Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 33


__ADS_3

Jawaban Airin itu sontak membuat keluarganya terkejut.


"Rin," ucap Angga, yang mendekat. Namun Airin langsung mengulurkan tangannya dan memberi isyarat untuk tetap menjaga jarak di antara keduanya. Namun Angga tetap mendekat. Airin lalu berdiri dan menghindar, kemudian Angga semakin menahan langkah Airin dan menarik tangan Airin.


"Aku minta maaf, aku sangat menyesal, Rin," ucap Angga kemudian berlutut di kaki Airin. Airin menyeka air matanya yang perlahan turun.


"Ayo kita mulai dari awal, izinkan aku memperbaiki semuanya, " ucap Angga, kemudian perlahan juga menitikkan air mata.


"Dengan menyakiti Mona?" ujar Airin.


"Aku sudah putus dengan Mona," sahut Angga.


"Lalu apa yang berubah? Kita hanya saling menyakiti satu sama lain jika bersama," ucap Airin terbata-bata serta berlinangan air mata.


"Kita akan bersama-sama mengatakan pada Mona, jika ada Ringga di antara kita. Aku yakin Mona akan memahaminya," ucap Angga, menundukkan kepala, menyeka air matanya dan masih berlutut sambil menggenggam tangan Airin.


"Bagaimana bisa? aku yang salah kenapa Mona yang harus pergi dari hidupmu, aku akan dihantui rasa bersalah, bahkan saat ini rasa bersalah itu membelenggu diriku, " ucap Airin, air matanya lebih deras turun dari sebelumnya hingga wajahnya memerah.


"Aku tidak bisa, aku tidak bisa …, memulai hubungan dengan menyakiti hati orang lain," ucap Airin, menyeka air matanya lagi.


Angga bangkit dan menarik dagu Airin, hingga keduanya saling menatap mata yang basah.


"Apa tidak ada cinta untukku di hatimu?" tanya Angga. Airin menyingkirkan tangan Angga dari dagunya lalu membuang muka.


"Aku mohon, bagaimana dengan Ringga, anak kita?" imbuh Angga.


"Ringga? Dia sudah terbiasa hidup tanpa papanya selama ini, jadi jangan memberi alasan, aku ingin kita berakhir sampai disini, ini terlalu sulit untukku … aku … aku … tidak ingin merusak kebahagiaan siapapun lagi," sahut Airin lalu, melangkah pergi meninggalkan Angga. Angga melangkah dan ingin mengikuti langkah Airin, namun ayahnya Airin melarangnya dan menyuruh Angga kembali duduk.


***


Pertemuan itu pun berakhir tanpa penyelesaian. Ayahnya Airin menyuruh Raffi untuk pulang, dan membiarkan Airin untuk tenang dan berfikir jernih, sedang Angga masih bergeming duduk di sofa meskipun ayahnya Airin menyuruhnya juga pulang.


Airin masih menangis, padahal dirinya sudah memilih Raffi, namun kenapa hatinya malah merasa sakit.

__ADS_1


"Aku tidak benar-benar cinta dengan dia, dia masa laluku," gumam Airin pada dirinya, namun air matanya tumpah lagi ketika mencoba mengelak dari perasaannya yang sebenarnya.


Airin pun tidak berani keluar dari kamarnya, saat mengetahui Angga belum beranjak pergi dari rumahnya.


Dua hati yang saling menginginkan, namun terjebak ketakutan.


"Sudah sana pulang!" ucap ayahnya, Airin mendengar ayahnya berulang kali mengusir Angga untuk pulang, namun Angga masih bergeming diam tanpa kalimat.


Setelah hampir tengah malam berdiam diri di ruang tamu, akhirnya Agga pun pulang, dan Airin baru berani keluar dari kamar.


"Kamu benar mencintai Raffi?" tanya ayahnya mendekat ke arah Airin yang sedang duduk di ruang makan meneguk segelas air.


Airin hanya diam, dan masih mengambil air es lagi dari lemari es.


"Bagaimana dengan orangtua Raffi, apakah dia juga sudah mengetahui tentang Ringga?" tanya ayahnya lagi, Airin lalu menggeleng.


"Lalu, bagaimana jika orangtuanya tidak menerimamu? Lebih baik kau menikah dengan Dewangga, dia juga sudah mengatakan ingin bertanggung jawab," imbuh ayahnya. Airin hanya diam dan tidak menyahut, pikirannya saat ini masih kacau.


"Ayah sih, seenaknya menjodohkan Airin, sekarang ayah malah ingin Airin bersama nak Dewangga," sahut ibunya yang baru datang.


Airin menoleh ke arah ibunya yang juga masih mendesah kesal, sambil menghela nafas panjang. Kemudian memilih kembali ke kamar dan memikirkan semuanya lagi. Airin melirik ke arah laci mejanya. lalu, membukanya dan mengeluarkan buku catatan. Disana ada sebuah foto yang menggambarkan persahabatan antara dirinya dan Mona. Kemudian, secarik kertas yang terselip nomor telepon Mona.


Airin duduk, dan kemudian menekan beberapa nomor di ponselnya.


"Hallo, " sahut seseorang.


"Aku Airin, bisakah kita bertemu besok?" ujar Airin.


Setelah mendapatkan jawaban 'ya' dari Mona, panggilan itu pun berakhir.


***


Esok harinya, Airin bangun lebih awal dan bersiap. Sebelum berangkat kerja, dirinya akan mampir ke taman untuk bertemu dengan Mona.

__ADS_1


Langkah Airin berat dan gugup, padahal keduanya adalah sahabat lama. Namun, rasanya bagaikan bertemu orang asing setelah 2 tahun tidak bertemu.


Airin melihat Mona sudah duduk di bangku taman, sambil menatapnya datang dari jauh. Keduanya lalu duduk berdampingan.


Airin menoleh sesekali ke arah Mona yang terlihat murung dan tidak mengeluarkan satu kalimat pun.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Airin pada Mona. Mona hanya diam dan memberikan jawaban senyum tipis sambil tertunduk.


"Aku melahirkan bayi itu dengan selamat, maaf telah mengingkari janji," ucap Airin, Mona langsung menoleh ke arah Airin.


"Oh karena itu, Angga minta putus …, seharusnya aku sudah menduganya jika kamu memang sangat ingin bersama Angga," sahut Mona, mengernyit. Airin kemudian diam.


"Lalu kau sekarang bahagia sudah berhasil mendapatkan Angga?" ujar Mona.


"Aku tidak ingin bertengkar Mon, aku hanya ingin meminta maaf padamu kali ini dengan setulus hatiku sebagai teman yang pengecut," sahut Airin.


"Aku ingin kau ikhlaskan semuanya, karena ini takdir aku dan Angga," imbuh Airin


"Hah …," Mona menghela nafas panjang, kemudian menoleh ke arah Airin.


"Lalu kamu akan menikah dengan Angga?" tanya Mona. Airin menatap Mona dan diam sejenak.


"Apa kau merelakannya untukku?" tanya Airin. Mona tersenyum lalu menggelengkan kepala.


"Aku akan tetap merebut Angga kembali, kau tahu aku sangat cinta dengannya," sahut Mona, lalu berdiri.


"11 tahun kita bersama, dan pertemanan kita hanya berakhir karena kebodohanku mengenalkanmu dengan Angga, aku tidak akan biarkan itu, jika aku tidak memiliki Angga, aku pastikan kamu juga tidak akan memilikinya!" gertak Mona, lalu mendorong tubuh Airin.


Airin lalu bangkit dan dengan berani kemudian mendorong tubuh Mona untuk membalas. Setelah itu, Airin pun pergi meninggalkan Mona di taman.


Airin akhirnya mengetahui, jika cinta Mona masih sama untuk Angga. Namun, kali ini dirinya seakan tertantang dengan keangkuhan Mona. Sepanjang perjalanan di dalam bus, Airin memikirkan lagi tentang keinginannya. Hatinya memang sebenarnya mencintai Angga, namun selalu takut dengan Mona. Meskipun berusaha keras membuang perasaan itu dan mengalihkannya dengan mencoba mencintai Raffi. Pikirannya tetap tidak bisa berhenti memikirkan Angga.


Airin menghentikan bus, dan berhenti di halte. Kemudian, memutuskan berani keluar dari rasa takutnya kali ini. Airin menekan nomor ponsel Angga …,

__ADS_1


"Bisakah kita bertemu?" ucap Airin, ketika panggilan teleponnya diangkat oleh Angga.


__ADS_2