
Airin berlari, mendekati keranda yang terangkat di pundak 6 orang yang mengelilinginya.
"Masuklah!" ucap Kak Ikmal lirih.
Kemudian Kak Ikmal pergi mengantar jenazah menuju pemakaman umum. Sepasang mata Airin yang basah, menoleh kanan dan kiri.
"Maaf ya dek, kakak nggak bisa kasih tahu, ini amanah dari almarhum Ayah," kata Kak Dista mendekat dengan perut besarnya memeluk Airin.
Airin menangis sejadi-jadinya, berlutut di tengah jalan yang masih di penuhi para pelayat.
"Mana ibuk?" tanya Airin, menoleh kanan kiri, mencari keberadaan ibunya.
"Ada di dalam, temanilah." jawab Kak Dista, kemudian pergi bersama dengan pelayat lainnya mengantarkan kepergian ayahnya ke liang lahat.
Airin masuk ke dalam rumah dengan tubuh sempoyongan, rasa kesal dan sedihnya bercampur menjadi satu. Melihat ibunya berbaring di tempat tidur, dengan busana dan kerudung hitam.
"Ibu" ucap Airin lirih. Ibunya menoleh, kemudian dengan mata yang sama-sama basah saling menatap. Ibunya terbata-bata menjelaskan tentang kematian ayahnya Airin yang mendadak. Airin sedikit mendengar penjelasan. Pikirannya sudah carut marut. Saat ini hanya memeluk ibunya dengan erat. Sedikit memukul perlahan pundak ibunya, menyalahkan Ibunya yang tidak memberi kabar tentang kematian Ayahnya. Mungkin, jika Airin hari ini tidak pulang pun, dia tidak akan pernah tahu jika Ayahnya telah meninggalkan dia untuk selamanya.
"Ayahmu sakit," ucap ibunya terbata-bata.
"Lalu kenapa? Ibu tidak cerita, tidak mengabari. Airin ini anak ayah dan ibu, kan?" sahut Airin sedikit kesal.
"Ayahmu takut kamu banyak pikiran, apalagi kamu sedang hamil. Ayahmu takut kau terjadi apa-apa."
"Astaghfirullah, Ayah. Tega sekali Ayah pada Airin,"
__ADS_1
Airin memukul dadanya berulang kali, ikut menyalahkan dirinya. Ibunya langsung memeluknya dengan erat.
Tak cukup dengan kepedihan karena sikap suaminya, kini Airin harus menanggung kepedihan untuk kedua kalinya. Ayahnya telah berpulang ke Rahmatullah. Meninggalkan sepucuk surat maaf untuk Airin. Airin sampai tak bisa berhenti menangis, ketika membaca dalam batinnya setiap kata dan kalimat yang Ayahnya tulis untuk terakhir kalinya.
"Kamu kesini dengan Nak Angga, kan?" tanya ibunya, menoleh kanan kiri mencari keberadaan suami Airin.
Airin menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya ibunya, menarik dagu Airin dengan lembut dan melihat mata Airin.
Airin bungkam, dan ingin merahasiakan kepedihan nya di depan ibunya. Airin juga tak ingin memberikan kepedihan yang bertambah untuk keluarganya. Jika mengetahui, apa saja yang Airin alami di rumah ibu mertuanya.
"Tapi kamu bersama Ringga kan?" tanya Ibunya.
"Iya, dia ikut Kak Dista ke Makam." jawab Airin.
"Em … Angga sedang ada pekerjaan. Ringga merengek ke sini, karena itu aku mengajaknya pulang. Tapi ternyata, dia juga harus melihat kakeknya telah tiada, padahal dia sangat rindu kakeknya,"
Ibunya mendekat, mengusap kepala Airin dengan lembut. "Maafkan Ayah dan ibu,"
ucap Ibunya lirih. Airin mengangguk.
2 Jam kemudian, semua pelayat datang kembali ke rumah. Airin menyeka air matanya, keluar dari kamar ibunya untuk menjamu semua pelayat yang datang.
Kak Ikmal mendekat, memeluk Airin dan menepuk punggung Airin, mengisyaratkan untuk tabah. Sedang Ringga, datang dan langsung duduk di pangkuan Airin. Menceritakan apa yang dilihatnya saat di pemakaman. Mengira jika kakeknya sedang tertidur di dalam tanah. Airin hanya mengangguk, takut jika putranya menangis setelah mengetahui kenyataannya.
__ADS_1
Setelah beberapa pelayat pulang. Airin dan Kak Ikmal mempersiapkan acara pengajian untuk nanti malam. Kak Ikmal terus menatap Airin, seakan wajahnya penuh pertanyaan.Airin pun dengan mudah menerka apa yang ingin kakaknya tanyakan. Namun, Airin terus menghindar. Tidak ingin membuat hati kakaknya tambah hancur, ketika mengetahui kehidupan rumah tangga adiknya diatas kehancuran.
"Dek,"
Kak Dista mendekat, berdiri di samping Airin. Membantu Airin menyusun makanan di dalam dus.
"Iya," jawab Airin lirih, menundukkan kepalanya.
"Mana suamimu?" tanya Kak Dista.
"Em … sedang sibuk. Mungkin nanti malam datang," jawab Airin berbohong. Padahal, sedari kepergian dari rumah ibu mertuanya dia tidak mengabari apapun kepada Angga.
"Dek,"
Kak Dista menepuk pundak Airin. Memeluk Airin dari samping.
"Kamu bisa jujur pada kakak," ucap Kak Dista lirih.
Tangan Airin yang sebelumnya sibuk menata kue, saat ini berhenti. Air mata perlahan turun dan Airin berusaha menyekanya berulang kali. Menutupi kesedihannya dari siapapun.
"Ya sudah jika tidak bisa cerita sekarang, nanti kita bicara lagi setelah acara pengajian selesai. Ingat dek, Ayah sudah tiada, kamu bisa menceritakan permasalahanmu dengan jujur pada Kakak dan Kak Ikmal, kami siap mendengar dan membantu," ucap Kak Dista lirih.
Airin menggenggam tangan Kak Dista. Tangan dan hatinya kali ini gemetar. Air mata tak berhenti turun, kebohongan rasanya ingin di kuakkan. Agar hatinya, sedikit lega.
Airin menyentuh perut Kak Dista yang sedang hamil tua. Akhirnya dia mengurungkan niatnya lagi untuk bercerita.
__ADS_1
Airin tiba-tiba terbesit kembali ucapan Angga, yang mengatakan jika sejak pernikahan dirinya dan Angga. Masalah datang silih berganti. Seakan karma tidak cukup berhenti ketika melarikan diri saat hamil, saat ini sepertinya karma merebut Angga dari Mona di masa lalu kian terasa. Meskipun, terkadang berusaha tidak ingin menyangkut pautkan semua hal yang terjadi dalam hidupnya dengan kesalahannya di masa lalu. Tapi, ini benar-benar karma yang menyakitkan.