan Angga seperti biasanya menemani ayahnya mengobrol.
Airin berbaring ditempat tidur, perasaannya masih kacau dan detak jantung nya berdegup tak beraturan. Airin melihat liontin di kalungnya. Kemudian memilih melepaskan kalung itu dari lehernya, kemudian menyimpannya di dalam laci lemari.
"Apa yang harus aku lakukan ketika dua doaku terkabul dalam waktu yang bersamaan? bertemu dengan Angga dan bertemu dengan pria tulus yang menerima masa laluku," gumam Airin.
***
Esok harinya, Raffi memenuhi janjinya yang datang untuk mengantar Airin lagi ke tempat kerjanya. Orang tuanya terlihat sumringah ketika Airin dan Raffi semakin dekat, hubungan keduanya pun juga mendapat restu dari kak Ikmal.
__ADS_1
Namun tidak dengan Angga, Angga gelisah saat melihat Airin pergi dengan Raffi. Kemudian datang ke rumah Airin, menanyakan hubungan Airin dan Raffi.
"Mereka sebentar lagi akan menikah mungkin," sahut Ayahnya Airin dengan senyum bahagia. Ayahnya yang diberi kabar oleh Airin jika dirinya sudah jujur tentang Ringga kepada Raffi dan Raffi mau menerima Airin sekarang bernafas lega.
"Tapi saya juga mencintai Airin, yah," ucap Angga.
"Tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah saling cinta." sahut ayahnya Airin.
"Ya sudah, nanti bapak akan carikan wanita lain yang lebih dari Airin tenang saja, untuk saat ini biarkan cinta mereka bersemi," ujar ayahnya Airin. Kalimat itu membuat Angga sedikit kesal lalu pergi tanpa berpamitan.
**
Setelah tiba di toko, kali ini Raffi tidak seperti kemarin langsung pergi. Melainkan menemani Airin sampai jam kerjanya dimulai keduanya mengobrol di depan teras toko membicarakan tentang hubungan mereka selanjutnya. Raffi mengatakan untuk Airin tidak perlu takut dan canggung untuk jujur pada dirinya saat ini, Airin mengangguk dan tersipu.
"Sabtu depan, aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku," ujar Raffi.
"Hah, kok mendadak," sahut Airin.
"Ya ngobrol biasa saja, jangan dianggap beban, jadi kedua orang tua kita tidak terlalu was-was ketika sudah mengenal satu sama lainnya," imbuh Raffi.
**
Waktu berlalu tanpa kepastian …
Airin sudah jarang melihat kedatangan Angga di rumahnya, setelah Angga mengetahui hubungan Airin dengan Raffi. Malam-malam ayahnya hanya disibukkan dengan menonton televisi atau merokok di depan teras.
Airin menyadari kepergian Angga, sangat berarti untuk ayahnya yang sudah terlanjur akrab dengan Angga. Airin pun akhirnya menyuruh kak Ikmal untuk membawa Ringga ke rumah, agar ayahnya memiliki teman untuk berbagi canda.
Dan benar saja, setelah Ringga datang. Tawa dan senyum ayahnya kembali terlihat, Airin sedikit lega. Namun, keceriaan itu tidak bertahan lama.
Tidak ada Angga, tidak ada kebahagiaan di hati, itu yang tergambar. Ayahnya terus saja gelisah dan mondar mandir sedari pagi ke rumah Angga untuk mengajak Angga bermain badminton, namun Angga ternyata tidak berada dirumah. Ayahnya menghela nafas berulang kali tidak bersemangat. Airin hanya bisa diam mengamatinya.
Hari ini Airin libur bekerja, karena akan pergi untuk menemui orang tua Raffi. Airin gugup dan terus gelisah. Ada rasa takut, jika dirinya nanti akan ditolak oleh keluarga Raffi setelah mengetahui memiliki anak tanpa pernikahan.
__ADS_1
Raffi tiba di rumah, dan langsung meminta restu orang tuanya Airin. Keduanya pun direstui kemudian pergi.
"Rin, aku belum siap mengatakan kepada orang tuaku jika kamu memiliki anak, jadi untuk saat ini kita sembunyikan dulu, sampai di waktu yang tepat aku jujur dengan orang tuaku," ucap Raffi sebelum masuk kedalam rumahnya.
Airin mengangguk dan meng 'iyakan'. Keduanya pun menghela nafas bersama lalu masuk kedalam rumah orang tua Raffi. Airin mendapatkan sambutan hangat dari orang tua Raffi. Beberapa obrolan pun mereka bahas, terutama tentang hubungan Raffi dan Airin kedepannya. Airin hanya diam dan menunggu keputusan Raffi untuk menjawabnya.
Di tengah obrolan, ponsel Airin terus berdering, dan akhirnya Airin meminta izin untuk mengangkat telepon. Ternyata telepon itu dari kakak iparnya yang mengabarkan jika Ringga di Rumah Sakit setelah ditabrak mobil saat berlarian di luar area taman. Airin pun panik dan hanya bisa menangis, kemudian mendekat kearah Raffi dan meminta Raffi untuk mengantarnya ke rumah sakit. Raffi dan Airin pun akhirnya mengakhiri pertemuan ini, dan segera pergi ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Airin langsung berlari ke ruang UGD melihat kondisi anaknya. Kakak iparnya menceritakan jika Ringga terus berteriak papa, padahal kak Ikmal bekerja, akhirnya Ringga berlari mengejar pria yang dianggap papanya lalu kemudian kecelakaan itu terjadi.
Dokter keluar dari ruang UGD dan mengatakan jika saat ini Ringga membutuhkan donor darah, namun karena golongan darah Ringga langka, Dokter menyarankan orang tuanya untuk menjadi pendonor.
"Siapa papanya?" tanya Dokter.
Kak Ikmal maju ke depan, namun dokter menolak karena golongan darah Kak Ikmal O.
"Lalu ibunya?" tanya dokter lagi.
"saya juga O," jawab Airin.
" Lalu ini anak siapa?" dokter berdecak kesal.
"Kalau kamu siapa?" dokter menunjuk ke arah Raffi.
"Saya calon ayahnya, dok" jawab Raffi. Dokter mengernyit, sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kamu juga O?" tanya Dokter itu pada Raffi.
"Golongan darah saya A," jawab Raffi.
"Lalu siapa bapaknya diantara kalian semua?" ujar Dokter dengan raut yang tegang dan bingung.
"Saya yang akan mendonorkan darah untuk Ringga," sahut Angga yang tiba-tiba datang, hingga membuat keluarga Airin menoleh ke belakang bersamaan.
__ADS_1
"Kamu siapa lagi?" tanya Dokter.
"Saya ayah kandungnya dan golongan darah saya AB+," jawab Angga.