Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 76


__ADS_3

"Kau tahu aku lelah," ucap Airin. Menurunkan tangannya. Kemudian, berjalan sempoyongan pergi keluar dari Lobby.


Air mata sudah kering, tak tersisa lagi untuk menangisi pria yang telah membuatnya kecewa setengah mati. Langkahnya bersama Kak Ikmal tidak berhenti, meskipun Angga masih menyeru memanggil nama Airin berulang kali.


Masuk kedalam mobil, dan melihat Angga yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil berulang kali. Airin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ayo, kita pergi!" ucap Airin lantang, karena melihat Kak Ikmal yang tak kunjung menyalakan mesin mobil.


"Airin, kita bicara dulu,"


Angga masih mengetuk-ngetuk kaca jendela, dengan mata yang basah Airin bisa lihat sesaat. Namun, kali ini hatinya tidak akan terperangkap kembali.


"Aku sudah lelah," gumam Airin.


Mobil melaju pergi. Airin tahu arti dari perjalanan pulangnya ke rumah, membuatnya bulat mengambil keputusan untuk benar-benar berpisah dengan Angga.


"Kau baik-baik saja, Dek?" tanya Kak Ikmal.


Airin tidak menyahut, memilih diam dengan tatapan kosong menatap keluar jendela sepanjang perjalanan. Benar-benar air mata tidak ada yang keluar dari kelopak matanya.


"Mungkin aku terlalu kecewa, hingga rasa benciku lebih dari rasa sedihku," gumam Airin. Kak Ikmal yang mendengar, hanya menggenggam tangan kanan Airin erat.


Tengah malam, Airin tiba di Bandung. Ia singgah dan istirahat di rumah Kak Ikmal untuk sementara. Dia tidak ingin memberikan kabar buruk ini kepada ibunya. Karena takut ibunya akan merasa sangat sedih.


Melihat Ringga yang tertidur pulas di kamar, membuat Airin bergegas mendekati anaknya. Kemudian, mencium kening Ringga dan mengucapkan "Selamat tidur" dengan lirih, karena tidak ingin membangunkan tidur putranya.


"Istirahatlah di kamar Ringga, baru besok kita bahas lagi," ucap Kak Ikmal. Menepuk pundak Airin sebelum keluar dari kamar Ringga. Airin mengangguk.


Airin melepas kerudungnya, dan pergi ke kamar mandi. Jahitan di perutnya masih menyisakan rasa nyeri karena seutuhnya belum kering. Airin mengelap tubuhnya perlahan dengan handuk basah, kemudian berwudhu.


Sholat malam untuk meminta petunjuk dan ampunan dia lakukan. Di atas sajadah, air mata yang berlinang menyimpan rasa kebencian kepada suaminya. Tapi, berulang kali dia beristighfar untuk melupakan kesalahan Angga.


Sesaat berpikir, takdir yang baik tak pernah berpihak padanya. Namun, setelah beberapa saat merenung, Airin menyadari bukan takdir yang harus disalahkan, melainkan setiap hal memiliki pilihan. Dan, Airin telah memilih jalan yang salah dari awal.


Berulang kali menyalahkan Mona. Namun, kenyataannya dialah sendiri yang menjadi permasalahan dalam takdirnya. Menyesal pun, sudah percuma. Dua kali kehilangan bayinya adalah pukulan terberat yang membuat Airin akhirnya sadar. Jika memang selama ini, dirinyalah yang memaksakan takdir untuk memihak padanya.


**


Esok harinya, pagi Airin dikejutkan dengan kecupan hangat dan teriakan yang memekik di telinga dari Ringga.

__ADS_1


"Mamah," Ringga menggoyangkan tubuh Airin berulang kali, sambil terus menciumi kening Airin. Airin tersenyum, mengetahui hal itu. Namun, enggan untuk membuka matanya.


Ringga tidak berhenti hanya sekedar menggoyangkan tubuh Airin, dia hendak naik di atas dada Airin untuk memeluk. Tapi, Airin bergegas membuka mata karena menyadari jahitan di perutnya belum kering.


Airin memeluk putranya dengan erat, sambil menciumi kedua pipi Ringga yang bulat. Rasa bahagia bisa berjumpa kembali dengan Ringga. Kebahagiaan yang hilang kini kembali dalam pelukannya. Ringga adalah semangat hidupnya.


"Mamah, kapan datang?" tanya Ringga, dengan wajah cerianya.


"Tadi malam, sayang." jawab Airin.


"Mana papa?"


Ringga membuka pintu kamar, dan mencari-cari keberadaan Angga. Berteriak memanggil "Papa" berulang kali. Airin bangkit dari tempat tidur, kemudian memanggil Ringga untuk kembali ke kamar.


"Papah tidak ikut," jawab Airin, menarik tangan Ringga dan menutup pintu kamar lagi.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa,"


"Mamah bertengkar lagi dengan Papah dan Nenek?"


Ringga yang awalnya tersenyum gembira, berubah murung. Menurunkan kedua pundak, dan duduk disamping Airin.


"Ringga,"


"Iya,"


"Bagaimana kalau kita hidup berdua saja?" tanya Airin kepada putranya.


"Maksud mama?"


"Iya, tanpa Papa dan Nenek jahat. Mamah akan tinggal disini selamanya, menemani kamu."


Ringga menoleh, menatap Airin. Kemudian berdiri dan berkacak pinggang. Menggelengkan kepalanya dua kali seakan mengerti saja apa yang Airin maksudkan.


"Kasian Papa," sahut Ringga.


"Tapi … tapi Mamah sudah tidak mau tinggal bersama Papa," balas Airin, menarik kedua tangan Ringga dan kembali memeluknya.

__ADS_1


Air mata perlahan tumpah, untuk pertama kalinya Airin tidak menyembunyikan kesedihannya di depan Ringga. Meluapkan tangisannya di dada kecil Ringga.


Ringga menepuk punggung Airin, kemudian memeluk Airin dengan erat.


"Iya, mamah dan aku saja cukup," jawab Ringga.


Airin mendongak, dan menatap wajah putranya dengan mata basah.


Keputusan pun telah dibuat. Airin bertekad untuk bercerai dari Angga. Kemudian, meminta Kak Ikmal untuk membantunya mengurus surat perceraian tanpa sepengetahuan ibunya.


Airin akan memberikan kabar buruk ini, setelah benar-benar bercerai dengan Angga.


Dengan keteguhan hati, Airin mengajukan perceraian di Pengadilan. Kemudian meminta Kak Ikmal untuk mengabari Angga tentang keputusan yang Airin buat. Airin belum sanggup mendengar suara Angga. Karena baginya, sudah cukup sakit selama ini melihat tingkah suaminya. Dan, tidak ada keinginan lagi untuk mendengar suara bahkan bertemu dengan Angga lagi.


Perpisahan ini ingin dilakukan Airin tanpa keributan. Dan meminta Angga untuk memberikan hak asuh Ringga padanya. Namun, Angga menolak keras. Dia mengatakan hal itu kepada Kak Ikmal di telepon. Bagaimanapun juga Ringga adalah anak Angga. Dia tidak membiarkan perpisahan itu terjadi.


Airin tidak peduli dan tetap melayangkan gugatan. Hingga surat mediasi pun berada di tangan Airin dan Angga. Namun, Airin tetap menolak untuk mediasi. Dan meminta pengacara saja yang mengurusnya. Memberikan beberapa bukti jika selama ini Angga juga tidak pernah merawat Ringga seutuhnya. Karena Kak Ikmal lah yang dari awal menjadi orang tua dan Ayah di mata Ringga.


Airin tetap mencari cara untuk mempertahankan hak asuh Ringga. Dia mulai bekerja di toko kembali untuk bisa menjadi bukti juga mampu menghidupi Ringga tanpa seorang Angga.


Airin tidak peduli dengan teriakan, dan amarah Angga yang datang kerumah Kak Ikmal. Memintanya untuk selalu berbicara dan mencari jalan keluar. Karena kenyataannya berpisah adalah jalan yang terbaik untuk orang yang masih terbelenggu dengan masa lalunya seperti Angga dan Mona.


Hingga akhirnya tiba di Pengadilan, hari yang dinanti akan segera datang. Baik Airin dan Angga duduk di depan hakim. Palu diketuk tiga kali. Dan pernikahan pun berakhir. Angga menoleh ke arah Airin, namun Airin hanya membuang muka.


Dengan mata yang basah, Angga mendekat dan berlutut di depan Airin untuk meminta maaf. Airin menolak, dan mengabaikan kesedihan Angga.


Kemudian, Mona datang mendekat. Memeluk Angga dengan erat di hadapan Airin. Menunjukkan kepeduliannya dengan kesedihan Angga. Airin berdecak kesal, lalu pergi.


Sampai berada di pintu keluar dia bertemu dengan Raffi. Keduanya saling berjabat tangan dan tersenyum tipis. Tanpa kata, tanpa suara yang terucap. Airin menoleh kebelakang, membiarkan Raffi mengikuti arah mata dan tatapannya.


"Kau lihat itu?"


Airin mengeluarkan pertanyaan, matanya menyorot ke arah Angga dan Mona.


"Kau akan sama sepertiku, karena takdir mereka memang bersama," ucap Airin "jadi sebelum kau sama tersiksanya, lebih baik kau ambil keputusan sekarang,"


Airin melepas tangannya dari tangan Raffi. Kemudian pergi.


__ADS_1


__ADS_2